Bekasi, kalselpos.com – Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Pribahasa itu sangat tepat ditujukan pelaku kasus pembunuhan berantai yang dilakukan tiga serangkai Wowon Erawan alias Aki (62 tahun), Solihin alias Duloh (63 tahun) dan M Dede Solehudin (35 tahun).
Sebanyak sembilan orang tewas dibunuh tiga pelaku berdarah dingin ini dengan motif diduga supranatural dan sanggup menggandakan harta.
Ironisnya sembilan dari tujuh korban Wowon merupakan mertua, istri, hingga anaknya sendiri.
Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Fadil Imran
mengemukakan, ada tiga pelaku dalam kasus sekeluarga keracunan yang terjadi di Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
“Ada tiga pelaku, yaitu Wowon Erawan alias Aki, Solihin alias Duloh dan M Dede Solehudin,” kata Fadil.
Kapolda menyampaikan tidak menutup kemungkinan ada pelaku tambahan dalam kasus ini karena penyelidikan masih terus berlanjut.
Ketiga pelaku ini memilik peran yang berbeda.
Wowon berperan menyuruh melakukan pembunuhan dan pemberi dana.
Solihin berperan mencari rumah kontrakan, membeli, meracik dan memberikan racun kepada korban. Sedangkan Dede berperan membeli kopi dan menggali lubang untuk mengubur korban.
Terungkapnya kasus pembunuhan itu berawal satu keluarga yang berjumlah lima orang mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan di dalam sebuah rumah kontrakan di wilayah Ciketing Udik, Bantargebang, Kota Bekasi pada Kamis (12/1/2023) lalu.
Ada tiga korban tewas di Tempat Kejadian Perkara (TKP) yakni Ai Maemunah (istri Wowon, 40), Riswandi, 23 tahun (anak Ai Maemunah), dan Ridwan Abdul Muiz 17 tahun (anak Ai Maemunah).
Dua korban yang selamat, yakni NR (5) dan MDS (34) masih dirawat di RSUD Bantargebang, Kota Bekasi.
Anehnya, setelah peristiwa keracunan itu, Wowon sebagai suami tak kelihatan batang hidungnya. Polisi yang melakukan penelusuran kemudian menemukan Wowon di kediamannya di Cianjur. Akhirnya diketahui Wowon tidak bekerja sendiri dalam melakukan pembunuhan itu, dibantu dan Dede.
Pembunuhan berantai ini diawali Wowon menikahi Wiwin. Wiwin memiliki ibu kandung bernama Noneng yang menjadi korban pembunuhan pertama Wowon.
Setelah menghabisi nyawa mertuanya sendiri, Wowon kemudian juga membunuh Wiwin. Tidak berhenti di sana, Wowon melanjutkan aksi sadisnya. Kakek ini kembali menikahi bernama Halimah yang juga berujung dibunuh secara sadis olehnya.
Anehnya, predator tua itu lalu menikahi anak tirinya bersama Halimah yakni Ai Maimunah yang akhirnya juga menjadi korban pembunuhan di tangan Wowon.
Setelah Halimah meninggal, Wowon menikahi anaknya Halimah yaitu Ai Maimunah yang tak lain anak tirinya.
Selain membunuh Ai Maimunah, Wowon juga menghabisi tiga orang anaknya. Korban lain di luar keluarganya adalah Farida dan Siti yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Namun ketika para korban tak kunjung menerima kesuksesan yang dijanjikan, Wowon segera melaporkan ke Dulah.
“Maka Aki melaporkannya kepada Duloh, Duloh yang kemudian mengeksekusi para korban dengan mengajak para korban ke rumahnya dan kasih minum racun, dan orang yang mengetahuinya pun dianggap berbahaya dan dihilangkan,” kata Kapolda Metro Jaya, Fadil Imran.
Editor : Syaiful Anwar
Ini Motif Wowon Cs, Pelaku Pembunuhan Berantai Sembilan Orang di Bekasi
Bekasi, kalselpos.com – Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Pribahasa itu sangat tepat ditujukan pelaku kasus pembunuhan berantai yang dilakukan tiga serangkai Wowon Erawan alias Aki (62 tahun), Solihin alias Duloh (63 tahun) dan M Dede Solehudin (35 tahun).
Sebanyak sembilan orang tewas dibunuh tiga pelaku berdarah dingin ini dengan motif diduga supranatural dan sanggup menggandakan harta.
Ironisnya sembilan dari tujuh korban Wowon merupakan mertua, istri, hingga anaknya sendiri.
Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Fadil Imran
mengemukakan, ada tiga pelaku dalam kasus sekeluarga keracunan yang terjadi di Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
“Ada tiga pelaku, yaitu Wowon Erawan alias Aki, Solihin alias Duloh dan M Dede Solehudin,” kata Fadil.
Kapolda menyampaikan tidak menutup kemungkinan ada pelaku tambahan dalam kasus ini karena penyelidikan masih terus berlanjut.
Ketiga pelaku ini memilik peran yang berbeda.
Wowon berperan menyuruh melakukan pembunuhan dan pemberi dana.
Solihin berperan mencari rumah kontrakan, membeli, meracik dan memberikan racun kepada korban. Sedangkan Dede berperan membeli kopi dan menggali lubang untuk mengubur korban.
Terungkapnya kasus pembunuhan itu berawal satu keluarga yang berjumlah lima orang mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan di dalam sebuah rumah kontrakan di wilayah Ciketing Udik, Bantargebang, Kota Bekasi pada Kamis (12/1/2023) lalu.
Ada tiga korban tewas di Tempat Kejadian Perkara (TKP) yakni Ai Maemunah (istri Wowon, 40), Riswandi, 23 tahun (anak Ai Maemunah), dan Ridwan Abdul Muiz 17 tahun (anak Ai Maemunah).
Dua korban yang selamat, yakni NR (5) dan MDS (34) masih dirawat di RSUD Bantargebang, Kota Bekasi.
Anehnya, setelah peristiwa keracunan itu, Wowon sebagai suami tak kelihatan batang hidungnya. Polisi yang melakukan penelusuran kemudian menemukan Wowon di kediamannya di Cianjur. Akhirnya diketahui Wowon tidak bekerja sendiri dalam melakukan pembunuhan itu, dibantu dan Dede.
Pembunuhan berantai ini diawali Wowon menikahi Wiwin. Wiwin memiliki ibu kandung bernama Noneng yang menjadi korban pembunuhan pertama Wowon.
Setelah menghabisi nyawa mertuanya sendiri, Wowon kemudian juga membunuh Wiwin. Tidak berhenti di sana, Wowon melanjutkan aksi sadisnya. Kakek ini kembali menikahi bernama Halimah yang juga berujung dibunuh secara sadis olehnya.
Anehnya, predator tua itu lalu menikahi anak tirinya bersama Halimah yakni Ai Maimunah yang akhirnya juga menjadi korban pembunuhan di tangan Wowon.
Setelah Halimah meninggal, Wowon menikahi anaknya Halimah yaitu Ai Maimunah yang tak lain anak tirinya.
Selain membunuh Ai Maimunah, Wowon juga menghabisi tiga orang anaknya. Korban lain di luar keluarganya adalah Farida dan Siti yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Namun ketika para korban tak kunjung menerima kesuksesan yang dijanjikan, Wowon segera melaporkan ke Dulah.
“Maka Aki melaporkannya kepada Duloh, Duloh yang kemudian mengeksekusi para korban dengan mengajak para korban ke rumahnya dan kasih minum racun, dan orang yang mengetahuinya pun dianggap berbahaya dan dihilangkan,” kata Kapolda Metro Jaya, Fadil Imran.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





