kalselpos.com–Ada image di masyarakat jika kehilangan kambing dan lapor polisi, bisa jadi akan juga ikut kehilangan sapi atau kalau kehilangan sapi dan lapor polisi, bisa ikut kehilangan kandangnya.
Ungkapan itu sebagai bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian. Apalagi, akhir-akhir ini banyak kasus besar yang menerpa aparat berbaju coklat, mulai kasus pembunuhan polisi tembak polisi yang melibatkan mantan Kepala Divisi Propam Polri saat itu dipegang Ferdy Sambo.
Lalu, tragedi Stadion Kanjuruhan Malang usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya, 1 Oktober 2022 lalu yang menewaskan 132 orang dimana masyarakat menilai gas air mata yang ditembakkan polisi ke tribun Stadion Kanjuruhan memicu penonton berdesak-desakan keluar sehingga kehabisan oksigen dan meninggal.
Teranyar, Irjen Teddy Minahasa, mantan Kapolda Sumatera Barat yang diduga terlibat penjualan 5 kilogram narkoba.
Tak heran, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi), citra dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri menurun.
Kepercayaan masyarakat terhadap polisi itu sudah lama luntur. Ingat guyonan Presiden Ke-4 RI Abdurahman Wahid Gusdur.
“Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng,” kelakar Gusdur.
Kelakar Gusdur cukup menarik, terutama untuk mengetahui siapa sosok Hoegeng ?
Hoegeng dikenal sebagai sosok polisi yang terkenal akan kejujuran, anti suap, menolak korupsi dan berprestasi yang bisa jadi panutan.
Jenderal Hoegeng pernah menjabat sebagai Kepala Kapolri kelima periode 1968 sampai 1971 dan di era itu banyak pejabat pemerintah yang korup.
Jenderal Hoegeng memiliki nama lengkap Hoegeng Iman Santoso. Ia lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada 14 Oktober 1921.
Jenderal Hoegeng masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO (1934) dan menempuh sekolah menengah di AMS Westers Klassiek (1937). Setelah itu, ia belajar ilmu hukum di Rechts Hoge School Batavia tahun 1940.
Sewaktu pendudukan Jepang, Hoegeng pernah mengikuti latihan kemiliteran Nippon (1942) dan Koto Keisatsu Ka I-Kai (1943).
Selepas kemerdekaan, ia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952). Lalu menjadi Kepala Bagian Reserse Kriminil Kantor Polisi Sumatera Utara (1956) di Medan.
Tahun 1959, mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan menjadi seorang Staf Direktorat II Mabes Kepolisian Negara (1960), Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri luran Negara (1965), dan menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti tahun 1966. Kemudian pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara menggantikan Soetipto Joedodihardjo.
Jabatannya yang mentereng tak lepas dari pribadinya yang berintegritas, Hoegeng diketahui membuat beberapa terobosan dalam tubuh Kepolisian Indonesia, walau pun dirinya merupakan salah satu orang tersingkat yang mengepalai badan kepolisian nasional Indonesia dari tahun 1968–1971.
Terobosan Jenderal Hoegeng di Polri di antaranya melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Melansir arsip berita detikNews, hasilnya, struktur yang baru terkesan lebih dinamis dan komunikatif.
Selanjutnya, Perubahan Nama Pimpinan Polisi dan Markas Besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian.
Perubahan itu membawa sejumlah dampak untuk beberapa instansi yang berada di Kapolri. Misalnya, sebutan Panglima Daerah Kepolisian menjadi Kepala Daerah Kepolisian RI atau Kadapol. Demikian pula sebutan Seskoal menjadi Seskopol.
Selain itu, di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif, ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.
Selama menjadi Kapolri, Hoegeng dikenal sebagai sosok yang jujur, sederhana dan pekerja keras. Tindakan saat bekerja dan kesehariannyalah yang membuat beliau menjadi tokoh yang akan terus dikenang.
Saat dilantik sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, Hoegeng meminta istrinya yang saat itu membuka usaha toko bunga untuk menutup usahanya. Hal ini ia lakukan untuk mengurangi benturan kepentingan antara pihak yang berurusan dengan imigrasi dengan memesan bunga pada toko bunga istrinya.
Selain itu, Kapolri Hoegeng juga pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu seorang pengusaha yang terlibat kasus penyelundupan. Pengusaha itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tak dilanjutkan ke pengadilan.
Sementara Hoegeng sangat gencar memerangi penyelundupan, pengusaha itu tetap merayu Hoegeng dengan berbagai hadiah mewah yang dikirim ke alamat Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak mentah-mentah dan mengembalikan hadiahnya.
Teladan Jenderal Hoegeng bukan hanya soal kejujuran dan antikorupsi. Hoegeng juga sangat peduli pada masyarakat dan anak buahnya.
Saat sudah menjadi Kapolri dengan pangkat Jenderal berbintang empat, Hoegeng masih turun tangan mengatur lalu lintas di perempatan. Hoegeng berpendapat seorang polisi adalah pelayan masyarakat. Dari mulai pangkat terendah sampai tertinggi, tugasnya adalah mengayomi masyarakat.
Pada saat mendapat perintah pindah tugas ke Sumatera Utara tahun 1955, Hoegeng mendapat tugas berat untuk memberantas penyelundupan dan perjudian di daerah tersebut.
Ironisnya, baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya. Utusan itu menyampaikan selamat datang untuk Hoegeng. Tak lupa, dia juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha.
Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia. Bahkan saat rumah dinasnya sudah tersedia, rumah dinasnya sudah penuh barang-barang mewah. Mulai dari kulkas, piano, tape hingga sofa mahal.
Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Kukuh dengan integritasnya, Hoegeng memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah. Bagi Hoegeng itu lebih baik daripada melanggar sumpah jabatan dan sumpah sebagai polisi Republik Indonesia.
Hoegeng telah membuktikan dirinya memang tidak bisa dibeli. Sejak menjadi perwira polisi di Sumatera Utara, Hoegeng terkenal karena keberanian dan kejujurannya.
Dia tak sudi menerima suap sepeser pun. Barang-barang hadiah pemberian penjudi dilemparkannya keluar rumah. Kata-kata mutiara yang terkenal dari Hoegeng adalah, “Baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik.”
Kelahiran Jenderal Hoegeng pada 14 Oktober 1921 menjadi sosok inspirasi bagi banyak orang. Salah satunya, namanya diabadikan dalam Hoegeng Awards,
Penghargaan kepada sosok polisi dengan tiga kategori, yaitu Polisi Berintegritas, Polisi Inovatif, dan Polisi Berdedikasi.
Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Bhayangkara di Mamuju dengan nama Rumah Sakit Bhayangkara Hoegeng Iman Santoso dan namanya juga diabadikan sebagai nama stadion sepak bola di Kota Pekalongan dengan nama Stadion Jenderal Hoegeng.
Di luar dinas kepolisian Hoegeng terkenal dengan kelompok pemusik Hawaii, The Hawaiian Seniors, selain ikut menyanyi juga memainkan ukulele.
Kegiatan Hoegeng tersebut sempat ditampilkan di TVRI, namun kemudian dicekal oleh Pangkopkamtib Laksamana Sudomo dengan alasan tidak sesuai dengan kepribadian Bangsa Indonesia.
Setelah pencekalan itu, Hoegeng lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkebun di kebunnya yang kecil di seputaran Jonggol, Bogor.
Selain berkebun ia juga kerap menghabiskan waktunya untuk melukis, hobi yang sudah ia lakukan sejak ia masih muda. Gaya lukisannya cenderung naturalis. Mulanya ia gemar melukis potret manusia, namun lama kelamaan lebih sering melukis pemandangan dan bunga. Semasa masih menjabat sebagai Kapolri, ia menolak menjual lukisanya. Namun setelah pensiun, Hoegeng baru mau menjual karya-karyanya untuk keperluan pribadi atau untuk keperluan sosial.
Hoegeng wafat di Jakarta pada tanggal 14 Juli 2004 dalam usia 82 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giri Tama, Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com





