BANJARMASIN, Kalselpos.com — Memasuki penghujung Ramadan 1447 Hijriah, geliat ekonomi di Festival Pasar Wadai Ramadan 2026 di kawasan Nol Kilometer Banjarmasin menunjukkan lonjakan signifikan. Perputaran uang bahkan diklaim telah mencapai Rp13,7 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di angka Rp12,3 miliar.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Banjarmasin, Ibnu Sabil, mengungkapkan angka tersebut masih berpotensi terus bertambah. Tingginya antusiasme masyarakat yang memadati kawasan pasar setiap sore hingga malam menjadi pendorong utama.
“Total perputaran uang diproyeksikan bisa menembus sekitar Rp15 miliar saat penutupan nanti,” ujarnya, Senin (17/3/2026).
Menurut Sabil, capaian ini menjadi sinyal positif meningkatnya daya beli masyarakat sekaligus besarnya minat terhadap kuliner khas Banjar.
“Pasar Wadai Ramadan bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga berperan sebagai motor penggerak ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM,” tandasnya.
Namun di balik gemerlap transaksi miliaran rupiah tersebut, kondisi di lapangan justru memunculkan berbagai persoalan yang tak bisa diabaikan. Sejumlah pengunjung mengeluhkan minimnya fasilitas sanitasi, terutama WC umum, serta pengelolaan sampah yang dinilai masih amburadul.
Selain itu, kesemrawutan Pedagang Kaki Lima (PKL) turut menjadi sorotan, membuat kenyamanan pengunjung terganggu. Tak berhenti di situ, isu jual beli lapak hingga tarif parkir yang disebut-sebut mencapai Rp10 ribu ikut memantik keluhan publik.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi Disbudporapar bersama event organizer (EO) selaku penyelenggara. Evaluasi menyeluruh dinilai mendesak agar kesuksesan secara ekonomi tidak dibayangi persoalan klasik yang terus berulang setiap tahun.
Jika tidak segera dibenahi, lonjakan transaksi yang membanggakan ini dikhawatirkan hanya menjadi euforia sesaat tanpa dampak berkelanjutan bagi kualitas penyelenggaraan di masa mendatang.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





