Jayapura, kalselpos.com – Komitmen mewujudkan Indonesia aman, sehat, resik, indah (ASRI) di Papua terus diperkuat lewat kolaborasi pemerintah, pengelola fasilitas publik, dan komunitas lingkungan karena isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga pengelolaan sampah.
Untuk itu, dalam menghadapi tantangan pelestarian hutan serta pengelolaan sampah yang kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, maka dibutuhkan kolaborasi yang kuat.
Sampah berasal dari aktivitas manusia, penyelesaiannya membutuhkan perubahan perilaku kolektif. Karena tanpa sistem yang kuat dan perubahan perilaku masyarakat, maka persoalan sampah berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang serius.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Yaconias Maintindom mengatakan bahwa timbunan sampah di Papua terus meningkat dan membutuhkan perencanaan terpadu.
Berdasarkan perhitungan jumlah penduduk di sembilan kabupaten dan kota, yakni 1,07 juta jiwa pada 2025, dengan asumsi produksi sampah 0,4 kilogram per orang per hari, maka total sampah di Provinsi Papua diperkirakan mencapai sekitar 477 ton per hari. Angka yang besar tersebut harus dikelola secara serius oleh seluruh kabupaten dan kota serta lapisan masyarakat.
Oleh sebab itu salah satu langkah strategis yang sedang disiapkan pemerintah adalah penyusunan peta jalan pengelolaan sampah di Papua.
“Dokumen ini akan memuat data timbunan sampah dari seluruh kabupaten/kota, strategi pengurangan, pengangkutan, pengolahan, hingga pengawasan. Untuk itu setiap kabupaten dan kota harus menghitung dengan benar berapa jumlah sampah yang mereka kelola. Dari data tersebut bisa menyusun kebijakan yang tepat sasaran,” kata Maintindom.
Diakui bahwa sektor lingkungan hidup masih menghadapi keterbatasan anggaran, bahkan, di beberapa daerah, alokasi untuk pengelolaan lingkungan tergolong sangat minim. Meskipun demikian, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk tidak bertindak.
Perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana di rumah tangga, yakni memilah sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik dan nonorganik yang masih tercampur membuat proses pengolahan menjadi sulit dan tidak efisien.
Bagi Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, hal itu dapat dimulai dari sampah rumah tangga. Jika sampah organik dipisahkan, bisa menjadi pupuk atau pakan ternak. Plastik dan nonorganik lainnya bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomi.
Karena itu, kunci utama penanganan sampah tetap pada tingkat kesadaran dan kapasitas sumber daya manusia di tingkat rukun tetangga (RT), rukun warga (RW), dan kampung.
Pemprov Papua mengingatkan agar dana kampung tidak hanya difokuskan pada infrastuktur, namun juga dialokasikan dalam upaya membangun kesadaran lingkungan. Tempat yang bagus akan percuma jika lingkungannya buruk, sehingga semuanya harus ditangani secara seimbang.
Pihaknya sangat berharap kepala-kepala kampung juga melihat persoalan sampah sebagai isu penting. Kalau edukasi sampai ke tingkat bawah, perubahan itu akan lebih cepat. Apalagi, saat ini, pemerintah daerah di kabupaten dan kota hampir semua telah memiliki pengelolaan limbah sampah, tinggal bagaimana ke depan lebih digencarkan lagi.
Penjabat Sekretaris Daerah Papua Christian Sohilait mengingatkan bahwa pada 21 Februari, pihaknya telah memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, sebagai sarana refleksi dan momentum agar semua pemangku kepentingan sadar bagaimana mewujudkan Indonesia ASRI di Papua.
Beberapa langkah yang didorong oleh Pemprov Papua, antara lain kerja bakti rutin setiap hari Jumat di perkantoran. Langkah itu, kemudian dilanjutkan untuk rumah ibadah, sekolah, pasar, kampung, dan pesisir pantai. Wujudnya adalah pembersihan saluran air dan sungai, serta penanaman pohon peneduh dan pemanfaatan pekarangan rumah dengan tanaman produktif bernilai ekonomi.
Hal yang masih menjadi tugas bagi pemerintah, baik provinsi, kabupaten dan kota, adalah bagaimana sosialisasi terkait pemilahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (3R) yang masih perlu terus diperkuat di tingkat rumah tangga.
Kolaborasi hijau
Ketua Komunitas Guardian Hollo Sentani Boy Kallem yang bergerak pada kegiatan penanaman pohon dan reboisasi, khususnya di kawasan Pegunungan Cycloop dan daerah aliran sungai, mengatakan bahwa persoalan sampah bukan perkara mudah. Untuk itu, kolaborasi hijau harus terus digalakkan karena limbah akan terus ada setiap hari.
Bagi dia, perubahan harus dimulai dari diri sendiri, sebelum menuntut orang lain.
“Mari mulai dari hal kecil di rumah. Jika hal ini dijalankan secara konsisten, maka dampaknya akan besar bagi lingkungan dan generasi mendatang,” katanya.
Mewakili masyarakat, dia mengakui bahwa berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dan masyarakat menunjukkan bahwa mewujudkan Indonesia ASRI di Papua membutuhkan kolaborasi hijau lintas sektor. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan dan regulasi, lalu fasilitas publik menerapkan pengelolaan berkelanjutan, sementara komunitas mendorong partisipasi dan edukasi di akar rumput.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi dan memastikan setiap kebijakan benar-benar dijalankan, sehingga peta jalan pengelolaan sampah harus diikuti dengan penguatan anggaran, peningkatan kapasitas petugas kebersihan, serta pengawasan yang ketat.
Lebih dari itu, membangun budaya peduli lingkungan menjadi pekerjaan jangka panjang. Edukasi sejak usia dini di sekolah, kampanye publik, hingga keteladanan aparatur pemerintah menjadi kunci agar kesadaran tidak hanya muncul saat peringatan hari besar.
Sementara itu Bandara Internasional Sentani Airport Facility, Department Health Bandara Internasional Sentani, Harrys Hutahaean, mengatakan volume sampah di bandara mencapai sekitar 3 ton per hari, dengan sekitar 40 persen berupa sampah organik.
Untuk itu upaya pengelolaan sampah telah dilakukan. Sampah yang terkumpul dipilah menjadi organik dan nonorganik, kemudian diangkut oleh tim khusus ke TPS, sebelum dikirim ke tempat pembuangan akhir. Sampah yang masih memiliki nilai guna, didorong untuk didaur ulang melalui kerja sama dengan UMKM dan bank sampah.
Tingginya persentase sampah organik menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi menimbulkan bau dan penumpukan, jika tidak segera ditangani. Sebagai bandara internasional, pengelola berupaya menjaga kebersihan dan estetika kawasan, demi kenyamanan penumpang dan kelancaran operasional.
Pihaknya menyediakan tempat sampah di berbagai titik strategis, mulai dari terminal penumpang, area operasional, perkantoran, hingga kargo. Saat ini terdapat tiga tempat pembuangan sementara (TPS) di kawasan bandara, serta sekitar 10 drop box untuk memudahkan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Selain pengelolaan sampah, bandara itu juga menerapkan konsep ramah lingkungan melalui penggunaan sistem skylight pada bangunan terminal. Sistem ini memungkinkan cahaya Matahari masuk secara maksimal pada siang hari, sehingga mengurangi konsumsi listrik.
Langkah ini bukan hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah secara ekonomi dan mendukung keberlanjutan operasional penerbangan di Papua.
Dengan terus memperkuat gerakan kolektif menuju Papua yang bersih, hijau, dan harmonis, melalui pengelolaan sampah yang baik, penghijauan yang konsisten, serta partisipasi aktif masyarakat, cita-cita Indonesia ASRI di Bumi Cenderawasih akan mudah diwujudkan.
Lingkungan yang bersih dan sehat adalah hak setiap warga negara. Di Papua, langkah menuju masa depan yang cerdas, sejahtera, dan harmonis tengah dibangun melalui aksi nyata, dimulai dari rumah, kampung, fasilitas publik, hingga kebijakan tingkat provinsi. Semua dilaksanakan dalam kolaborasi sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store




