Diduga diperjualbelikan, Lapak Wadai berubah Aksesoris di malam hari 

Teks foto : Pasar Wadai Ramadan Banjarmasin berganti komoditas menjadi kebutuhan non-kuliner seperti aksesoris handphone, mainan hingga peci.(kalselpos.com)

BANJARMASIN, Kalselpos.com – Perhelatan Festival Pasar Wadai Ramadan di kawasan Siring Nol Kilometer, Banjarmasin. Isu jual beli lapak mencuat ke publik setelah sejumlah pengunjung mendapati kejanggalan.

 

Bacaan Lainnya

Lapak kuliner yang siang menjajakan kue dan minuman berbuka, mendadak berubah fungsi saat malam hari.

 

Indikasi tersebut terkuak ketika beberapa stan yang awalnya menjual jajanan Ramadan, tiba-tiba berganti komoditas menjadi kebutuhan non-kuliner seperti aksesoris handphone, mainan hingga peci.

 

Bahkan, penjaganya pun disebut berbeda.

Yani, warga Pemurus Dalam, mengaku terkejut saat kembali berkeliling di malam hari.

 

“Awalnya saya dan teman-teman beli kue untuk berbuka. Tapi malamnya, lapaknya berubah jualan mainan, aksesoris handphone dan peci. Orang yang jual juga beda,” ujar Yani, Kamis (26/2/26) malam.

 

Fenomena ini memicu dugaan adanya praktik jual beli lapak yang melanggar ketentuan penyelenggaraan Pasar Wadai, yang sejatinya dikhususkan bagi pedagang kuliner Ramadan.

 

Menanggapi hal tersebut, Project Manager Event, Muhammad Budiansyah, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia memastikan pengawasan akan diperketat dan sanksi tegas siap dijatuhkan jika praktik tersebut terbukti.

 

“Kalau terbukti ada pemilik stan menjual lapaknya, akan langsung kami stop berjualan hari itu juga dan diblacklist untuk tahun berikutnya,” tegasnya.

 

Tak hanya itu, sanksi denda sebesar Rp5 juta juga menanti pelanggar. Dana hasil sanksi tersebut, menurutnya, akan dialokasikan untuk kegiatan sosial seperti santunan anak yatim.

 

Di sisi lain, persoalan lain turut mencoreng wajah festival tahunan ini. Sepanjang badan jalan kawasan pasar kini dipenuhi pedagang kaki lima (PKL), menciptakan kesan semrawut dan minim penataan.

 

Alih-alih ditertibkan, para PKL justru diberi ruang berjualan dengan tarif Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari.

 

Budiansyah tak menampik kondisi tersebut. Ia menyebut lokasi khusus PKL sebenarnya telah disiapkan di depan Kantor Korem 101/Antasari. Namun karena lonjakan pengunjung, area itu kini difungsikan sebagai lahan parkir.

 

“Kami sudah berkoordinasi dengan Wali Kota dan diminta untuk mengakomodir para PKL agar tetap bisa mencari rezeki di bulan Ramadan, tapi dengan penataan yang lebih rapi,” pungkasnya.

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait