Banjarmasin, kalselpos.com – Bank Kalsel menggelar Media Gathering bersama jurnalis dari berbagai wilayah Kalimantan Selatan, di Bali, Kamis (16/10/2025). Menghadirkan Mustafa Silalahi, jurnalis senior dari Tempo, sebagai narasumber utama.
Acara ini mengangkat tema “Media Sebagai Katalis Demokrasi: Penangkal Disinformasi dan Penjaga Transparansi”.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog penting antara insan pers dan lembaga keuangan daerah untuk memperkuat sinergi dalam menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan publik.
“Media bukan hanya menyampaikan kabar, tapi juga membentuk cara berpikir masyarakat. Di era digital, jurnalis punya tanggung jawab moral untuk menjaga nalar publik tetap waras dan kritis,” tegas Mustafa Silalahi di hadapan puluhan peserta media gathering.
Dalam paparannya, Mustafa mengungkapkan, saat ini media massa tengah menghadapi disrupsi besar akibat dominasi media sosial. Berdasarkan data, pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai 143 juta orang, atau sekitar 50,2 persen dari total populasi.
Namun, peningkatan akses ini juga membawa tantangan serius seperti, penyebaran informasi palsu (hoaks) semakin masif, masyarakat terbelah oleh narasi yang tidak berdasar dan Buzzer politik menjamur dan membentuk opini tanpa data
juga Diskursus kritis di ruang publik kian memudar
Survei LP3ES pada 2021 pun menunjukkan betapa kuatnya pengaruh buzzer dalam membentuk opini publik di media sosial tanpa dasar jurnalistik.
Mustafa menyampaikan bahwa media massa yang kredibel dan profesional tetap menjadi andalan untuk menjaga kualitas demokrasi. Berdasarkan data Dewan Pers 2024, saat ini terdapat 1.800 media massa terverifikasi, terdiri dari 1.015 media siber, 442 media cetak, 377 stasiun televisi dan 18 radio.
Secara keseluruhan, terdapat lebih dari 51.000 media aktif di Indonesia, dengan distribusi merata hingga ke daerah-daerah.
Namun menurutnya, kuantitas media saja tidak cukup jika tidak diimingi dengan komitmen pada jurnalisme berkualitas.
“Jurnalis hari ini harus lebih dari sekadar pelapor. Mereka harus jadi penafsir, pendidik, dan penjaga akal sehat masyarakat. Media tidak boleh kalah oleh kecepatan media sosial, tapi harus menang dalam akurasi dan makna,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Mitra Damayanti, menyampaikan apresiasi terhadap peran jurnalis dalam mengawal transparansi, khususnya di sektor keuangan daerah.
Melalui media gathering ini, Bank Kalsel berharap hubungan antara media dan institusi keuangan dapat terus diperkuat melalui komunikasi terbuka dan informasi yang akurat.
“Kami percaya, media yang kuat dan profesional akan turut mendorong akuntabilitas dan kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan seperti kami,” ujarnya.
Mustafa pun menutup sesi dengan menegaskan pentingnya kembali pada prinsip dasar jurnalistik harus menjaga akurasi & keberimbangan, menghindari sensasi, juga patuh pada Kode Etik Jurnalistik, menghasilkan karya investigasi dan liputan mendalam serta berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
“Di tengah hiruk-pikuk informasi, media massa adalah penjaga nalar. Demokrasi tidak akan sehat tanpa media yang sehat,” pungkas Mustafa.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





