Penjualan Motor Listrik di Kalsel Lesu, DPRD : Harga Servis dan Nilai Jual jadi Kendala

Teks foto : H Firmansyah SP,(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com

– Tren penjualan motor listrik di Kalimantan Selatan yang sempat menjanjikan pada akhir 2022 kini justru mengalami penurunan drastis. Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan dari Fraksi Gerindra, H Firmansyah SP, menilai salah satu persoalan utama yang membuat masyarakat enggan membeli motor listrik adalah tingginya biaya pemeliharaan dan rendahnya nilai jual kembali.

Bacaan Lainnya

 

“Selain faktor desain dan kualitas, persoalan lain adalah biaya servis maupun suku cadang motor listrik yang relatif lebih mahal di bandingkan motor konvensional berbahan bakar BBM. Kondisi ini diperparah lagi dengan harga jual unit bekas yang jatuh drastis,” ujar Firmansyah, Sabtu (11/10).

 

Ia menyebut, masyarakat di Kalsel masih lebih percaya membeli motor konvensional meski dalam kondisi bekas. Hal ini karena harga yang lebih kompetitif serta ketersediaan suku cadang dan perawatan yang jauh lebih murah.

 

Lesunya pasar motor listrik tidak hanya terjadi di Kalimantan Selatan, tetapi juga secara Nasional. Hingga pertengahan 2025, penjualan motor listrik di Indonesia turun sekitar 20–30 persen.

 

Kondisi ini dipengaruhi oleh ketidakpastian subsidi motor listrik yang belum diberikan pemerintah sejak awal 2025. Akibatnya, produsen terpaksa mengurangi produksi karena stok menumpuk di pabrik maupun dealer.

 

Dengan belum adanya kepastian subsidi hingga Oktober 2025, penjualan diperkirakan akan terus menurun hingga akhir tahun.

 

Padahal, menjelang tahun 2023, penjualan motor listrik di Banua sempat menunjukkan tren positif. Hadirnya dealer resmi berbagai merek seperti ECGO Bike, BF Goodrich dan SMOOT, serta bengkel konversi motor listrik pertama di Banjarmasin yang diresmikan Gubernur Kalsel, sempat menjadi sinyal dukungan kuat bagi perkembangan kendaraan ramah lingkungan ini.

 

Namun, seiring melemahnya daya beli masyarakat dan kendala teknis seperti terbatasnya infrastruktur pengisian daya, jarak tempuh, hingga rendahnya nilai jual kembali, penjualan motor listrik kini kembali tertekan.

 

“Kalau persoalan-persoalan ini tidak segera diatasi, motor listrik akan sulit bersaing dengan motor konvensional di lapangan,” tegas Firmansyah.

 

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait