Petani Cabai Rawit di HST Keluhkan Harga Jual yang Anjlok 

Teks foto: Muhammad Yusup petani cabai rawit di Kabupaten HST sedang memelihara tanaman agar terhindar dari hama. (Anas Aliando(kalselpos.com)

Barabai, kalselpos.com – Petani cabai rawit di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mengeluh. Harga cabai dalam seminggu terakhir anjlok di pasaran. Salah satu penyebabnya, pasokan melimpah dan masuknya cabai dari Sulawesi.

 

Bacaan Lainnya

Muhammad Yusup, salah satu petani cabai rawit mengatakan, 10 hari yang lalu harga cabai ditingkat pengumpul masih Rp45 ribu per kilogram. Namun itu hanya beberapa hari, harga cabai kembali turun menjadi Rp25 ribu.

 

“Kalau harga segini, kami akan rugi. Idealnya harga cabai minimal Rp35 ribu. Ini masih ada keuntungan. Kalau di bawah itu, kami tidak mendapatkan untung. Hanya cape yang didapat,” ujarnya kepada Kalsel Pos, Sabtu (4/10) di Barabai.

 

Yusup pun berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib petani cabai. Misalnya dengan membeli cabai manakala harganya dibawah standar seperti saat ini.

 

“Kalau padi, pemerintah sudah ada menetapkan standar harga terendah. Kami berharap untuk cabai juga seperti itu,” harapnya.

 

Dia utarakan, selama ini petani cabai di HST masih minim pembinaan dari PPL. Mereka seakan dibiarkan berkebun cabai seadanya tanpa bimbingan.

 

“Kami berharap ada bimbingan bagaimana cara tanam cabai yang baik. Karena cabai ini sangat rawan terkena penyakit seperti antrak, busuk daun dan batang,” katanya.

 

Untuk bertanam cabai rawit 1.000 batang, beber Yusup, sedikitnya memerlukan modal Rp10 juta. “Modal tidak sedikit, harga pupuk dan obat-obatan mahal, pemeliharaan juga sangat rumit, apalagi saat musim hujan. Bayangkan kalau harganya anjlok, bagaimana kami tidak rugi,” ucapnya memelas.

 

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait