Barabai, kalselpos.com – Seniman lamut atau biasa disebut palamutan, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) makin langka, bahkan nyaris punah. Di kabupaten yang terkenal dengan “gudang seniman” ini hanya menyisakan satu palamutan.
Kasi Kesenian dan Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten HST, Masruswian
mengatakan, meskipun belum dilakukan pendataan palamutan secara resmi, namun dari hasil pemantauan yang dilakukan, palamutan di HST hanya satu orang.
“Palamutan di HST tinggal satu, yakni Muhammad Ferian Sadikin yang tinggal di Barabai Darat. Menariknya dia seorang pemuda atau kalangan milenial,” ujarnya kepada Kalsel Pos, Rabu (1/10) di Barabai.
Kenapa Palamutan makin langka?. Salah satu penyebabnya adalah, seni lamut masih kurang diketahui alias kurang familiar terutama di kalangan gen Z. Beda dengan Madihin yang makin terus diminati.
“Maka kami membuat program Lamut masuk sekolah. Tujuannya agar kesenian ini bisa diketahui dan dikenalkan kepada siswa, dan diharapkan mereka bisa tertarik,” katanya.
Kesenian Lamut dan Madihin, beber Masruswian, tidaklah sama. Karena lamut mempunyai pakem tersendiri. “Karena itulah kami terus melakukan enovasi agar kesenian lamut ini bisa menyesuaikan dengan selera gen Z. Tentunya dengan tanpa merubah pakem,” ujarnya.
Dia menambahkan, Pemkab HST terus mengembangkan kesenian baik sastra, musik dan tari. “Nah lamut ini termasuk dalam kesenian sastra. Dengan adanya Taman Budaya, maka ruang untuk belajar seni di HST makin terbuka, terutama untuk generasi muda,” harapnya.
Kesenian Lamut adalah seni tutur tunggal khas masyarakat Banjar yang berbentuk penceritaan lisan, mirip teater dengan satu orang seniman (palamutan) sebagai narator sekaligus pemeran.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





