Barabai, kalselpos.com – Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) selain terkenal dengan kemasyhuran ulamanya juga dikenal dengan provinsi seribu datu (sebutan bagi tokoh masyarakat, tetua berpengaruh dan disegani pada zamannya, red). Hampir di tiap kabupaten/kota, bisa ditemukan makam datu.
Di kabupaten HST, terdapat puluhan makam datu, salah satunya Datu Kalaka yang bermakam di kampung Kalaka, Desa Satiap, Kecamatan Pandawan, 25 Km sebelah barat Kota Barabai.
Lokasi makam hanya 20 meter dari jalan desa. Makam berkubah dengan atap seng dan dipenuhi kain kuning yang diletakkan para peziarah yang mengambil berkah. Di dekat makam Datu Kalaka, juga ada makam istrinya dan makam Datu Barabai.
Siapa Datu Kalaka?, menurut informasi yang dikumpulkan Kalsel Pos dari salah satu tokoh masyarakat kampung Kalaka bernama Hamdan mengatakan, tidak ada seorang pun yang tahu kapan Datu Kalaka wafat. “Diperkirakan sudah ratusan tahun. Karena menurut cerita dari datu nenek kami, makam Datu Kalaka sudah lama ada.
Jauh sebelum datu nenek kami lahir,” ujarnya, Ahad (28/9) di Satiap.
Tak ada satupun catatan sejarah yang bisa diambil mengenai sepak terjang dan riwayat hidup Datu Kalaka. Cerita hanya mengalir dari mulut ke mulut sejak jaman bahoela sampai hari ini. “Mungkin seperti dongeng atau legenda, tapi kami meyakini Datu Kalaka itu nyata adanya,” kata Hamdan.
Menukil cerita dari nenek buyutnya, Hamdan yang berprofesi sebagai petani itu menguraikan, Datu Kalaka bukan manusia biasa. Tubuhnya sangat tinggi, melebihi pohon kelapa. Lebar dada sekitar tujuh hasta dengan kekuatan luar biasa. “Tubuhnya bagaikan raksasa, itu cerita dari datu nenek kami. Kalau ngambil kelapa tak perlu di panjat, cukup dipetik saja,” beber Hamdan.
Di masa penjajahan Belanda sekitar abad 17 – 18, Datu Kalaka adalah sosok yang sangat ditakuti. Belanda tidak bisa masuk ke Kampung Kalaka karena takut, hilang nyali meski bersenjata. “Datu Kalaka pernah menyatukan dua rumpun bambu dijadikan ayunan. Belanda mengira, yang berayun itu seorang bayi raksasa, karena dia duduk seperti kelakuan bayi. “Bayinya sudah sebesar ini, bagaimana dengan orangtua si bayi, tentu lebih besar lagi. Kata penjajah Belanda sambil lari tunggang langgang,” ujar Hamdan sambil tertawa kecil.
Yang sangat unik, kata Hamdan, Datu Kalaka di kubur secara tidak wajar seperti manusia pada umumnya. “Karena badan beliau sangat besar dan tinggi, maka masyarakat yang mengubur sangat susah. Diputuskan agar mudah, tubuh datu Kalaka dilipat tiga agar mudah dimasukkan ke liang lahat,” cerita Hamdan.
Makam Datu Kalaka masih sering dikunjungi peziarah. “Yang berziarah tidak saja dari seputaran Kabupaten HST, juga ada yang datang dari provinsi tetangga, Kaltim dan Kalteng, bahkan ada juga yang datang dari luar pulau,” ujar Hamdan.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





