Agustan Saining: Pendapatan Daerah Kalteng dari Sektor Kehutanan Mulai Menurun

Teks foto: Kadishut Provinsi Kalteng, H Agustan Saining, S.Hut. (ist)(kalselpos.com)

Palangka Raya, kalselpos.com – Pendapatan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dari sektor kehutanan mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam lima tahun terakhir. Hal tersebut disebabkan oleh melesunya permintaan terhadap pasokan pengiriman kayu, baik dari luar negeri maupun daerah lain.

 

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Provinsi Kalteng, Agustan Saining, S.Hut menyebutkan bahwa hingga Juli 2025, pendapatan Kalteng dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBH-DR) yang diterima dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia mencapai sekitar Rp120 miliar.

 

“Setiap tahunnya, rata-rata Rp200-250 miliar DBH-DR untuk sektor kehutanan itu untuk Pemprov Kalteng, namun saat ini pemasukan daerah dari sektor kehutanan cenderung menurun. Dulu, pendapatan bisa mencapai Rp 300-400 miliar,” ungkap Kadishut Kalteng saat diwawancara awak media di Palangka Raya, Selasa (2/9/2025).

 

Kadishut yang akrab disapa Agustan ini menjelaskan bahwa penurunan pendapatan dari sektor kehutanan ini sudah berlangsung sejak tahun 2020. Ia menyoroti bahwa permintaan kayu yang sebelumnya tinggi kini berkurang, terutama karena banyak produk kayu yang digunakan masyarakat telah tergantikan oleh bahan alternatif.

 

“Adanya penurunan permintaan pasokan kayu dari wilayah Kalteng dikarenakan permintaan kayu dari luar negeri atau daerah lain yang sebelumnya sangat cukup besar. Hal ini disebabkan barang-barang yang terbuat dari kayu sudah tergantikan, seperti plywood diganti dengan kalsiboard, dan lain-lain,” sebutnya.

 

Meskipun terjadi penurunan pasokan kayu dari Kalteng, Agustan memastikan bahwa aktivitas di sektor perkayuan masih berjalan cukup baik.

 

“Alhamdulillah, aktivitas di lapangan masih ada untuk sektor perkayuan. Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) masih jalan, Hutan Tanaman Industri (HTI) juga masih berjalan, hanya saja tidak maksimal,” ujarnya.

 

Dengan kondisi ini Agustan berharap pemerintah daerah mampu mencarikan solusinya untuk meningkatkan permintaan dan pendapatan dari sektor kehutanan demi keberlanjutan ekonomi di daerah Kalteng tentunya.

 

Sektor kehutanan dari yang penghasil dirubah menjadi non kayu, seperti hutan wisata, kebun raya dan tahura, dari hasil pantauan di lapangan selama ini wisata hutan juga banyak yang rusak tidak dikelola secara optimal karena pihak pengelola para rimbawannya masih menggunakan mindset lama.

 

Untuk itu ia menghimbau kepada para rimbawan di wilayah Kalteng agar lebih cermat dan lebih kreatif lagi dalam menyiasati program-program kerja di sektor kehutanan disaat situasi tidak menentu ini.

 

“Dengan kondisi pendapatan dari sektor kehutanan mulai menurun oleh karena permintaan kayu melesu diharapkan perusahaan yang saat ini masih beroperasi di sektor kehutanan juga tidak menggunakan mindset lama pula,” tukasnya.

 

 

Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store

Pos terkait