BANJARMASIN, kalselpos.com– Menekan angka kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Banjarmasin sosialisasi siswa tentang bullying, Perlindungan Perempuan dan Anak (Besty PPA) di Kota Banjarmasin, dikawasan SMA 5 Banjarmasin, Rabu (06/08/25).
“Ini bagian dari inovasi Kami melihat adanya benang merah, kesenjangan yang belum teratasi di sekolah-sekolah terkait isu bullying. Maka, kami hadir membantu guru dan siswa untuk mencegah sejak dini,” ungkap Kepala DP3A Banjarmasin, M. Ramadhan.
Program ini dikemas dengan pendekatan ringan dan menyenangkan, namun tetap menyentuh substansi penting soal bullying, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta perlindungan yang dibutuhkan.
“Inovasi ini bagian dari dukungan terhadap Banjarmasin sebagai Kota Layak Anak. Jadi, kami masuk ke ranah siswa dengan frekuensi mereka, bahasanya mereka, supaya penyampaiannya nyambung,” jelasnya.
Sosialisasi kali ini melibatkan 60 siswa dan ada 20 perwakilan sekolah tingkat SLTP sederajat, ditambah perwakilan remaja masjid dan Karang Taruna.
“Setiap sekolah mengirimkan 3 siswa yang nantinya akan menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” katanya.
“Mereka kami bekali untuk memahami apa itu bullying, bagaimana mencegahnya, menengahi bila terjadi, hingga melaporkan jika ada kekerasan yang harus ditangani serius. Harapannya mereka tumbuh jadi generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.” sambungnya.
Sementara itu, Zidan siswa SMPN 24 Banjarmasin mengakui, acaranya bagus dan memberikan edukasi kepada siswa, terutama soal bullying dan perlindungan terhadap anak.
“Kegiatan ini membuat kami lebih berani untuk melawan bullying, dan tidak takut lagi untuk membela teman atau melapor ke guru atau pihak sekolah kalau melihat atau mengalami bullying,” katanya.
Selama ini banyak juga bentuk bullying yang dialami, terutama secara verbal atau sindiran.
Namun, dari acara ini, bahwa penting sekali bagi siswa sebagai pelajar untuk berani bersuara, jangan diam saja kalau dibully.
“Kita harus berani melapor, karena diam itu bukan solusi. Dan kita juga harus saling mendukung teman yang mengalami bullying.”ungkapnya.
“Contohnya kayak dibilang badan rendah atau gigi tonggos itu memang terasa menyakitkan, walaupun kadang dikira bercanda. Untuk bullying fisik, saya tidak pernah melihat sendiri di sekolah,” pungkasnya.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





