Banjarbaru, kalselpos.com – Tingginya angka putus sekolah di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi sorotan tajam anggota Komisi IV DPRD Kalsel, Habib Umar Hasan Alie Bahasyim. Ia menegaskan, masalah Anak Tidak Sekolah (ATS) ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut karena menyangkut masa depan generasi penerus bangsa.
“Kita tidak bisa diam menyaksikan fakta sosial ini. Kalau dibiarkan terus berulang setiap tahun, harapan meraih masa depan cerah bagi anak-anak kita akan makin suram,” tegas Habib Umar, Jumat (27/6/2025).
Ia mendorong para pemangku kepentingan di daerah untuk mengambil langkah konkret. Menurutnya, penyelesaian masalah ATS harus menyentuh akar persoalan hingga tuntas. “Minimal kita bersama-sama memastikan apa penyebabnya dan mengatasinya, sehingga jumlah ATS bisa terus berkurang,” ujarnya.
Data terbaru per Mei 2025 mencatat jumlah ATS di Kalsel mencapai puluhan ribu anak. Kabupaten Banjar menjadi daerah dengan angka ATS tertinggi, yakni 12.752 anak.
Yang lebih memprihatinkan, sebaran terbesar justru terjadi di Kecamatan Martapura. Kondisi ini dinilai berkontribusi pada rendahnya capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Banjar yang hanya mencapai 74,41. Angka tersebut lebih rendah di banding IPM Provinsi Kalsel yang berada di 75,02, maupun rata-rata IPM nasional 74,66.
Habib Umar mengingatkan, persoalan ini juga terkait amanah Pancasila dan Undang-Undang mengenai wajib belajar. “Ini soal tanggung jawab kita bersama, sesuai amanah konstitusi,” tandasnya.
Ia pun mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, DPRD, hingga masyarakat, untuk bersinergi dalam menurunkan angka putus sekolah. “Kalau mau IPM kita meningkat, persoalan ATS ini harus jadi prioritas bersama,” pungkasnya.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





