Banjarmasin, kalselpos.com—
Masalah sampah di Kota Banjarmasin kian memprihatinkan. Sampah rumah tangga yang belum dipilah antara organik dan non-organik menambah beban sistem pengelolaan sampah kota.
Kondisi ini menuntut penanganan yang lebih serius, mulai dari partisipasi warga hingga kebijakan Pemerintah Kota Banjarmasin.
Menurut Dr Gusti Rusydi FS ST MT, pemerhati teknologi dan sosial kemasyarakatan, salah satu solusi strategis adalah penerapan teknologi waste-to-energy, yakni pengolahan sampah menjadi energi melalui sistem boiler.
Teknologi ini telah terbukti berhasil di beberapa kota besar, termasuk Surabaya, yang mengolah sampah menjadi bahan bakar untuk menghasilkan listrik.
Teknologi Waste-to-Energy merupakan solusi masa depan memungkinkan sampah digunakan sebagai sumber bahan bakar untuk memanaskan boiler, menghasilkan uap, dan memutar turbin pembangkit listrik.
Selain menekan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), proses ini juga berkontribusi dalam menyediakan energi terbarukan.
“Manfaatnya sangat besar. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, teknologi ini juga membantu mengendalikan polusi akibat sampah yang menumpuk dan dibakar sembarangan,” ujar Dr Gusti Rusydi.
Adapun manfaat utama teknologi ini antara lain, mengurangi volume sampah secara signifikan, menghasilkan energi listrik dari limbah, mengurangi emisi gas rumah kaca dengan sistem pengolahan gas buang lebih ramah lingkungan dan efisiensi lahan dan biaya pengelolaan sampah jangka panjang.
Teknologi boiler masa kini semakin canggih. Jika sebelumnya dibutuhkan uap dengan suhu sangat tinggi untuk memutar turbin, kini tersedia sistem yang dapat bekerja dengan uap bersuhu sedang. Hal ini sangat cocok diterapkan dalam pengolahan sampah aga tidak selalu menghasilkan panas optimal.
“Ini menjadi peluang besar bagi kota seperti Banjarmasin. Dengan biaya yang lebih efisien, teknologi ini bisa langsung digunakan untuk mengolah sampah jadi energi, sekaligus membuka peluang kerja baru di sektor energi terbarukan,” jelasnya.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari rumah merupakan langkah awal yang krusial. Pemerintah kota juga diharapkan lebih aktif menyediakan infrastruktur, regulasi, dan insentif untuk pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Harus ada sinergi antara warga dan pemkot. Investasi pada teknologi ramah lingkungan harus dibarengi dengan edukasi publik dan penegakan aturan. Itu satu paket,” tegasnya.
Sudah saatnya Banjarmasin bertransformasi dari kota penghasil sampah menjadi kota penghasil energi. Dengan kemauan politik dan dukungan publik, visi kota bersih, hijau, dan mandiri energi bukanlah angan belaka.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





