Amuntai, kalselpos.com – Kejadian ikan mati di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) mendadak viral di media sosial (medsos). Kabar tersebut dibagikan melalui Medsos Instagram, yang memperlihatkan ikan diduga jenis Toman, itu tergeletak berhamburan, bahkan jumlahnya tidak sedikit atau lumayan banyak, di mana dalam caption mengatakan, kejadian tersebut berada di wilayah Kecamatan Babirik dan Danau Panggang.
Diketahui, ikan Toman tersebut merupakan ikan yang dipelihara oleh petani di desa yang berada di Kecamatan Babirik dan Danau Panggang di dalam keramba.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten HSU, Ismarlita, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan, dugaan, penyebab kejadian ikan toman yang mati tersebut, adanya penurunan kualitas air di musim kemarau yang panjang dan pemeliharaan ikan perairan umum.
Kondisi perairannya sulit diintervensi, karena segala aktivitas yang terjadi di atas rawa akan berdampak pada perairan sekitarnya.
Kesimpulan ini, diambil oleh pihak Dinas Perikanan Kabupaten HSU telah melakukan pemantauan di lapangan untuk melakukan pengumpulan informasi penyebab kejadian ini.
Menurut keterangan Kadis Perikanan, dugaan penyebab yang telah ia terima dari tim di lapangan, kelihatannya tingkat kecerahan di lokasi pemeliharaan ikan kurang dari 20 Cm. Otomatis oksigen terlarut untuk kehidupan ikan sangat tidak mendukung yang juga akan berpengaruh pada penurunan PH, CO2 pasti tinggi yang sangat membahayakan bagi ikan.
“Mendapatkan kabar tersebut, pemantau kami langsung ke lapangan untuk melihat kondisi langsung dan menggali info. Sehingga diperkirakan hal ini, kemungkinan akibat ikan rentan terhadap perubahan kualitas air pasti,” jelasnya Ismarlita, saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp, Sabtu (14/10/2023) kemarin.
Ia menambahkan, kejadian ini diterima oleh Dinas Perikanan dari masyarakat Kecamatan Babirik, pada Jumat (13/10) pagi, yang ditindaklanjuti oleh dinas, datang ke lokasi pada siang harinya. Menurut, informasi warga, kejadian kematian ikan ini terjadi pada, Kamis (12/10).
Terkait, berapa banyak ikan mati dalam keramba tersebut, pihak dinas sendiri mengakui, masih mengumpulkan informasi, karena kebetulan, beberapa pembudidaya yang terdampak tersebut, tidak termasuk dalam kelompok.
“Solusi kami untuk sementara, agar pemelihara ikan menjual saja, karena memang ukuran ikan rata-rata sudah besar, ada yang mencapai 800 gram hingga 1 Kg bahkan lebih. Ikan kecil yang masih bisa bertahan, peternak agar dapat mengurangi padat pemeliharaan dan mengurangi dalam pemberian pakan,” tambah Ismarlita lagi.
Kejadian serupa pernah terjadi di Kabupaten HSU. Tidak hanya penyebab di atas tadi, penyebab kematian ikan lainnya, dapat pula dari kondisi kemarau panjang. Dipicu dari kondisi kemarau panjang, tiba-tiba datang hujan deras, sehingga teraduknya partikel organik perairan dan perubahan suhu mendadak. Hal ini, tidak dapat ditoleransi ikan, dari perubahan suhu yang ekstrim dari panas ke dingin akibat hujan.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





