Sampit, kalselpos.com –
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) menilai keberadaan embung air lebih bermanfaat dibandingkan sumur bor. Untuk itu, jika Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memberikan bantuan diharapkan berupa pembuatan embung air.
Embung air dinilai jauh lebih membantu karena akan mampu tetap menyisakan air meski saat kemarau. Berbeda dengan sumur bor yang justru banyak tidak berfungsi atau macet saat hendak digunakan memadamkan kebakaran lahan.
“Sumur bor itu kalau tidak ada kemarau, satu tahun atau bahkan tiga bulan saja tidak disedot, maka macet. Ini buang duit saja,” ujarnya, Rabu (13/9/2023).
Masalah ini juga disampaikan Halikinnor saat rapat penetapan peningkatan status dari siaga menjadi tanggap darurat bencana karhutla di kantor BPBD Kotim pada Senin (11/9/2023).
Halikinnor menyesalkan banyak sumur bor bantuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tidak berfungsi sehingga tidak dapat digunakan membantu sumber air pemadaman kebakaran hutan dan lahan.
“Saya minta perhatian juga untuk ke depan. Untuk sumur bor itu, tidak efektif. Kalau pemerintah provinsi membuat program itu, ditolak saja. Kalau perlu kita bersurat. Tidak ada gunanya itu karena tidak dipelihara. Semua sumur bor yang dibuat itu macet,” ungkapnya.
Meski hujan deras mengguyur beberapa kali, kebakaran lahan di Kotim masih marak dan sporadis. Pemadaman tidak hanya dilakukan oleh tim darat, tetapi juga dioptimalkan melalui udara dengan pengeboman air atau water bombing.
Pemerintah daerah pun telah meningkatkan status dari siaga menjadikan tanggap darurat bencana karhutla. Status ini dilaksanakan selama 14 hari dan akan kembali dievaluasi sesuai perkembangan di lapangan.
Untuk mengoptimalkan pemadaman kebakaran lahan, kini seluruh satuan organisasi perangkat daerah (SOPD) membantu. Setiap SOPD wajib menerjunkan satu tim dilengkapi tandon air yang bertugas memasok air ke lokasi kebakaran sehingga pemadaman bisa lebih maksimal karena petugas tidak perlu bolak-balik mengambil air atau sampai kehabisan air.
Terkait tidak berfungsinya sumur bor, Halikinnor menilai program ini dievaluasi kembali. Menurutnya, lebih baik anggarannya digunakan untuk membeli tanah untuk membuat embung.
“Kalau embung itu walaupun tidak dipelihara, paling banyak rumput tapi masih ada airnya. Tapi kalau sumur bor itu yang jauh dari permukiman itu banyak yang tidak berfungsi,” timpal Halikinnor.
Halikinnor lebih sepakat jika pemerintah provinsi membantu anggaran untuk pembuatan embung. Dia menilai ini akan lebih efektif dibanding pembuatan sumur bor seperti yang selama ini dijalankan.
Baca berita kalselpos lainnya, silahkan download Aplikasi Kalselpos.com di play store





