Marabahan, kalselpos.com – Melindungi bekantan, Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) kembali adakan giat patroli pengamanan kawasan habitat bekantan di sekitar kawasan TWA Pulau Bakut dan kawasan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Anjir Muara, Kabupaten Barito kuala yang yang dikelola oleh SBI dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Menurut Ketua SBI, Amalia Rezeki, giat patroli pengamanan habitat bekantan ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan SBI dengan BKSDA Kalsel, sesuai PKS No. 5467/BKSDAKALSEL-1.5/2018.
“Untuk kegiatan patroli kawasan habitat bekantan ini, adalah kegiatan rutin sejak tahun 2018 lalu, namun sempat terhenti di 2019 akhir hingga 2021, dikarenakan oleh pandemi COVID 19. Baru sekarang, kembali diadakan giat patroli tersebut,” jelas Amel sebutan akrab kandidat doktor konservasi bekantan dari Universitas Lambung Mangkurat ini, Selasa (20/12/2022).
Lebih lanjut Amel mengungkapkan, dilaksanakannya giat ini, sebagai upaya untuk mencegah dan membatasi ruang gerak tindakan pelaku perusakan habitat bekantan berupa hutan mangrove rambai (Sonneratia caseolaris). Sebagai bentuk upaya dalam perlindungan dan pengamanan kawasan habitat bekantan dan juga untuk mencegah terjadinya konflik antara manusia dengan satwa liar, terutama bekantan.
Dalam pelaksanaan kegiatannya, menggunakan sistem patroli terpadu, dengan melibatkan komponen keamanan masyarakat setempat seperti satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang bertugas di tiga desa wisata setempat, dan tentunya juga dari Polisi Kehutanan BKSDA Kalsel.
Dalam kegiatan ini Amel juga melaporkan kepada BKSDA Kalsel, diwilayah kerjanya Stasiun Riset Bekantan, Pulau Curiak terjadi penambahan populasi bekantan lebih dari 100 persen dalam kurun waktu 5 tahun ini.
“Awalnya pada tahun 2016 hanya terdapat sekitar 14 ekor, sekarang pada akhir tahun 2022 ini populasinya sudah mencapai 36 individu bekantan,” ungkapnya.
Amel mengajak warga desa setempat untuk bersama-sama menjaga keutuhan hutan mangrove rambai yang tersisa dan segera melaporkan atau memberikan informasi apabila adanya perusakan hutan atau konflik satwa liar dengan manusia.
Dia juga mengajak warga bersama-sama merestorasi hutan mangrove rambai untuk keberlangsungan ekosistem mangrove rambai tersebut dan kesejahteraan bersama.
Terpisah, BKSDA Kalsel yang diwakili M Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si selaku Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru menyambut baik inisiasi SBI dalam melakukan giat patroli bersama ini.
“BKSDA Kalsel berterimakasih atas inisiasi SBI melakukan giat patroli bersama, sekaligus sosialisasi dan edukasi konservasi bekantan bersama masyarakat Desa Wisata Marabahan Baru ini,” ucapnya.
Pada dasarnya, jelas dia, SBI dan BKSDA Kalsel punya niat yang sama dalam melestarikan bekantan di Kalimantan Selatan. “Kami mengucapkan selamat kepada SBI yang telah menerima penghargaan tertinggi dibidang lingkungan dari pemerintah Indonesia berupa KALPATARU 2022, dengan kategori penyelamat lingkungan,” kata M. Ridwan Effendi dalam sambutannya dihadapan masyarakat setempat.
Lebih lanjut dia mengatakan, perlunya peran semua pihak, terutama masyarakat sekitar kawasan habitat bekantan, untuk ikut serta menjaga dan melestarikan bekantan serta habitatnya.
Ridwan juga meapresiasi atas partisipasi aktif warga Marabahan Baru yang bersama SBI menjaga kawasannya. Dia berharap sinergisitas ini terus dibina dan dijaga dengan baik.
Sementara itu, Aliansyah selaku Kepala Desa Marabahan baru menyampaikan terimakasih kepada SBI dan BKSDA Kalsel, yang telah membina desanya selama 5 tahun ini, sehingga menjadi desa wisata yang maju berbasiskan konservasi bekantan dan kearifan lokalnya.
Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com





