Gubernur Minta Harga Daging Sapi di Kalsel Dikendalikan

Gubernur Kalsel Sahbirin Noor serahkan bantuan kepada masyarakat Tanah Bumbu saat Turdes pengendalian inflasi.(ist)Anas Aliando/ kalselpos.com

Banjarbaru, kalselpos.com – Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) H. Sahbirin Noor meminta harga daging sapi di Kalsel bisa dikendalikan. Hal ini terkait pengendalian inflasi daging ruminansia akibat tingginya harga daging sapi di Kalsel, ditambah dengan stok atau suplai sapi yang kurang ke Kalsel akibat beberapa faktor.

Diantaranya imbas dari adanya wabah Penyakit mulut dan kuku ( PMK) di Indonesia, sehingga regulasi tingkat Nasional dalam pelaksanaan lalulintas hewan dan produk hewan dalam rangka penanggulangan wabah PMK mengalami pengetatan dan penambahan biaya dalam pembelian sapi dari luar provinsi Kalsel. Termasuk biaya uji laboratorium PMK dan PMHS lainnya, proses karantina hewan dan lain-lain yang dibebankan kepada pengusaha yang memasukan sapi.

Bacaan Lainnya

Kenaikan juga disebabkan adanya peningkatan harga BBM yang secara keseluruhan meningkatkan harga sapi dari luar daerah Kalsel.

Mengatasi kondisi tersebut gubernur yang akrab di sapa Paman Birin ini minta jajaran Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) berkoordinasi dengan stakehorder terkait untuk mengambil langkah cepat dan tepat untuk kendalikan inflasi daging sapi tersebut.

Hal itu disampaikan Paman Birin pada kegiatan Turdes Pengendalian Inflasi di Kabupaten Tanah Bumbu sekaligus menyerahkan bantuan dukungan Program Siska Ku Intip pada Kamis (3/11) malam.

Mendapat arahan tersebut, langsung ditindakkanjuti oleh Disbunnak berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Disampaikan drh. Suparmi, Kepala Disbunnak Kalsel, pihaknya gerak cepat melakukan koordinasi dengan berbagai lintas instansi.

Mulai Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel, Bulog Kalsel, jajaran UPT Kementerian Pertanian (Kepala Balai Veteriner Banjarbar dan Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Banjarmasin) serta dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota di Banjarmasin, Banjar dan Tanah Laut.

Tak itu saja, Suparmi menyebut pihaknya juga koordinasi langsung dengan rumah potong hewan di Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Termasuk juga melakukan koordinasi dengan Dr. Wahyu Darsono, S.Pt, Msi (Siska Supporting Program) serta pelaku usaha peternakan sapi potong, dengan melaksanakan langkah-langkah strategis.

“Alhamdulilah. Begitu ada arahan dari Bapak Gubernur, kita langsung melakukan koordinasi dan menetapkan langkah strategis,” kata Suparmi.

Langkah itu diantaranya
di sektor hilir telah diterbitkan Surat Edaran Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 52/01664/PK2P/Eko Tanggal 30 September 2022 tentang Pengendalian Lalulintas Hewan Rentan penyakit Mulut dan Kuku dan Produk Hewan Rentan Penyakit Mulut dan Kuku berbasis Kewilayahan untuk meningkatkan suplai daging di Kalsel.

Lalu membebaskan biaya uji pemeriksaan laboratorium PMK terhadap sapi-sapi yang masuk ke Kalsel berkoordinasi dengan Balai Veteriner Banjarbaru

Disamping itu juga, Disbunnak mendukung pasar murah daging sapi bekerjasama dengan PT. Siska. Termasuk juga meningkatkan partisipasi kegiatan pasar murah daging sapi/kerbau bekerjasama dengan Bulog dan PT. Siska.

“Kami juga berkoordinasi dengan Bulog Kalimantan Selatan dan pelaku usaha sapi lainnya untuk meningkatkan pemasukan daging sapi/kerbau beku ke Kalsel. Termasuk dengan PT. Siska untuk meningkatkan pemotongan sapi siap potong yang ada memenuhi pasokan daging sapi beku di Kalimantan Selatan,” terang Suparmi.

Sedangkan dari sektor hulu, Suparmi menjelaskan Disbunnak terus mendorong peningkatan populasi dan produksi ternak sapi potong melalui Program Sapi dan Kerbau Komuditas Andalan Negeri (Sikomandan) yang setiap tahunnya dapat menghasilkan anak sapi /pedet rata-rata 27.000 ekor.

Sedangkan untuk tahun 2022, sampai dengan bulan Oktober telah lahir pedet sebanyak 23.593 ekor (107 %) dari target 22.090 ekor.

Sport.kalselpos.com

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait