kalselpos.com -Ingin menikmati keindahan alam tak perlu jauh-jauh pergi keluar Kalimantan Selatan, bahkan ke luar negeri. Di Banua cukup banyak obyek wisata yang menarik dikunjungi dan biaya cukup murah.
Salah satu obyek wisata yang menarik adalah Gunung Kahung di Desa Belangian, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Tempat ini memiliki keindahan alam yang luar biasa, sehingga banyak orang yang tertarik mengunjungi gunung dengan ketinggian 1456 mdpl dan merupakan salah satu deretan Pegunungan Meratus.
Salah pecinta alam asal Banjarmasin, Doni yang tergabung dalam komunitas Pendaki Kalimantan bersama teman-temannya ingin menikmati keindahan alam Gunung Kahung.
Mengendarai sepeda motor dari Banjarmasin, Doni dan kawan-kawan menuju dermaga Riam Kanan dan mereka melanjutkann perjalanan, menyewa atau naik angkutan klotok menuju Kampung Belangian .
“Naik klotok merogoh gocek Rp 30.000 sekali jalan. Perjalanan kurang lebih dua jam menuju Kampung Belangian. Kita juga bisa menikmati indahnya perbukitan yang hijau di kanan kiri,” jelas Dony, salah satu pendaki.
Setelah sampai di Dermaga Belangian, mereka harus melakukan registrasi simaksi sebesar Rp 2.000 untuk pendakian. Gunanya untuk mengetahui jumlah orang serta pemasukan kas kampung dan daerah.
“Kebetulan jumlah kami beserta rombongan lumayan banyak yaitu 37 orang yg terdiri dari komunitas pendaki kalimantan, detak petualang, serta dari pendaki umum non komunitas. Kurang lebih 1 jam registrasi, baru sekitar pukul 22.00 Wita, memulai trek menuju puncak Kahung,” jelasnya.
Jalan keluar kampung masih enak, karena sudah di cor, sehingga tak becek. Sepanjang jalan, mereka menemui banyak pohon bambu dan kebun pisang milik warga.
Sekitar satu jam, kami harus melewati jembatan yang menghubungkan kampung dengan selter 1. Setelah berjalan 2 jam dari kampung, sampai lah di pos 1 yang dinamai selter Kembar,” paparnya.
Perjalanan masih di lanjutkan dengan medan agak sedikit naik. Satu jam dari pos 1 selter kembar baru lah, semua tiba di pos 2 dan pasang tenda untuk camp d tempat tersebut. Masalah air tidak usah kawatir karena sangat dekat lokasi dengan sungai yang sangat jernih.
Usai sarapan pagi, sekitar pukul 10.00 Wita, rombongan mulai melanjutkan perjalanan menuju pos 3 cemara.
“Dari sini kita harus turun naik perbukitan dan menyeberangi sungai kecil yang tak begitu deras aliran airnya,” ucapnya.
Tak terasa sudah 2 jam rombongan berjalan dan pada akhirnya sampailah di pos 3 cemara. Di pos ini kita di suguhi aliran sungai yg begitu menawan dan menggoda karena air sungainya sangat jernih. Terlena akan jernihnya air sungai tersebut tak terasa 1 jam lebih mereka istirahat.
“Pukul 13.30 kami semua pun melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Dalam perjalanan ini, kita harus tetap konsen karena trek yang dilewati siring tepian sungai. Jika lengah sedikit, bisa terpleset dan jatuh ke sungai yang banyak bebatuan gunungnya,” cerita karyawan Pemko Banjarmasin ini.
Setelah tiga jam, sampai di pos 4 dan tetap harus berjalan menuju Camp Amazon. dan memasang tenda. Dari pos 4 ini, tetap berjalan di trek yang terjal.
Berjalan 1 jam lagi, baru lah sampai di Air Terjun Kahung yang luar biasa indahnya.
“Air terjun ini tak begitu tinggi tapi bisa bikin kita menggeleng kepala karena keindahan bebatuan dan airnya yang jernih. Bisa rileks sebentar sambil menikmati kebesaran ciptaan Nya,” kata Dony.
Air Terjun Kahung bukan tujuan utama Dony dan kawan-kawan ‘menaklukkan’ Gunung Kahung.
“Setelah 30 menit istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan dengan medan yang bisa di bilang terjal karena kemiringan yang harus kita lewati hampir 90° dan itu harus memakai webing atau tali buat naik,” cerita Dony.
Kurang lebih 30 menit melewati medan yang luar biasa, mereka pun agak sedikit lega, karena trek sudah mulai ringan kembali walau itu harus naik turun, tapi tidak seterjal yang di air terjun.
“Beberapa kali kita harus menyeberangi sungai yang tak begitu lebar dan perlu di ingat dari sini lah harus waspada terhadap yang namanya pacet, karena suhu mulai lembab dan berair,” katanya.
Tak sedikit dari rombongan di serang pacet dan harus rela darah di isap.
“1,5 jam berjalan kami semua sampai d pos 5 dan istirahat sebentar sambil menghabiskan waktu magrib. Pukul 18.45 kami semua melanjutkan trek lagi menuju temapat camp terakhir yg namanya camp Amazon,” jelas Dony.
Dalam perjalanan menuju pos amazon,kita baru bisa melihat dan menikmati keindahan hutan lumut, hutan yang sangat luar biasa seperti dalam film Lord of The Ring.
Setiap pohon di tumbuhi lumut hijau yang berair, serta tumbuhan lain yg hidup di tempat lembab.
Pukul 08.00/Wita, mulai summit menuju Puncak Kahung dengan ketinggian 1456 mdpl, bisa di bilang tidak terlalu tinggi.
“Yang bikin pendaki frustasi ialah medan dan banyaknya pacet. Dari camp ini, kita naik terus dan tak ada nemui yg namanya turunan. Trek ini sungguh menguras tenaga karena kita harus berjalan di tanah kurang lebih 1 jam dengan medan yang licin akibat di guyur hujan,” katanya.
Satu jam berjalan di atas ranting pohon yang di tumbuhi lumut tebal yang di sampingnya jurang.
Di trek ini juga bisa melihat dan menemui yang namanya tumbuhan kantong semar dan banyaknya anggrek Borneo.
Setelah dua jam yang melelahkan sampailah mereka ke Puncak Kahung. Waktu sampai puncak, mereka tak bisa melihat sepenuhnya perbukitan dan pegunungan di sekitar, karena hujan masih mengguyur.
Selama 30 menit di puncak Kahung, semua turun tanpa camp lagi dan harus berjalan 10 jam menuju kampung Belangian. Sebab, pagi pukul 8 harus kembali ke Riam Kanan.
Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com





