Kalsel Masih Defisit Pasokan Bawang Merah

Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto saat meninjau stan pasar pangan murah.(anas aliando)(kalselpos.com)

Banjarbaru, kalselpos.com – Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian RI, Prihasto Setyanto menyebut, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) masih defisit pasokan bawang merah, cabe besar dan cabe rawit.

Prihasto menyampaikan itu pada saat membuka Pasar Pangan Murah Kementan RI yang berkolaborasi dengan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi (TPH) Kalsel bertempat di halaman Kantor Dinas TPH Kalsel di Kota Banjarbaru, Sabtu (23/4).

Bacaan Lainnya

“Kabutuhan bawang merah Kalsel per tahun 13.287 ton. Mampu produksi sendiri hanya 400 ton sehingga masih defisit 13.000 ton,” ungkap Prihasto.

Karena masih defisit, maka Prihasto meminta petani di Kalsel untuk menangkap peluang besar tersebut dengan melakukan peningkatan budidaya bawang merah.

“Jangan khawatir, produksi bawang merah pasti terserap pasar karena kekurangan tadi. Setidaknya Kalsel harus mempersiapkan lahan 1.200 hektar untuk bisa memproduksi kekurangan tersebut,” ujarnya.

Untuk cabe besar, beber Prihasto, Kalsel masih defisit 6 ribu ton. Produksi cabe besar di Kalsel baru 9 ribu ton per tahun. Sedangkan kebutuhan 15.229 ton.

“Cabe rawit di Kalsel juga masih defisit. Kebutuhan cabe rawit per tahun 14.635 ton. Yang bisa disediakan sendiri baru 11.385 ton. Jadi masih defisit 3000 ton,” bebernya.

Untuk mengurangi defisit, tegas Prihasto, tidak ada cara lain selain meningkatkan produksi yang harus didukung oleh pemerintah baik provinsi maupun kabupaten/kota. “Ini peluang yang sangat besar untuk petani kita berbudidaya,” cetusnya.

Kadis TPH Provinsi Kalsel Syamsir Rahman mengatakan, apa yang disebutkan Dirjen Holtikultura adalah tantangan yang harus segera dijawab. “Kita sudah lakukan budidaya bawang merah di Kabupaten Tapin. Memang belum berproduksi maksimal. Kedepan terus akan kita kembangkan ke kabupaten lainnya agar bawang merah kita tidak selalu didatangkan dari luar pulau,” ujarnya.

Syamsir menyebut, kualitas bawang merah Kalsel masih kalah dengan dengan yang ditanam di pulau Jawa. “Kadar air kita masih tinggi. Tapi kita tidak boleh menyerah. Itu pasti bisa kita atasi dengan menerapkan teknologi pertanian yang kita miliki,” yakinnya.

Pasar Pangan Murah sendiri, beber Syamsir, dilaksanakan untuk menjaga harga pangan tetap stabil jelang lebaran. “Biasanya jelang lebaran harga pangan mengalami kenaikan. Ini memberatkan masyarakat. Kita tidak biarkan itu terjadi,” tukasnya.

Animo masyarakat berbelanja ke Pasar Pangan Murah sangat luar biasa. Pagi-pagi masyarakat sudah berdatangan ke lokasi. Setelah pasar dibuka, masyarakat pun langsung menyerbu sehingga bahan pangan yang dijual di 36 stand hanya dalam waktu 1,5 jam sudah ludes terjual.

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait