Kandangan, kalselpos.com – Penutupan Jalan Hauling KM 101 di Desa Suato, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin pada 25 November 2021, berdampak hingga ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Akibat penutupan Jalan Hauling tersebut, ratusan warga Kabupaten HSS yang bekerja sebagai sopir dan mekanik menjadi pengangguran dan kesulitan untuk menafkahi keluarganya.
“Dampak penutupan jalan Hauling Desa Suato, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin ini sangat fatal, karena kami tidak bisa bekerja sama sekali,” kata Wasis Warga Kandangan, Kabupaten HSS yang bekerja sebagai sopir angkutan batubara, Rabu (22/12).
Menurutnya, sudah satu bulan ini para sopir, mekanik, tukang tambal ban dan pencucian mobil tidak bisa bekerja, karena jalan Hauling ditutup. “Warung-warung juga banyak yang tutup, karena tidak ada angkutan yang lewat,” ujar Wasis.
Dikatakannya, komunitas sopir yang terdampak akibat penutupan Jalan ada 16 kode, yang masing-masing kode jumlahnya antara 50 hingga 100 unit dikali dua orang sopir menjadi 2.400 orang tidak bisa bekerja. “Itulah jumlah sopir yang terdampak langsung akibat penutupan Jalan Hauling,’ ujarnya.
Selama satu bulan ini, kata Wasis, dirinya terpaksa bekerja serabutan mencari besi-besi tua, dan berjualan roti untuk menafkahi keluarga. “Karena tidak ada pekerjaan terpaksa bekerja serabutan, untuk menafkahi istri dan dua anak saya,” ujarnya.
Wasis berharap jalan hauling bisa dibuka kembali atau ada jalan alternatif bisa menyeberang jalan aspal, sehingga para sopir dan yang lainnya bisa bekerja seperti biasa. “Dari pada masyarakat kelaparan, lebih baik jalan dibuka atau ada alternatif lain,” harap Wasis.
Sementara itu, Mansi, Desa Batu Bini, Kecamatan Padang Batung, mengatakan sejak jalan hauling ditutup tidak ada lagi mobil angkutan batubara yang memperbaiki mobil ke bengkel tempat ia kerja di Kota Kandangan.
“Sudah satu bulan ini, saya tidak bekerja di bengkel, karena tidak ada mobil yang masuk. Karena gaji saya harian maka tidak dapat penghasil,” ujarnya.
Menurutnya, selama bengkel tutup dirinya bersama mekanik lain bekerja serabutan menjadi buruh kayu, karet dan lain. “Meski berat, kami terpaksa menjadi buruh serabutan untuk menafkahi keluarga,” ujarnya.
Senada dengan Wasis, Mandi berharap Jalan Hauling bisa dibuka kembali, agar mereka bisa kembali bekerja sebagai mekanik mobil angkutan batubara.
Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com





