Banjarbaru,kalselpos.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui Dinas Kehutanan melakukan kajian rencana imbal jasa lingkungan (Jasling) bagi lembaga pemerintah dan perusahaan swasta yang memanfaatkan air permukaan tanah yang bersumber dari kawasan Tahura Sultan Adam Kabupaten Banjar.
Imbal jasling tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan sekaligus memelihara kualitas tutupan lahan di Tahura Sultan Adam dan sekitarnya.
Plt Kadis Kehutanan Hj Fatimatuzzahra mengatakan sosialisasi imbal jasling ini selaras dengan pencanangan revolusi hijau Gubernur Kalsel Sahbirin Noor yang mengajak semua pihak baik pemerintah, masyarakat maupun swasta untuk berpartisipasi memperbaiki kualitas lingkungan.
“Sesuai arahan Gubernur Kalsel dalam rangka revolusi hijau kita terus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan dengan melibatkan lintas sektoral,” katanya usai kegiatan Sosialisasi Rencana Imbal Jasling Tahura Sultan Adam di Banjarbaru, Rabu (12/10).
Diketahui saat ini Tahura Sultan Adam memiliki sekitar 17 ribu Ha tanaman Rehab DAS IPPKH yang tentu perlu dijaga dan dipelihara. Sementara dana pemeliharaan baik dari daerah maupun pusat masih sangat terbatas.
“Untuk itulah kita berharap dengan imbal jasling pengguna air permukaan tanah Tahura Sultan Adam ini ada dana kompensasi yang bisa digunakan untuk menjaga kualitas dan meningkatkan tutupan lahan di kawasan Tahura,” jelas Fatimazzahra.
Dalam sosialisasi imbal jasling, Dishut Kalsel telah mengundang pihak yang sudah teridentifikasi pemanfaatan air permukaan tanah di Tahura Sultan Adam seperti baik PLTA, PDAM, balai perikanan hingga perusahaan air minum swasta.
“Kita dibantu Global Green Growth Institute (GGGI) yang nanti akan mengidentifikasi lagi lebih lanjut siapa saja sebenarnya yang memanfaatkan air permukaan tanah dari Tahura Sultan Adam,” kata Kadishut.
Pihaknya berharap para pengguna air permukaan tanah di kawasan Tahura dapat berkontribusi bagi pemeliharaan dan peningkatan tutupan lahan sekaligus menjaga kualitas air baku.
Mengenai bentuk imbal jasling belum bisa ditentukan bentuknya seperti apa? Apakah nanti dalam bentuk finansial, penyediaan bibit, penanaman, atau langsung ke masyarakat agar mereka menanam agroforestry.
“Dengan imbal Jasling ini juga akan mengurangi aktivitas penebangan yang bisa merusak sedimentasi di kawasan Tahura,” kata Fatimatuzzahra.
Sementara Hendra Segah didampingi Carissa Hanjani dari GGGI mengatakan pihaknya dalam hal ini akan membantu Pemprov Kalsel untuk meneliti dan mengkaji potensi imbal jasling di Tahura Sultan Adam. “Ini baru tahap awal yang akan dilanjutkan dengan penelitian terkait pemanfaatan imbal jasling di Tahura Sultan Adam,” katanya.
Untuk diketahui imbal Jasling di kawasan Tahura belum ada dilakukan di Tahura daerah lain. “Kalau di daerah lain ada imbal jasling tapi dari kawasan hutan lindung seperti di Balikpapan, Kuningan maupun di Rejoso Jawa Timur,” kata Carissa menambahkan.
Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com





