Batan telah merancang reaktor nuklir generasi ke-4

Ilustrasi reaktor nuklir yang sedang beroperasi untuk pembangkit listrik.(ist)kalselpos.com)

kalselpos.com – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) telah merancang reaktor nuklir generasi keempat berupa High Temperature Gas Reactor (HTGR) atau reaktor berpendingin gas yang dinilai lebih aman ketimbang pendahulunya yang digunakan Jepang untuk PLTN Fukushima.

Peneliti Senior Batan, Geni Rina Sunaryo mengatakan reaktor generasi keempat ini menggunakan gas sebagai pendinginnya, berbeda jika dibandingkan dengan generasi ketiga yang digunakan Jepang, yakni berbasis air sebagai pendingin.

Bacaan Lainnya

“Kejadian Fukusihima itu akibat pelelehan bahan bakar. Reaktor generasi keempat ini sudah dijamin tidak akan terjadi pelelehan bahan bakar atau terasnya. Sehingga, kejadian Fukushima tidak akan terjadi kalau kita membangun tipe HTGR,” beber Geni.

Menurutnya, HTGR atau reaktor generasi keempat memiliki keunggulan ketimbang generasi ketiga. Selain menghasilkan listrik, reaktor ini juga menghasilkan panas untuk mendukung operasional industri kimia. Panas dari hasil energi nuklir bisa digunakan untuk menginisiasi industri seperti produksi gas hidrogen.

“Panas yang dihasilkan mencapai 1000 derajat celcius. Ini bisa diaplikasikan untuk industri gas hidrogen, smelter mineral sebelum diolah, dan pengolahan tanah jarang,” katanya.

Senada dengan pemerintah, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmi Radhy menilai bahwa PLTN sangat tepat dikembangkan di Indonesia. “Indonesia tepat jika akan mengembangkan nuklir sebagai energi, sebab kita mampu menambang uranium dalam jumlah banyak,” katanya.

Lebih lanjut Fahmi mengatakan, negara maju yang sudah memiliki PLTN belum tentu memiliki tambang uranium, meskipun uranium mampu dibuat dan diolah. Tentu saja akan menjadi nilai tambah jika Indonesia mampu mengolah sendiri.

Selain itu, emisi dari nuklir yang bersih cocok dikembangkan di Indonesia yang memiliki wilayah yang luas. “Saran saya kepada pemerintah, nuklir jangan dijadikan alternatif terakhir, namun memang sudah saatnya dikembangkan untuk dimplementasikan manfaatnya,” kata Fahmi.

Selanjutnya, menurut Fahmi, terkait emisi, berdasarkan hasil riset yang dilakukan Asosiasi Nuklir Dunia (World Nuclear Association), energi nuklir menghasilkan emisi karbon yang setara dengan energi dari tenaga angin.

Energi nuklir hanya menghasilkan 12 gram emisi CO2 per-kWh dari listrik yang dihasilkan. Sedangkan energi batu bara menghasilkan 820 gram emisi CO2 per-kwh.

“Itu (PLTN) menjadi salah satu solusi bagi Indonesia kalau ingin mencapai target Paris Agreement,” katanya.

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait