Majukan BUMDes, DPD Walatung studi banding ke Danau Tamiang

DPD Walatung Kecamatan Pandawan Kabupaten HST saat studi banding di Desa Mandi Kapau Barat Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar yang memiliki obyek wisata Danau Tamiang.(anas aliando)(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com – Usai dilantik sebagai Ketua Dewan Perwakilan Desa (DPD) Walatung, Kecamatan Pandawan,  Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Abdul Jalil bersama seluruh anggota
melakukan studi banding di dua desa di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.

Dua desa yang dikunjungi adalah Desa Mandi Kapau Barat dan Desa Padang Panjang. Tujuannya tidak lain, menyerap ilmu bagaimana kiat dan strategi yang dilakukan Kades setempat sehingga  Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bisa tumbuh dan berkembang dan bisa menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD) secara maksimal.

Bacaan Lainnya

“Kami sangat bersemangat untuk memajukan BUMDes Walatung. Hari ini kami melakukan studi banding ke Danau Tamiang untuk melihat secara langsung dan menimba ilmu dan kiat dari kepala desanya,” ujar Abdul Jalil kepada kalselpos.com, Sabtu (26/6/2021) siang.

Disampaikannya, Desa Walatung mempunyai potensi yang luar biasa untuk dikembangkan diantaranya disektor pertanian, perkebunan, kerajinan, peternakan dan perikanan.

“Dari dulu Desa Walatung terkenal sebagai penghasil anyaman purun, pembuat gula merah dan kolang kaling. Ini yang akan kita kembangkan secara maksimal  melalui BUMDes,” cetusnya.

Jalil berujar, Desa Walatung juga bisa dikembangkan sebagai desa wisata karena mempunya lahan rawa yang sangat luas. “Kami berencana akan menyulap rawa yang ada di Handil Katiau, Handil Pelajau dan Handil Binderang  sebagai lokasi wisata pemancingan lengkap dengan segala fasilitasnya,” bebernya.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Walatung, Supiani mengaku banyak ilmu yang didapatkan dalam kegiatan studi banding.

“Kita akan berupaya untuk mengadopsi ilmu yang didapatkan. Selama ini BUMDes Walatung belum mengalami kemajuan yang pesat, karena itu diharapkan usai studi banding ini, kita bisa implementasikan ilmu yang didapat,” harapnya.

Supiani berujar, sebagai sentra kerajinan anyaman purun, kedepannya di Desa Walatung akan ada lokasi penanaman purun dilahan abadi.

“Kita kadang sedih melihat warga membeli purun jauh ke luar desa karena tanaman purun makin menyusut. Karena itu kita akan siapkan lahan abadi untuk  tanaman purun sehingga masyarakat tidak perlu lagi susah payah memcari purun ke luar desa. Kemudian kita juga akan budidayakan tanaman pohon enau agar produksi gula merah dan kolang kaling terus berjalan,” tandasnya.

Sedangkan Sekdes Walatung, Hidayatullah mengungkapkan, ada tiga desa yang sudah mereka agendakan untuk dikunjungi. Namun karena keterbatasan waktu, maka kunjungan ke Desa Tiwingan Lama dibatalkan.

Secara terpisah, Kepala Desa Mandi Kapau Barat, Abdul Basit mengaku sangat senang mendapat kunjungan “petinggi” Desa Walatung.

“Suatu kebanggan bagi kita bisa berbagi ilmu  tentang bagaimana agar BUMDes bisa maju dan makin berkembang,” ujarnya.

Basit mengungkapkan, wisata Danau Tamiang memberikan andil yang besar terhadap PAD.

“Sebelum pandemi, Danau Tamiang berkontribusi menyumbang PAD rata-rata Rp100 juta per tahun. Saat pandemi masih bisa menyumbang separonya,” terangnya.

Dibeberkan Basit, ada beberapa kiat yang mesti dilakukan agar tempat wisata tidak sepi dari kunjungan wisatawan. Yang pertama harus ramah kepada pengunjung, bersih dari sampah dan aman untuk dikunjungi.

“Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah musalla dan toilet harus disiapkan. Satu lagi yang tidak boleh diabaikan harga barang yang dijual di tempat wisata tidak boleh mahal,” tandasnya.

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait