Sejak Pandemi Wisata Alam Punggu Alas “Mati Suri”

SEPI-Wisata alam Punggu Alas menjadi salah satu pariwisata di Kalimantan Tengah yang terdampak pandemi.(dany)(kalselpos.com)

Katingan, kalselpos.com-Wisata alam Punggu Alas menjadi salah satu magnet pawisata di Kalimantan Tengah.

Ada beberapa macam daya tarik yang cukup menjual di lokasi yang tersembunyi di hutan belantara Kabupaten Katingan itu.

Bacaan Lainnya

Keberadaannya kini diurutan nomor dua pariwisata paling banyak mendapat kunjungan, setelah Taman Nasional Tanjung Puting, di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Kata orang, Punggu Alas memililiki berbagai sesuatu yang tersembunyi yang tak dimiliki oleh Taman Nasional lain di Kalimantan Tengah.

Pagi itu sekira pukul 06.00 WIB, penulis berkesempatan melakukan perjalanan dari Kota Kasongan menuju Taman Wisata Alam Punggu Alas.

Perjalanan menggunakan kendaraan roda empat ditempuh dengan waktu tiga jam hingga mencapai Dukuh Kereng Pakahi. Untuk melanjutkan perjalanan dilanjutkan dengan transportasi air sejenis perahu bermotor berukuran kecil atau atau dikenal masyarakat dengan nama Perahu Cess.

Kereng Pakahi adalah sebuah kampung para nelayan. Awalnya tempat itu menjadi lokasi mencari ikan masyarakat. Beragam ikan banyak ditemukan, seperti Baung, Tapah, Gabus, Lele, Lawang dan berbagai jenis hewan air lainnya.

Lokasinya yang tepat berada ujung jalan dari Kota Kasongan membuatnya strategis. Kendaraan roda dua dan empat rata rata berhenti disitu.

Kondisi tersebut menjadi bisnis sendiri bagi masyarakat yang membangun garasi untuk parkir motor dan mobil. Pelancong yang melanjutkan perjalanan menuju desa bagian hilir seperti Keruing, Tampelas, Telaga, Galinggang, menitipkan kendaraan di tempat itu.

Pembangunan jalan menuju Kecamatan bagian Selatan masih terus dikerjakan oleh dua perusahaan lewat program CSR.

“Untuk tarif pulang pergi biayanya Rp500 ribu Pak, tapi kalau mau bermalam biaya nambah,” ungkap Bapak Lili, ketika penulis bertanya.

Menumpang perahu motor kecil, perjalanan dilanjutkan. Membelah Sungai Katingan, sangat terasa berbeda. Arus air yang deras seolah olah menghentak dan mengingatkan betapa kuatnya air.

Sempat terpikir, jika perahu terbalik di tengah sungai berarus deras. Beruntung sejak naik perahu kecil, rombongan mengenakan rompi pelampung.

Setelah 15 menit, perahu motor mulai masuk kanal yang memang sengaja dibuat menuju obyek wisata Punggu Alas.

Air berubah warna menjadi hitam. Terik matahari siang mulai berkurang, pepohonan rapat melindungi dari panas. Kanal ukuran empat meter seakan menutup sinar matahari, bak hari senja. Keheningan mulai terasa, selain gemuruh Perahu Cess bermesin Yamaha MZ 175.

Sejenak pikiran menjadi tenang, melupakan semua beban selama menjalani kehidupan. Air sungai tenang, seakan memberi kesejukan jiwa.

Semakin jauh masuk, kanal semakin sempit. Keteduhan makin meningkat. Kesendirian terpecahkan ketika melihat sebuat perahu cess milik warga Desa Keruing tambat di sebuah parit anak kanal. Kayu garu yang telah lama terendam air tampak dalam perahu cess.

Lokasi hutan yang masih terlihat asli ternyata memberi penghidupan. Warga Desa Keruing berburu Kayu Garu yang harganya cukup menggiurkan.

“Selama kegiatan masyarakat tidak merusak hutan, seperti menebang pohon dan lainnya, maka segala aktivitas diperbolehkan di Taman Nasional Punggu Alas,” ungkap sumber kompeten.

Masyarakat hidup berdampingan dengan alam. Tanpa merusak. Warga malah membantu melakukan pengamatan terhadap prilaku orang hutan di sekitar hutan.

“Sudah ada 46 individu Orang Hutan yang teridentifikasi. Kalau populasinya, diperkirakan mencapai angka 4000 sampai 6000 yang ada di Punggu Alas,” tambahnya.

Punggu Alas menjadi satu satunya Obyek Wisata lokasi Orang Hutan liar. Penelitian dan pengamatan yang dilakukan sebatas mengetahui sumber makanan yang diperoleh.

Tanpa memberi makan. Lokasi ini bukan merupakan tempat rehabilitasi Orang Hutan seperti Taman Nasional Tanjung Puting. Itulah yang membedakan Taman Nasional Sebangau “Punggu Alas.”

“Penelitian sebatas mengetahui pepohonan yang menjadi tempat mencari makan, kapan berbuah. Tanpa memberi makan. Jadi memang orang hutan liar bukkan rehabilitasi,” jelasnya.

Selama perjalanan dalam kanal terlihat plank nama orang hutan yang telah teridentifikasi dengan berbagai macam nama dan usia. Tepat Pukul 12.00 WIB penulis tiba di Kantor Resort Punggu Alas.

Sarana yang disediakan sangatlah cukup. Ada dua buah bangunan resort dan satu bangunan aula lengkap dengan fasilitas listrik tenaga surya dibantu genset. Toilet juga tersedia di dalam resort.

Bangunan berbentuk rumah panggung dari kayu, sebelum pandemi banyak diminati oleh turis manca negara, baik dari Eropa, Amerika Serikat dan Asia.

Para Turis luar negeri biasanya menginap semalam untuk menikmati suasana menenangkan ditengah hutan belantara Kalimantan Tengah.

Bangunan berdiri tepat dipinggir sungai dan disediakan dermaga untuk duduk santai, mandi, memancing serta kegiatan lain.

Punggu Alas direkomendasikan untuk orang yang menyukai suasana dalam padang belantara hutan ditemani ciutan burung, bunyi binatang lain yang bersatu padu.

Untuk makan disarankan membawa makanan mentah untuk dimasak di tempat. Fasilitas dapur yang disediakan sangatlah cukup.

Wisata Alam Punggu Alas menyediakan keberadaan alam yang memberikan kesejukan dari pepohonan besar.

Keheningan tercipta dengan suara suara khas hutan. Kejauhan terdengar bebunyi bersahutan orang hutan menjelang malam.

Bagi pecinta wisata petualangan dan ilmu pengetahuan tempat ini sangat direkomendasikan.

Sangat disayangkan, sejak dua tahun terakhir kunjungan turis domestik dan manca negara zero alias kosong. Hal itu berkaitan dengan siklus pandemi yang masih belum berakhir.

Raya Sadianor, pelaku usaha wisata menceritakan, semenjak pandemi kunjungan wisata sudah tidak ada. Padahal, kata dia, Desa Karuing yang merupakan simpul wisata, menawarkan berbagai atraksi budaya seperti kuntaw (pencak silat), lawang sakepeng sambil menikmati seduhan Kopi khas “Indukuh” asli dari hasil kebun desa.

“Di kawasan Hutan Desa Taman Nasional Sebangau (Punggu Alas) telah disediakan bangunan resort untuk penginapan yang dikelola oleh Desa Karuing, selain yang dikelola oleh Pemerintah,” tuturnya (8/11).

Kini wisata kebanggaan Warga katingan mati suri. Dedaunan berserakan menutupi jalan titian dan lantai dermaga. Bangunan rumah terlihat kurang terawat dan makin lapuk seiring matahari senja yang makin menua menuju kegelapan. Habis gelap terbitlah terang.

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.