Tersangka pencuri Susu ‘dibebaskan’ Kejari Banjarmasin lewat Keadilan Restoratif

  • Whatsapp
[]istimewa SERAHKAN BARBUK - Kasi Pidum Kejari Banjarmasin, Denny Wicaksono SH MH (kanan) saat menyerahkan barang bukti pencurian berupa susu kotak kepada korban, menandai diselesaikan perkara dengan prinsip keadilan restoratif terhadap tersangka Dicky Wahyudi, Selasa (7/12/21) kemarin(kalselpos.com).s.a lingga

Banjarmasin, kalselpos.com– Air mata keluarga Dicky Wahyudi, tersangka kasus pencurian susu kotak, spontan menetes, begitu mengetahui kasus yang menjeratnya itu dihentikan penuntutannya oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejati) Banjarmasin.

Suasana haru pun seketika pecah, begitu pihak keluarga menyaksikan, Dicky Wahyudi menerima surat penghentian penuntutan tersebut, Selasa (7/12/2021) siang.

Bacaan Lainnya

Dicky sendiri, kini terhindar dari ancaman hukuman penjara, usai pihak Kejari Banjarmasin melakukan mediasi lewat semangat restorative justice atau keadilan restoratif.

Dan, pihak Kejari Banjarmasin sukses memerankan fungsinya, hingga pihak korban bersedia memaafkan tersangka Dicky Wahyudi.

Surat Penghentian Penuntutan diserahkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Banjarmasin, Tjakra Suyana Eka Putra melalui Kasi Tindak Pidana Umum (Pidum), Denny Wicaksono SH MH di dampingi Kasi Intelijen, Budi Muklish di Kantor Kejari setempat.

Penyerahan juga disaksikan perwakilan korban serta penyidik dari Polsek Banjarmasin Utara yang menangani kasus tersebut.

 

Mendapat restorative justice, Dicky mengaku tak akan mengulangi lagi perbuatan melawan hukum.

“Saya tidak lagi melakukan hal begini,” kata Dicky, seraya meminta maaf kepada pihak korban.

Dicky sebelumnya diamankan polisi pasca dilaporkan mencuri dua kotak susu dengan nilai kurang lebih
Rp150 ribu di sebuah ritail mederen di Jalan Adhyaksa, Kota Banjarmasin, pada April 2021.

Dicky mengaku nekat melakukan pencurian karena tak tahan mendengar dua keponakannya yang berusia dua dan tiga tahun terus menangis meminta susu.

Padahal, sambung Dicky, orangtua anak-anak tersebut yang juga kakak kandungnya berada di tengah kondisi keuangan yang sulit karena menjadi korban PHK.

“Untuk keponakan, anaknya kakak. Umurnya dua dan tiga tahun menangis kehabisan susu,” kata Dicky sambil tertunduk.

Sedangkan perwakilan korban, Linda Permata mengatakan, sudah memaafkan Dicky. “Insyaallah dari pihak kami sudah ikhlas saja,” ujarnya.

Sementara, Kasi Pidum Kejari Banjarmasin, Denny Wicaksono, mengupayakan mediasi dengan prinsip keadilan restoratif karena beberapa hal.

Pertama, karena kasus ini masuk dalam kriteria seperti dalam Peraturan Kejaksaan Agung RI Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

Di mana syarat utama yaitu tersangka belum pernah menjadi terpidana, ancaman hukumannya tidak mencapai lima tahun dan nilai kerugian korban tak mencapai Rp2,5 juta.

Kedua, upaya tersebut juga telah telah dikonsultasikan dan mendapat persetujuan dari pimpinan di Kejaksaan Agung.

“Kami memfasilitasi mediasi saat tahap II yaitu penyerahan tersangka dan barang bukti,” ujar Denny.

 

Denny memaparkan, upaya mediasi serupa sebenarnya juga telah dilakukan oleh penyidik Kepolisian, namun belum dicapai kesepakatan.

“Dalam mediasi di Kejaksaan, kami memastikan kepada pihak korban, jika surat penghentian penuntutan tersebut bisa sewaktu-waktu dicabut, dan penuntutan bisa dilanjutkan jika yang bersangkutan mengulangi perbuatannya,” jelasnya.

“Kita melihat sebenarnya niat yang bersangkutan ini baik, tapi tindakannya yang salah,” lanjutnya.

Penyelesaian perkara di luar pengadilan oleh Kejari Banjarmasin ini lanjut Denny merupakan yang pertama di tahun 2021, setelah ada tiga kasus lain di tahun 2020 yang juga diselesaikan dengan prinsip keadilan restoratif.

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.