Kondisi Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara Di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Rizki Ananda Putra

Indonesia merupakan negara agraris, hal ini karena sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Terletak di daerah katulistiwa, tanah yang subur, sumber daya alam dan sumber daya manusia merupakan keuntungan dan keunggulan bagi negara Indonesia.

Bacaan Lainnya

Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Sektor pertanian dalam arti luas mencakup pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini tentunya berdampak besar terhadap berbagai sektor di Indonesia di antaranya sektor pertanian, sektor industri, sektor dunia usaha, sektor perdagangan dan lain –lain. Yang kesemua itu berdampak pada kesejahteraan masyarakat, akibat kehilangan pekerjaan (pengangguran) dan daya beli masyarakat menurun.

Tetapi pemerintah tidak tinggal diam, banyak berbagai dana digelontorkan oleh pusat seperti: Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Sembako, Bantuan Dana Desa, Kartu Pekerja, BLT Usaha Mikro Kecil dan sebagainya.

Sektor pertanian skala kecil, menjadi peluang bagi mereka yang kehilangan pekerjaan, apalagi ada bantuan modal dari pemerintah.

Rumah tangga–rumah tangga bisa membuat inovasi menanam di pekarangannya, atau kalau tidak punya pekarangan bisa memanfaatkan dengan metode pot dan hidroponik.

Selain itu juga bisa memelihara ayam, bebek ataupun memelihara ikan dengan membuat kolam.

Jenis tanaman yang diusahakan seperti : lombok besar, lombok kecil, terong, tomat, bayam, sawi, mentimun dan lain–lain.

Dengan usaha tersebut selain untuk konsumsi sendiri juga bisa dijual, sehingga bisa menambah pendapatan mereka.

Untuk Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan dengan kondisi lahan dataran rendah, dan sebagian besar merupakan daerah rawa, sangat berbeda kondisinya dengan daerah dataran tinggi, seperti di Jawa.

Kalau di Jawa 1 tahun bisa bertanam rata-rata 3 kali, di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagian besar masyarakatnya bertanam hanya 1 kali pada musim kemarau, karena pada saat itu rawanya tidak tergenang atau kering dan bisa ditanami. Di sebagian kecil wilayah dengan dataran yang agak tinggi bisa ditanami 2 kali dalam satu tahun.

Untuk masyarakat perkotaan di Kabupaten Hulu Sungai Utara, menurut pengamatan penulis di depan rumah, banyak menanam tanaman dalam pot, seperti lombok, tomat, terong, jeruk purut, dan juga tanaman buah yang dicangkok seperti sawo, mangga, rambutan dan lain–lain, selain itu ada juga yang menanam tanaman hias.

Hal ini dimungkinkan karena di masa pandemi Covid-19 banyak waktu luang untuk menanam tanaman-tanaman tersebut. Tidak banyak membutuhkan modal, tetapi perlu sedikit tenaga untuk merawatnya, dan itupun hanya bisa dikerjakan bersama keluarga.

Untuk daerah pedesaan di Kabupaten Hulu Sungai Utara, menurut informasi dari salah seorang pegawai di Dinas Ketahanan Pangan ada bantuan dari pemerintah pusat, dengan nama “Pekarangan Pangan Lestari atau disingkat P2L”.

Kegiatan tersebut adalah bantuan pemerintah yang ditransfer ke rekening kelompok dengan acuan sebagai berikut: Dibentuk kelompok yang rumahnya berdekatan sebanyak kurang lebih 20 rumah tangga, dengan struktur organisasi ada ketua, sekretaris, bendahara dan anggota.

Bantuan sosial dapat dimanfaatkan untuk menanam pekarangan di rumah masing–masing, tapi sebelum itu tiap kelompok harus membuat kebun bibit, setelah pembibitan baru dibagikan ke anggota kelompok. Dana tersebut bisa dipakai untuk pertemuan, membeli bibit, pupuk, tanah subur dan polybag.

Pemerintah berharap hasil panen dari kegiatan tersebut, bisa dimanfaatkan oleh anggota kelompok dan keluarganya sehingga tercapai kebutuhan gizi keluarga dan bila berlebih hasil panen bisa dijual sehingga dapat menambah pendapatan.*

Penulis adalah mahasiswa STIPER Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalsel.

 

Berita lainnya Instal Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait