Ini Karomah Datu Abulung saat dikerangkeng dan ditenggelamkan ke sungai

Kubah Syekh Abdul Hamid Abulung/ Datu Abulung di Sungai Batang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. (muliadi)(kalselpos.com)

kalselpos.com – Syekh Abdul Hamid Abulung Al-Banjari atau lebih dikenal dengan Datu Abulung merupakan salah satu ulama Banjar yang berpengaruh pada masanya.

Datu Abulung adalah ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham “wahdatul wujud”.

Bacaan Lainnya

Syekh Abdul Hamid dilaporkan mengajari orang-orang bahwa “Tidak ada wujud kecuali Allah. Tidak ada Abdul Hamid kecuali Allah, Dialah aku dan akulah Dia”.

Karena keras pendirian dengan paham beliau, maka dihukum mati oleh keputusan Sultan Tahmidillah.

Dari beberapa sumber mengungkapkan, keputusan Sultan atas pertimbangan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu kelampayan yang waktu itu menjabat sebagai Mufti Besar.

Pandangan tasawuf yang dianut Datu Abulung dipengaruhi aliran ittihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani dan Syekh Siti Jenar.

Syekh Abdul Hamid dalam mengembangkan ajaran wujudiyyah mulai mendapatkan sandungan ketika tersiar sampai ke telinga Sultan Tahmidillah dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari bahwa ajaran yang dibawanya dianggap meresahkan masyarakat.

Pada masa Kesultanan Banjar diperintah oleh Sultan Tahlilullah, Syekh Abdul Hamid dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari diberangkatkan Kesultanan Banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan ke Tanah Suci Mekkah.

Namun sepak terjangnya tidak banyak yang mengetahui, karena ia tidak meninggalkan kitab karangan seperti ulama-ulama lainnya.

Syekh Muhammad Arsyad sebagai penganut ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani Al-Madani guru dari tokoh-tokoh Tarekat Sammaniyah Nusantara tidak sepakat dengan pemikiran wujudiyyah nya Syekh Abdul Hamid dan bahkan menganggapnya musyrik.

Akibat dari pemikirannya, Syekh Abdul Hamid Abulung berakhir hidupnya di tangan para algojo Kesultanan Banjar.

Masa itulah muncul karomah Datu Abulung. Meski ditenggelamkan ke landasan sungai, ajaibnya setiap waktu sholat tiba, kerangkeng besi naik ke permukaan air dan terlihatlah Syeikh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung sedang melaksanakan sholat.

Setelah sholatnya habis, kerangkeng itu pun tenggelam lagi, hal itu terjadi berulang-ulang.

Demikian itu populer dalam kisah rakyat Banjar.

Singkat ceritanya, Syekh Abdul Hamid Abulung dimakamkan di Kampung Abulung Sungai Batang Martapura.

Setelah itu, Sultan Tahmidullah II yang memerintah periode 1761-1801 membangun Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung sebagai bentuk penebusan dosa karena telah memerintahkan para algojo raja untuk mengeksekusi Datu Abulung.

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait