Kitab Barencong ditemukan di sebuah Tas Datu Nuraya, begini ceritanya.!

Makam Datu Nuraya panjang sekitar 60 meter di Desa Tatakan, Kabupaten Tapin, Kalsel.(istimewa)(kalselpos.com)

kalselpos.com – Gurunya para datu – datu, termasuk Datu Sanggul yaitu Datu Suban.

Datu Suban adalah seorang guru miskin yang tinggal di Pantai Jati, Munggu Karikil dekat Liang Macan, tetangga Desa Tatakan.

Bacaan Lainnya

Gurunya Datu Sanggul atau Syekh Muhammad Abdussomad di daerah Desa Tatakan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel) sangat tinggi dan dalam ilmu tasawufnya.

Datu Suban bersama istri hanya makan singkong setiap harinya.

Mana kala saat lebaran atau Hari Raya, maka Datu Suban kedatangan 13 orang murid-muridnya, yaitu, Datu Murkat, Datu Taming Karsa, Datu Niang Thalib, Datu Karipis, Datu Ganun, Datu Argih, Datu Ungku, Datu Labai Duliman, Datu Harun, Datu Arsanaya, Datu Rangga, Datu Galuh Diang Bulan, dan murid terakhir Datu Sanggul.

Saat menjamu para murid dengan menyuguhkan hidangan ala kadarnya. Kemudian para murid menikmati hidangan yang disediakan sang guru atau tuan rumah.

Kemudian secara tiba-tiba datang seorang yang bertubuh sangat besar dan tinggi luar biasa.

Mereka semua sangat terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang tersebut.

Orang berbadan besar dan tinggi tersebut dengan tenang mengucapkan salam. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sambil mendekat.

Para datu pun langsung serentak menyahut ‘wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Lantas Datu Suban mengatakan kepada murid-muridnya, bahwa orang yang memberi salam itu insya Allah akan berniat baik dan tidak membahayakan.

Lalu Datu Suban bertanya kepada tamu yang bertubuh panjang dan besar itu, dengan adab didahului dengan kata “Maaf”, siapa saudara, dan dari mana saudara, dan apa maksud saudara.

Manusia bertubuh raksasa itu hanya menjawab dengan ucapan La ilaha illallah.

Menariknya, setiap Datu Suban bertanya selalu jawabnya dengan kalimat tauhid La ilaha illallah.

Datu Suban bertanya hingga 7 dan dijawab dengan 7 kali dzikir tauhid itu.

Setelah 7 kali dzikir tersebut, tiba-tiba raksasa itu ambruk. Lalu para Datu menghampiri dan memeriksanya.

Ternyata orang besar itu telah meninggal dunia, serempak mereka mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Setelah itu, para Datu yang berjumlah 13 orang tadi bingung, bagaimana cara memandikan dan menguburkannya.

Sedangkan waktu itu saat musim kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras, sementara lubang untuk penguburan harus lebar dan panjang.

Sementara untuk memandikannya juga diperlukan air yang sangat banyak.

Di tengah kebingungan para datu, tiba-tiba hujan lebat turun dan ketika mereka mengangkat jenazah dengan mengerahkan tenaga penuh, ternyata tubuh orang besar itu sangat ringan, hanya seperti segumpal kapas.

Para datu pun serentak berseru Subhanallah.

Sebelum mereka membersihkan jenazah tersebut, Datu Suban menemukan sebuah tas selempang dari dalam pakaian nya.

Setelah membukanya ternyata terdapat sebuah kitab yang akhirnya terkenal dengan sebutan “Kitab Barencong”.

Para Datu mulai membagi tugas, membersihkan mayat ialah Datu Argih, Datu Niang Thalib, Datu Ganun, Datu Labai Duliman, Datu Ungku, sedangkan Datu Karipis bertugas mencari batu nisan dari batu alam.

Sedang yang lain membuat lubang kubur di gunung Munggu Karikil dekat Munggu Tayuh.

Konon lubang yang digali tidak cukup untuk mengubur jenazah itu, terpaksa kakinya harus dilipat sehingga tubuhnya seperti huruf hamzah.

Pada hari ketujuh setelah meninggalnya raksasa itu, Datu Suban membuka kitab yang ditemukan pada jenazah tersebut di hadapan 13 muridnya sambil mengucap basmalah, ternyata berisi bermacam-macam khasiat ilmu dunia dan akhirat.

Akhirnya orang besar tersebut diberi nama “Nur Raya” karena dia datang pada hari raya dan wafat pada hari itu juga dan sesuai dengan badannya yang “raya”.

Nur Raya berarti pembawa cahaya yang sangat luas seperti raya, dengan panjang kuburnya kurang lebih 60 meter (dengan kaki dilipat, kalau tidak dilipat mungkin bisa sampai 100 meter) dan lebar kurang lebih enam meter.

Setelah para Datu meninggal, tidak ada yang mengetahui dimana letak makam Datu Nuraya.

Namun beberapa tahun kemudian penduduk Munggu Tayuh, Tatakan, ketika malam hari sering melihat cahaya yang memancar dari tanah di sekitar Benteng Munggu Tayuh naik ke atas langit.

Salah seorang penduduk yang penasaran, berusaha mencari asal sumber cahaya tersebut, dan orang itu menemukan 2 batu yang besar dengan jarak 45 meter lebih, dan persis seperti batu nisan yang menghadap ke arah kiblat.

Penduduk tersebut bernama Baseran yang bergelar Utuh Karikit.

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait