Dari sidang kasus Pemukulan di Jalan Prona, Terdakwa mengaku Khilaf

[]istimewa LAKUKAN PEMBELAAN - Jurkani (61), terdakwa kasus dugaan pemukulan terhadap seorang warga di Masjid Nurul Iman Jalan Prona I RT 11 Kelurahan Pemurus Baru Kecamatan Banjarmasin Selatan, saat mengajukan pembelaan diri secara tertuli(kalselpos.com)

Banjarmasin, kalselpos.com– Jurkani (61), terdakwa kasus dugaan pemukulan terhadap seorang warga di Masjid Nurul Iman Jalan Prona I RT 11 Kelurahan Pemurus Baru Kecamatan Banjarmasin Selatan, mengajukan pembelaan diri secara tertulis ke majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, yang menyidangkannya, Senin (26/7/2021) petang.

Bacaan Lainnya

Terdakwa yang saat kejadian merupakan salah seorang tim sukses calon gubernur Kalsel tersebut, kepada majelis hakim yang diketuai Heru Kuntjora SH, meminta hukuman yang seringan – ringannya.
“Saya orang yang berprofesi sebagai praktisi hukum, saya mengerti hukum dan telah banyak membantu masyarakat mencari keadilan hukum di persidangan. Oleh karena itu saya mentaati hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia,” kata Jurkani secara tertulis di persidangan yang dilakukan secara virtual tersebut.
Ia mengaku, sudah 25 tahun mengabdikan diri di Kepolisian Republik Indonesia dan telah purna tugas dengan pangkat AKP sebagai penyidik di Polda Kalsel. Di samping itu, ia juga mengaku sangat menyesali perbuatannya yang khilaf, sehingga diadili dan didudukan di kursi pesakitan.
“Saya sudah pernah menyampaikan permohonan maaf kepada pelapor (korban) Salmansyah pada saat mediasi Polresta Banjarmasin,” ungkapnya.
Ia juga mengaku, selama hidup hingga berumur 61 tahun, tidak pernah melakukan perbuatan tindak pidana dan perbuatan hukum lainnya. “Saya sebagai tulang punggung keluarga, memohon kepada majelis hakim memberikan putusan seringan-ringannya untuk mendapatkan rasa keadilan seadil-adilnya,” jelas Jurkani.
Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Radityo SH yang diberi kesempatan untuk menanggapinya atap Replik, tetap pada tuntutan awal, karena menilai penyampaian terdakwa melalui penasihat hukumnya dalam pledoi, hanya berisi asumsi-asumsi yang tidak bisa dibuktikan dalam persidangan. .
Berdasarkan alat bukti dari keterangan para saksi ditambah surat visum, JPU tetap berkeyakinan ada perbuatan terdakwa Jurkani yang melakukan penganiayaan terhadap korban, sebagaimana diatur Pasal 351 ayat 1 sebagaimana dalam dakwaan pertama yaitu tentang penganiayaan.
Sebelumnya, JPU menuntut terdakwa Jurkani dengan tuntutan pidana penjara selama 1 tahun dengan mempertimbangkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan.
Sedang, Supiansyah Darham SH selaku penasihat hukum Jurkani, seusai persidangan mengatakan, dari fakta – fakta persidangan dan bukti, seperti dalam video yang dijadikan bukti serta keterangan saksi, tidak ada membuktikan peristiwa pemukulan.
“Dari rekaman video kejadian, tidak ada membuktikan adanya tendangan dan pemukulan yang membuktikan mengenai wajah korban, itu tidak ada,” jelasnya.
Bahkan, info ada keributan saat di dalam Masjid Nurul Iman Jalan Prona I RT 11 Kelurahan Pemurus Baru dan tindakan menarik paksa, sehingga korban terseret juga tidak dapat dibuktikan. “Karenanya, kami meminta terdakwa dibebaskan dari tuntutan tersebut. Alasannya, karena saat di dalam masjid tidak ada terjadi penendangan dan seretan. Mereka ke luar bersama – sama, itu fitnah menyebut ada terjadi penendangan dan seretan di dalam masjid,” tegasnya.
Sekedar mengingatkan, Jurkani didudukan di kursi pesakitan PN Banjarmasin, karena diduga melakukan pemukulan terhadap korban Salman, di sekitar Masjid Nurul Iman, Jalan Jalan Prona I RT 11 Kelurahan Pemurus Baru.

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait