Final Piala Eropa Italia vs Inggris ”Football Coming Rome, not Coming Home”

Indria Purnama Hadi(kalselpos.com)

Sejarah ternyata tak terulang. Data prestasi ternyata lebih berbicara. Italia menang atas Inggris di final EURO melalui adu penalti yang berakhir 3-2, setelah skor sama kuat 1-1 hingga babak perpanjangan waktu.
Inggris memang pernah meraih gelar juara Piala Dunia di Stadion Wembley tahun 1966 lalu. Dan itu merupakan gelar satu-satunya Inggris di turnamen utama. Di sisi lain, statistik prestasi yang dimiliki Italia, jauh lebih moncer. Italia adalah juara dunia empat kali, dan sekali menjadi kampiun Eropa. Bahkan statistik timnas asuhan Roberto Mancini sangat cemerlang. Sejak dilatih oleh Mancini 2018, Chielini dan kawan-kawan tak terkalahkan 34 kali! Termasuk saat menang melawan Inggris di final Piala Eropa 2020 tadi.
Dalam laga final Euro 2020, Italia unggul segalanya. Mereka mencatatkan 15 tendangan ke arah gawang dengan 6 di antaranya on target, unggul jauh dibandingkan Inggris yang hanya mencatatkan 5 tendangan ke arah gawang dan hanya satu yang on target. Meski sama-sama satu yang menjadi gol. Itali juga unggul jauh dalam penguasaan bola. Leonardo Bonnuci cs mampu menguasai bola 68 persen, Inggris hanya 32 persen.
Tetapi semua tahu, hasil laga final Inggris-Italia ditentukan oleh adu penalti. Dalam babak ini, tentu saja strategi pelatih dalam memilih penendang merupakan hal terpenting. Dan di sini, harus diakui Gareth Soutgate salam memilih penalti shooter dibanding Roberto Mancini. “Kesalahan” Southgate adalah menyerahkan beban berat dalam babak menentukan sejarah sepakbola Inggris itu kepada pemain-pemain muda yang notabene masih kurang matang mentalnya, terutama untuk turnamen utama selevel Piala Eropa ini. Marcus Rashford, Jardon Sancho, dan Bukayo Saka, mungkin adalah pemain terbaik di posisinya dalam permainan terbuka. Tetapi tidak dalam adu mental seperti adu penalti di final Piala Eropa. Terlebih penjaga gawang yang dihadapi adalah Gianluigi Donarumma, kiper senior AC Milan yang jadi palang pintu terakhir Italia. Jika harus berandai-andai, rasanya Luke Shaw, dan Sterling layak dikedepankan dalam tos-tosan itu. Di sisi lain, Roberto Mancini dengan yakin tetap menurunkan pemain seniornya dalam adu penalty. Pemain dengan caps 105, Leonardo Bonnucci menjadi salah satu penendang penalty yang sukses menjaringkan bola.
Terlepas dari itu semua, penampilan penjaga gawang Jordan Pickford dan Donarumma memang layak diacungi jempol. Namun harus diakui senioritas Donarumma membuat dia lebih matang dan perbawanya membuat Marcus Rashford gugup dan kagok saat akan menendang bola. Bahkan saat Donarumma sudah salah arah, tendangan Rashford tetap tidak menjadi gol karena membentur tiang gawang. Kegagalan Rashford, diikuti Sancho dan Saka yang tendangannya bisa ditahan Donarumma.
Kejuaraan sepakbola antar negara Eropa telah selesai. Bahana keriaan yang seolah menandai berakhirnya pandemic di 11 negara Eropa tempat penyelenggaraannya, telah mencapai puncaknya. Sepakbola ternyata tidak pulang ke tanah kelahirannya Inggris, tetapi lebih memilih melancong ke negeri Italia. Footbal coming Rome, not coming home. Salut untuk Inggris, selamat buat Italia! (Indria Purnama Hadi, pewarta, penikmat sepakbola)

 

Bacaan Lainnya

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait