Prediksi Final Piala Eropa “Footbal Coming Home” Sepakbola Kembali ke tanah kelahirannya

Indria Purnama Hadi(kalselpos.com)

Stadion Wembley, Minggu malam ini waktu setempat, atau Senin dinihari pk.02.00 WIB di Indonesia, akan menjadi tempat bersejarah, menjadi saksi, siapa raja sepakbola Eropa sesungguhnya.
Penyelenggaraan EURO 2020, memang sangat spesial dan kemungkinan besar tidak akan terulang lagi. Piala Eropa 2020, yang dilaksanakan tahun 2021, dihelat di 11 kota, di 11 negara Eropa. Kota-kota itu adalah Amsterdam, Budapest, Baku, Muenchen, Bucharest, St. Petersburg, Kopenhagen, Sevilla, Glasgow, Roma dan London. Akibatnya setiap tim harus menempuh ribuan kilometer, bahkan ada yang mencapai belasan kilometer. Timnas Swiss bahkan harus menembuh 15 ribu kilometer lebih sebelum terhenti di babak perempat final. Laga yang berpindah-pindah kota berbeda negara membuat hal itu terjadi. Di sisi lain, dua kesebelasan yang tampil di final, Italia dan Inggris, di babak penyisihan grup mereka bermain di kandang, jadi “tidak bepergian” sama sekali. Inggris dan Italia baru melakukan perjalanan tandang saat memasuki babak gugur. Namun Italia, melakukan perjalanan sedikit lebih jauh, karena selain harus bertandang di babak 16 dan 8 besar, mereka harus bertamu ke London, Inggris. Mereka bahkan kembali ke Florence dulu setelah menang di semifinal melawan Spanyol. Sementara Inggris menjadi bermain di stadion Wembley. Total Inggris hanya akan menempuh jarak kurang dari 4000 kilometer, dan Italia sedikit lebih jauh.
Apakah hal ini akan berpengaruh terhadap kondisi stamina para pemain? Obyektif mestinya akan berpengaruh, tetapi karena Italia juga bertindak sebagai tuan rumah di babak penyisihan, maka selisih jarak tempuh disbanding Inggris tak terlalu jauh. Artinya, soal ini mestinya bisa diabaikan.
Penampilan mereka di lapangan, akan sangat sangat tergantung kesiapan masing-masing tim, terutama menyangkut skill, kedalaman tim, dan tentun saja strategi yang diracik pelatih.
Dari sisi skill, rasanya para pemain Inggris dan Italia bisa dikatakan sama kuat. Jika dihitung head to head, Inggris sedikit lebih unggul di bagian depan, dengan andalan mereka kapten tim Harry Kane dan sayap Raheem Sterling. Italia di depan memiliki Cirro Immobile, Insigne dan “super sub” Frederico Chiesa, yang di semifinal dimainkan sebagai starting XI.
Pertarungan sebenarnya akan terjadi di lapangan tengah. Bukayo Saka, Phil Foden, Jack Grealish dan Mason Mount akan menjadi ramuan paten dari pelatih Gareth Southgate. Di babak semifinal ke empat pemain itu tidak turun berbarengan. Saka yang tampil cemerlang digantikan Grealish yang beraksi sama bagusnya dengan Saka. Foden juga tampil penuh harapan, meski menjadi pemain pengganti. Lapangan tengah Italia akan diperkuat Verrati, Emerson dan Jorginho. Skill mereka juga di atas rata-rata. Mungkin yang akan bisa menjadi kendala bagi pemain tengah Italia ini adalah faktor usia, yang secara rataan lebih tua dibandingkan para pemain tengah Inggris. Inggris, saya prediksikan akan unggul di lini tengah ini, karena stamina dan semangat pemainnya yang lebih muda.
Italia mungkin akan sedikit unggul di lini belakang. Dua full back senior dengan caps di atas 100 kali, Giorgio Chielini dan Leonardo Bonnuci akan menjadi penghalang efektif bagi kiprah Kane dan Sterling. Belum lagi di bawah mistar gawang bercokol Gianluigi Donarumma yang menjadi palang pintu terakhir timnas Italia. Donarumma sudah teruji dan terbukti, saat tos-tosan dengan Spanyol. Tendangan Alvaro Morata berhasil ditahannya, dan membuat Italia maju ke partai puncak. Barisan pertahanan Inggris sebenarnya tak kurang tangguhnya dibanding bek-bek Italia. Anthony Walker, Harry Maguire dan Luke Shaw tak kalah moncernya. Terlebih Maguire dan Shaw sudah sehati karena merupakan rekan duet di klub Manchester United. Namun, insting menyerang berlebihan yang dimiliki Maguire dan Shaw, bisa menjadi boomerang bagi jantung pertahanan Inggris. Kedua pemain ini, kerap merangsek ke depan gawang lawan, sehingga dikahawatirkan terlambat, saat Italia melalukan serangan balik cepat seperti saat diperagakan melawan Spanyol. Di sisi lain, penampilan Inggris, Pickford, sedikit kurang teruji. Meski baru kebobolan satu gol oleh tendangan bebas pemain Denmark, Mikkel Damsgard, obyektif Pickford belum banyak mengalami serangan tim lawan karena kuatnya pertahanan timnas Inggris. Italia akan sedikit diuntungkan untuk lini pertahanan ini. Sayangnya Spinoza tidak bisa tampil di babak final karena cedera. Jika bek muda ini ada, bisa jadi pendukung Italia akan lebih tenang.
Inggris juga memiliki kedalaman pemain yang lebih dibandingkan Italia. Kemampuan para pemain utama Inggris dengan cadangannya, tak berselisih nyaris sama. Pemain yang nyaris tak tergantikan di Inggris adalah Kane, Sterling, Maguire dan Luke Shaw. Selebihnya bergantian, dan kemampuan mereka nyaris sama. Italia tak memiliki skuad mewah seperti Inggris. Cadangan mereka agak berjarak kemampuannya, dibanding para pemain utama. Terlihat mereka agak kepayahan saat pertandingan berlangsung 120 menit melawan Spanyol. Di babak tambah, pemain Italia, bermain seolah hanya menunggu terjadinya adu penalty. Harapan mereka tercapai, Italia akhirnya menang dalam adu pinalti karena ketangguhan Donarumma dan cerdiknya penendang Jorginho.
Pertandingan final EURO 2020 juga akan menjadi ajang adu taktik dan strategi antara dua pelatih, Gareth Southgate, coach Inggris dan pembesut tim Italia, Roberto Mancini. Dari sisi prestasi, Southgate masih di bawah Mancini. Mancini, yang besar saat menjadi pemain Sampdoria, pernah membawa Manchester City, menjadi juara Liga Primer Inggris untuk pertamakali. Timnas Italia, di bawah Mancini bahkan mencatatkan diri sebagai tim tak terkalahkan dalam 33 pertandingan berturut-turut. Di sisi lain, prestasi Southgate “satu-satunya” adalah membawa Inggris menjadi semifinalis Piala Dunia 2018.

Tentu saja, pertandingan sepakbola, apalagi seperti final Piala Eropa 2020, tak melulu tergantung pada faktor teknis, seperti kemampuan pemain di lapangan dan strategi pelatih di belakang. Ada sejumlah faktor non teknis, yang bisa jadi bahkan akan menjadi penentu hasil akhir pertandingan. Italia tentu saja tak mau melewatkan peluang untuk menjadi raja sepakbola Eropa. Mereka telah puasa gelar turnamen mayor setelah meraih Piala Dunia 2006. Italia pernah merajai Eropa pada tahun 1968. Sementara di sisi, lain, Inggris belum pernah sekalipun merebut Piala Eropa. Mereka pernah maju ke partai puncak pada tahun 1996, namun kandas di kaki Jerman. Gelar mayor satu-satunya yang dimiliki Inggris adalah juara dunia 1966, saat final kejuaraan tersebut dihelat di Stadion Wembley, yang juga akan menjadi “kendang” Inggris nanti malam. Mereka akan bermain di hadapan pendukungnya! Tentu saja bermain dengan dukungan sekitar 60 ribu penonton, jumlah yang diijinkan UEFA, akan membakar semangat para pemain Inggris. Mereka tentu tak ingin melewatkan sejarah menjadi juara Piala Eropa, setelah 55 tahun berpuasa gelar. Terlebih sejarah ini akan tercipta di negerinya. Rasanya, tanpa menafikkan kemampuan dan motivasi para pemain Italia, rasanya Inggris akan berjaya. Bisa jadi akan ditentukan lewat perpanjangan waktu, tetapi para skuad muda Inggris yang akan tertawa di akhir pertandingan. Tetapi saya lebih yakin pertandingan akan berakhir dalam waktu normal, dan Inggris juaranya. Football Coming Home! (Indria Purnama Hadi, pewarta, penikmat sepakbola)

Bacaan Lainnya

(Aplikasi Kalselpos.com)

Pos terkait