Paman Yani terkejut harga komoditi pertanian dan perkebunan anjlok

  • Whatsapp
Anggota Komisi II DPRD Kalsel, Muhammad Yani Helmi saat reses di Desa Gunung Ulin, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, Rabu (5/5).(ist)

Banjarmasin, kalselpos.com – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), Muhammad Yani Helmi mengaku terkejut hasil pertanian dan perkebunan di Kabupaten Kotabaru nilai harga jualnya di pasaran anjlok.

Hal ini dikarenakan produksi dua komoditi tersebut kalah bersaing dengan Sulawesi, Tanah Laut dan Banjar, bahkan dikabarkan daerah tersebut telah menguasai pendistribusian di pasar tradisional di wilayah itu sehingga para petani maupun pekebun mengalami kerugian secara materi yang tidak sedikit, parahnya lagi hasil panen ketika dipasarkan di pasar lokal saja sepi pembeli akhirnya perlahan tapi pasti pelanggan mereka semakin menurun.

Bacaan Lainnya

“Saya tidak enak mendengarnya, ketika mengetahui hasil bercocok tanam masyarakat harganya anjlok,” ujar Yani Helmi kepada kalselpos.com usai kegiatan reses hari kelima dalam rangkaian menjaring aspirasi masyarakat Desa Gunung Ulin, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, Rabu (5/5).

Menyikapi persoalan ini ia pun berjanji secepatnya akan memanggil sejumlah SKPD terkait seperti Dinas Perdagangan, Tanaman Pangan dan Holtikultura, Ketahanan Pangan hingga perkebunan di tingkat provinsi ataupun kabupaten untuk berdiskusi guna menyelesaikan permasalahan ini. Apalagi masyarakat disana menggantungkan hidup mereka dari penjualan komoditi pertanian dan perkebunan tersebut telah dilakukan secara turun menurun.

“Masyarakat di Desa Gunung Ulin itu mulai dari nenek moyang hingga kini mata pencaharian mereka tergantung dari pengolahan perkebunan dan pertanian, ini dilakukan dari generasi ke generasi,” terangnya.

Lanjut pria yang karib disapa Paman Yani ini berharap, adanya pola yang tepat agar hasil pertanian dan perkebunan milik masyarakat lokal di wilayah tersebut bisa mengusai pangsa pasar minimal di daerahnya sendiri. Kondisinya sekarang adalah meski dibantu dengan peralatatan mesin pertanian (alsintan) dan mendapatkan bibit unggul terbaik, apabila tidak diberikan bimbingan serta penyuluhan maka hasilnya pun dipastikan juga tidak maksimal.

“Oleh karena itu upaya kita bersama bagaimana mengakomodir petani di wilayah ini supaya produk lokalnya bisa menembus hingga ke Banjarmasin,” cetusnya.

Sementara itu salah seorang warga Desa Gunung Ulin, Abdul Wahid membenarkan hal tersebut dan berharap pemerintah bisa memberikan perhatian serius menangani permasalahannya baik bentuk strategi penjualan, penyuluhan secara berkala hingga menjaga kualitas sampai dengan teknik pembibitan yang benar.

“Tolong kepada pemerintah agar diperhatikan nasib kami, kadang-kadang karena kalah bersaing harga, akhirnya sayur mayur milik warga disini sering busuk dan dibuang,” keluh Abdul Wahid.

Senada Kepala Dusun Desa Gunung Tinggi, Syahrin menyebutkan, mayoritas masyarakat disini adalah petani dan mengelola perkebunan. Namun, setiap kali panen, harga yang mereka jual selalu mengalami kerugian bahkan anjlok dipasaran.

kalselpos.com: Berita Terkini Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis:
Editor:

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.