Tersangka penyanderaan yang Tewas ‘dilumpuhkan’, ternyata terkait Pernikahan tak Direstui

  • Whatsapp
[]adiyat BERI KETERANGAN PERS - Kapolres HSU, AKBP Afri Darmawan saat melakukan konfrensi pers, terkait kasus penyekapan di Amuntai Utara, Senin (22/2/21) siang, di Amuntai.

Amuntai, kalselpos.com – SA (45), tersangka penyanderaan terhadap M, gadis berusia 17 tahun, yang berhasil ‘dilumpuhkan’ unit Jatanras Satreskrim Polres Hulu Sungai Utara (HSU), ternyata masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) pihak kepolisian setempat.

 

Advertisements

Bacaan Lainnya

Tersangka SA sendiri juga pernah ditangkap oleh jajaran Polsek Amuntai Utara, pada November 2020 lalu, akibat kasus dugaan pencabulan terhadap korban M, namun yang bersangkutan berhasil melarikan diri.

Berdasarkan keterangan kepolisian, Minggu tanggal 2 Februari 2020 lalu, korban tanpa persetujuan orangtuanya, telah dinikahi secara Siri (kawin bawah tangan) oleh tersangka SA, di Babirik, HSU.

Seminggu kemudian korban dan tersangka ke rumah saudari Acil Surah dan keduanya sempat melakukan persetubuhan di kamar rumah tersebut.

Korban dan tersangka SA sempat pergi ke Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, pada Minggu (08/11/2020), sebelum diantar ke rumahnya di Kecamatan Amuntai Utara.

Tidak terima dengan kejadian itu, orangtua korban melaporkan kasusnya ke Polsek Amuntai Utara guna penyelidikan lebih lanjut.

Kapolres HSU, AKBP Afri Darmawan saat melakukan konfrensi pers, Senin (22/02/2021) siang, di Amuntai, usai jadi DPO lantas dilakukan pencairan terhadap SA, tapi tidak ditemukan.

“Kejadian penyekapan terhadap M sendiri, bermula pada Minggu (21/02/2021) malam, sekitar pukul 21.30 Wita.

Tersangka awalnya mendatangi korban M dan langsung melakukan penyekapan atau penyanderaan.

Bertindak cepat, orangtua korban bersama dengan tetangganya, lantas menghubungi Kanit Buser Polres HSU.

Saat didatangi, tersangka ternyata ternyata membekali diri dengan dua senjata api (senpi), jenis laras panjang dan laras pendek.

Saat itu, senpi laras pendek diarahkan tersangka ke korban M, dan senpi laras panjang digantung di dada, terang Kapolres AKBP Afri Darmawan.

Tersangka SA semoat memberikan tembakan sekali ke anggota polisi, agar tidak menangkapnya, dan meminta menyiapkan sepeda motor untuk pergi.

Pada saat itu, pihak kepolisian, yakni Briptu Maulana dan Bripka Agus berkali-kali melakukan negosiasi ke SA.

“Kurang lebih 4 jam lamanya melakukan negosiai, namun tersangka tidak mendengarkan atau mengindahkannya. Bahkan anggota sempat menyiapkan motor yang diminta tersangka, asalkan tidak membawa korban M untuk pergi.

Mendengar itu, membuat tersangka SA marah dan menembakkan kembali senpinya ke Briptu Maulana. Karena membahayakan petugas, akhirnya polisi menembak pelaku, namun di balas lagi, sehingga sempat terjadi baku tembak.

Akibat tembakan petugas, tersangka SA akhirnya tersungkur dengan tiga peluru bersarang di kaki, pinggang dan dada.

Setelah tersungkur, tersangka SA dibawa ke Rumah Sakit Pembalah Batung Amuntai, sebelum dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

Barang bukti yang diamankan oleh petugas, berupa satu pucuk senpi jenis Walther lengkap dengan magazine berisi tujuh butir peluru kaliber 9×19 mm, kemudian satu pucuk senpi rakitan laras panjang bertuliskan ‘Panji Hitam Halipah’ pada ganggangnya, yang berisikan enam butir peluru kaliber 9×19 mm serta satu butir di luar magazine.

Kemudian, 65 butir peluru kaliber 9×19 mm yang dimuat dalam tas selempang, satu buah sarang pistol, satu paket jimat dan dua senjata tajam jenis belati beserta babat perut, KTP dan sebuah cincin warna kuning

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis: adiyat
Editor: s.a lingga

Kebijakan Redaksi kalselpos.com
Redaksi berhak menghapus dan atau menutup komentar yang dinilai tidak etis.
Penulis Komentar tidak etis bertanggung jawab penuh atas akibat hukum yang ditimbulkannya

Advertisements