Manfaatkan lahan pekarangan rumah cara bertahan di tengah Pandemi Covid-19

Kolam bioflok budidaya ikan milik Kelompok Tani Sarimulya Makmur Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanbu.(kristiawan)

Batulicin,kalselpos.com – Kolam terpal bundar bioflok untuk budidaya ikan nila, ikan lele, ikan patin dan lain lain, merupakan teknologi sederhana untuk memanfaatkan lahan pekarangan sebagai tambahan sumber mata pencaharian rumah tangga.

Dengan bahan terpaulin PVC semi karet yang dirangka dengan besi werimesh kemudian karet talang pelindung dilengkapi selang lingkaran pelindung besi tali pengencang terpal dan satu unit mesin aerator sebagai penggerak air untuk sistem oksigen maka lengkaplah sudah media budi daya ikan air tawar.

Bacaan Lainnya
Sabar Idris,
Ketua Kelompok Tani Sarimulya Makmur Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanbu.(kristiawan)

Begitulah cara Sabar Idris mengisi waktu di sekitar lingkungan rumahnya untuk bisa menghasilkan uang dalam situasi Pandemi Covid-19 kurun waktu 1 tahun berjalan.

Sabar Idris adalah salah satu warga desa Sarimulya, Kecamatan Mentewe Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) Kalimantan Selatan.

Dia yang juga Ketua Kelompok Tani Sarimulya Makmur ini kepada kalselpos.com, Selasa (16/2/21) siang mengatakan, sudah hampir 1 tahun kelompok tani yang dia pimpin menjalankan budi daya ikan air tawar seperti ikan jenis nila, lele dan patin dengan sistem bioflog di desanya.

Terdapat 8 kolam ikan dengan metode bioflog di halaman rumahnya. 1 kolam dengan luas diameter melingkar 3 meter dan ketinggian 1 meter. “Untuk satu kolamnya mampu menampung 200-2500 bibit ikan yang dibudidayakan,” ujarnya.

Kemudian dalam 1 kolam tersebut yang diisi 2500 bibit ikan, kurun waktu 5 bulan bisa dipanen dengan total hasil rata-rata perkolam sebanyak 3,5 Kwintal.

“Untuk harga jualnya jenis ikan nila 35.000 per kilogranlm, ikan lele dan patin 25000 per kilogramnya, dengan demikian tiap kolam bisa menghasilkan sekitar 12 -13 juta tiap 5 bulannya,” urainya.

Untuk modal awal selain kolam bioflog ia menjelaskan, untuk ikan nila per bibitnya Rp250, lelel Rp150 dan patin Rp150. Dalam satu kolam diisi 2000-2500 bibit ikan. Kemudian biaya perawatan berupa makanan ikan dari nama dan perawatan lainnya.

Dia mempermudah perhitungan dengan rincian 30 persen modal bibit, 30 persen makanan dan perawatan, sisanya adalah keuntungan. Manakala dalam 1 kolam per 5 bulan pananen menghasilkan ikan sebanyak 3,5 kwintal dengan nilai komersil Rp12.000.000. “Maka keuntungan yang didapat sekitar 5.000.000 per kolam,” ungkap Sabar Idris yang juga seorang Ketua RT 2 di desa setempat.

Dengan keberhasilan percobaannya dia berharap agar masyarakat bisa mempraktekan budidaya ikan tawar dengan metode bioflok dan memanfaatkan lahan pekarangan rumah, “Terlebih lebih dalam situasi Pandemi Covid-19 saatvini sangat efektif untuk dikerjakan,” tukasnya.

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis: Kristiawan
Editor: Bambang CE

Kebijakan Redaksi kalselpos.com
Redaksi berhak menghapus dan atau menutup komentar yang dinilai tidak etis.
Penulis Komentar tidak etis bertanggung jawab penuh atas akibat hukum yang ditimbulkannya

Pos terkait