Nelayan lokal Resah, Kapal Cantrang beroperasi di perairan Kalsel

  • Whatsapp
Anggota Komisi II DPRD Kalsel, H. Muhammad Yani Helmi (tengah).

Banjarmasin, kalselpos.com – Menggunakan kapal besar masuknya sejumlah kapal nelayan luar daerah ke perairan Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadikan para nelayan lokal resah.

Akhirnya gesekan antara nelayan luar daerah dengan nelayan lokal di perairan Kalsel tidak dapat dihindari. Ironisnya nelayan luar ini beroperasi tangkap ikan menggunakan alat cantrang yang tidak ramah lingkungan.

Bacaan Lainnya

“Hal ini menjadi PR, tentunya harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah daerah setempat,”tukas Anggota Komisi II DPRD Kalsel, H. Muhammad Yani Helmi, Kamis (28/1/21).

Sebab muncul perseteruan tersebut, selain Cantrang yang dampaknya bisa merusak ekosistem laut.

Disampaikannya, selama ini pihaknya telah beberapa kali menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama para nelayan serta stakeholder terkait membahas permasalahan para nelayan itu.

“Harus ada solusi, jangan sampai nelayan luar merampok kekayaan alam laut Kalsel, karena sudah ada perairan Kalsel yang dulunya zona hijau menjadi zona merah akibat kerusakan lingkungan,”ungkap Paman Yani sapaan akrab anggota komisi II DPRD Kalsel itu.

Sementara para kelompok nelayan lokal ini terus menyuarakan permasalahan nelayan luar yang sering menggunakan alat tangkap cantrang tersebut.

Sebagai wakil rakyat, lanjut Paman Yani, konstituennya sebagian masyarakat pesisir yang mata pencaharian di laut, maka pihaknya terus melakukan dua hal untuk membantu masyarakat, yakni terus bersuara dan terus berdoa.

Dikatakannya, hal Ini menjadi tugas yang harus diperjuangkan, jangan sampai tidak ada hasil yang positif.

“Saya dari awal berkomitmen untuk terus bersuara dan menyampaikan hal ini, karena bungkam terhadap ketidakadilan adalah sebuah penghianatan,” cetusnya.

Plt Kepala Pelabuhan Perikanan Batulicin, Sarwani mengungkapkan, sering terjadi permasalahan itu, karena masih minimnya perangkat pengawasan, sehingga masih terdapat kapal besar yang melaut di perairan Kalsel.

Dikatakannya, seharusnya para nelayan dengan kapal besar menggunakan alat tangkap cantrang itu dapat menyesuaikan aturan dari Kementerian, diantaranya harus beroperasi di wilayah domisili administrasinya. Misalnya yang mengeluarkan izin adalah provinsi Jawa Tengah, maka harus beroperasi di wilayah itu saja, atau di lokasi yang memang diizinkan, seperti laut china.

“Kalau kapal luar yang kecil dengan alat tangkap pukat cincin tidak terlalu bersinggungan dengan kita, dan ikan-ikan hasil tangkapan juga dijual di daerah kita,”pungkasnya.

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis : sidik
Editor : muliadi

Kebijakan Redaksi kalselpos.com
Redaksi berhak menghapus dan atau menutup komentar yang dinilai tidak etis.
Penulis Komentar tidak etis bertanggung jawab penuh atas akibat hukum yang ditimbulkannya