“Berdamai” dengan Covid menjadi sesuatu yang  Wajar dan Normal

dr Dharma Putra, Dirut RSJD Sambang Lihum.(Anas Aliando)

Banjarmasin,kalselpos.com – Covid-19, sebuah pandemi yang luar biasa terjadi di seluruh dunia dalam waktu hampir satu tahun terakhir ini.

Kita sebagai masyarakat 
seperti punya “teman” baru dalam menjalani hari-hari 
kehidupan kita. Dan yang luar biasa adalah, “teman” 
baru kita ini juga punya perlakuan khusus, agar tidak terpapar dampak buruk dari Covid-19.

Bacaan Lainnya

Melihat fenomena tersebut, akhirnya istilah 
“Berdamai” dengan Covid menjadi sesuatu yang 
sangat wajar dan normal, karena kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir, sehingga perlu pembiasaan-
pembiasaan baru dalam menyikapi pandemi yang tak kunjung selesai. Sehingga, New Normal adalah hal yang saat ini dapat menjadi cara agar angka penularan 
Covid-19 dapat terputus.

Paparan tersebut disampaikan Direktur Utama RSJD Sambang Lihum, dr Dharma Putra kepada kalselpos.com, Kamis (8/10/2020).

Menurutnya, belum ditemukannya obat atau vaksin Covid-19 ini, 
semakin memperluas dampak dari pandemi ini, yang bukan hanya terjadi pada dampak fisik saja, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial, dan ekonomi.

“Dampak fisik, sosial dan ekonomi tersebut juga 
tentunya berpengaruh pada psikis atau kesehatan jiwa seseorang, yang juga akan berpengaruh pada 
produktifitas dari orang tersebut,” ujarnya.

Selama pandemi, lanjut mantan Sekda Kabupaten Hulu Sungai Tengah itu, banyak dari masyarakat yang harus di rumahkan dari pekerjaannya, omset 
pendapatan yang langsung anjlok, dan berakhir pada 
penurunan tingkat produktifitas. 

“Melihat hal ini, kita 
harus mempersiapkan diri kita baik secara fisik maupun psikis.
Persiapan secara fisik tentunya adalah 
kepatuhan terhadap protokol kesehatan selama pandemi, seperti selalu memakai masker, mencuci tangtan, tidak berkumpul dengan orang banyak, dan 
social distancing apabila tetap harus berkumpul,” bebernya.

Sedangkan persiapan secara psikis, lanjutnya, tentu harus
dipersiapkan juga agar jiwa  tetap sehat.

“Yang pertama bahwa pandemi Covid-19 ini memang benar adanya dan belum ditemukan obatnya.
Dengan mindset seperti itu, kita akan semakin 
waspada terhadap paparan Covid, dan semakin 
meningkatkan kepatuhan kita terhadap protokol 
kesehatan selama pandemi, serta tidak menyepelekan 
kasus-kasus yang terjadi akibat paparan Covid-19,” cetusnya.

Yang kedua, tetap waspada, dan jangan takut berlebihan. Selama pandemi kita harus tetap
meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya paparan Covid-19, tetapi jangan sampai takut 
berlebihan, sehingga menjadi takut keluar rumah, tidak 
ingin bekerja atau ke sekolah, takut dengan lingkungan sekitar, sehingga produktifitas kita pun menurun.

Yang ketiga, menilai sisi positif yang terjadi selama pandemi. Tentunya akan banyak hal positif yang terjadi selama pandemi, yaitu meningkatnya waktu yang berkualitas dengan keluarga, peran sebagai orang tua yang semakin maksimal, ide kreatif yang luar biasa muncul, dan lain-lain.

“Keempat jadikan Pandemi sebagai momentum.
Selama pandemi, akan ada banyak waktu untuk 
kita memperbaiki pribadi kita, menyadari dan belajar dari kesalahan di masa lalu, serta momentum untuk diri 
kita menggali apa potensi besar yang kita miliki yang 
selama ini belum kita kembangkan,” imbuhnya.

Sedangkan yang terakhir, beber pria yang terkenal tegas tersebut, berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pandemi Covid-19 merupakan sebuah ujian 
bagi umat manusia yang harus kita sadari bersama, 
bahwa itu adalah kehendak Tuhan. 

“Dan semua ini juga 
akan berhenti dengan kuasa Tuhan. Tingkatkan nilai spiritualitas kita selama pandemi ini,” tandasnya.

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis: Anas Aliando
Editor: Bambang CE