Lestarikan Seni Budaya Islam Lewat Hajir Marawis

  • Whatsapp
Kesenian Hajir Marawis yang digelar pada acara hajatan Aqiqah di Komplek Bumi Jaya Banjarmasin Kamis (24/9/2020) malam (Ahmad Fauzie)

Banjarmasin, kalselpos.com – Hajir Marawis merupakan kesenian yang kental dengan nuansa Islaminya. Kesenian asal negeri Kuwait ini telah ada sejak 400 tahun silam yang dibawa para ulama asal daerah Hadramaut, Yaman ke Indonesia.

Bacaan Lainnya

Kesenian ini merupakan kombinasi antara seni perkusi dan ritmis dinamis yang dimainkan 16 sampai 18 orang pria sebagai pemain musik, penyanyi dan penari.

Ciri khas musik ini adalah adanya alat musik perkusi (dipukul) marawis yang menyerupai rebana namun kedua sisinya tertutup dari bahan kulit hewan. Ukurannya juga lebih kecil.

Selain marawis, ada juga terdapat alat musik yang ditabuh seperti gendang. Alat ini bernama Hajir. Kedua alat inilah yang menjadi sebutan nama kesenian ini yang disebut Hajir Marawis.

Alat musik pendukung lainnya berupa suling dan tamborin juga menjadi bagian pelengkap kesenian yang sering digelar pada acar hajatan keluarga Habaib ini.

Kesenian ini tidak hanya mempertahankan nilai-nilai tradisional saja, namun menjadi seni budaya Islam yang sarat akan kecintaan terhadap tuhan sang pencipta alam.

Ketua Rabitah Alawiyah Kota Banjarmasin, Habib Salahuddin Baraqbah memaparkan, seni musik perkusi dengan unsur religius yang kental ini tersebut pertama kali dipentaskan di wilayah Madura pada tahun 1892

“Ini dipentaskan untuk mengiringi shalawat atau pujian kepada Allah dan Rasul, itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan seperti qasidah yang disenandungkan penyairnya,” ucapnya disela kegiatan Hajatan yang digelar di Jalan Bumi Mas Raya, Komplek Bumi Jaya, Banjarmasin Kalimantan Selatan Kamis (24/9/2020) malam.

Menurutnya Kesenian Hajir Marawis ini biasa dipentaskan pada acara hajatan seperti perkawinan, sunatan, aqiqahan yang sifatnya untuk mengibur namun tak lepas dari nuansa Islam.

Beberapa tahun terakhir ini, di Provinsi Kalimantan Selatan mulai menjamur kelompok-kelompok Marawis. Marawis juga turut dilestarikan oleh Pondok Pesantren tertentu, namun sekarang Marawis sudah ada di hampir seluruh wilayah.

Di negara asalnya, kesenian ini tidak begitu populer sehingga sedikit sekali orang yang memahami bahwa kesenian ini berasal dari negaranya. Ketika kesenian ini mulai dikenal di negara Yaman maka kesenian ini pun diadopsi negara tersebut sehingga kesenian ini menjadi populer.

Hal ini disebabkan alat musik yang ada dimodifikasi sedemikian rupa agar menjadi lebih menarik. Maka dirubahlah sedikit demi sedikit alat musik yang bermula berukuran besar menjadi sedang yang seperti saat ini kita lihat, yaitu ukuran yang cukup besar (seperti gendang) dan marawis yang ukurannya lebih kecil dari hajir.

Perbedaan marawis itu terletak pada cara memukul dan tari-tarian. Seperti seni marawis di Aceh, tari-tariannya melibatkan laki-laki dan wanita,berbeda dengan marawis khas Betawi yang menari dan memainkan marawis hanya pria. Tariannya pun khas memakai gerakan-gerakan silat.

Berdasarkan penelitian, seni marawis juga memiliki perbedaan disetiap tempat, seperti di Palembang, Banten, Jawa Timur, Kalimantan, bahkan hingga Gorontalo semuanya berbeda dan memiliki kekhasan tersendiri sesuai adat dan budaya daerah setempat.

Diakui Habib Salahuddin, kelompok marawis yang paling terkenal berasal dari Bondowoso, Jawa Timur. “Karena Seni Marawis di Jawa Timur lebih dulu berkembang dibanding daerah lainnya,” Ungkapnya.

Beberapa tahun silam, seni marawis belum populer seperti saat ini,awalnya hanya dimainkan oleh orang-orang keturunan Arab. Bahkan, ada semacam anggapan bahwa marawis hanya dimainkan para juriat Rasul.

Habib Salahuddin berharap, kesenian ini bisa tetap terus dilestarikan generasi muda terutama bagi masyarakat muslim,agar kesenian ini terus lestari dan tidak punah.

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis : Ahmad Fauzie
Editor : Zakiri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.