Pembinaan pelaku usaha kecil di Kotim perlu Ditingkatkan

  • Whatsapp
Pardamean Gultom, (kanan) dan H. Suprianto (tengah) yang keduanya anggota DPRD Kotim saat diwawancarai korenponden kalselpos.com, baru baru ini di Sampit.(Ruslan AG)

Sampit,kalselpos.com -Keberadaan koperasi yang memberikan permodalan kepada para pelaku usaha kecil di Sampit Kabupaten Korawaringin Timur (Kotim) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), seperti warung nasi dan lainnya, kadang diangggap rentenir.

Demikian itu berdasarkan pengamatan dan pantauannya
Ir Pardamean Gultom, anggota DPRD Kabupaten Kotim yang disampaikannya kepada korenponden kalselpos.com, baru baru ini di Sampit.

Advertisements

Bacaan Lainnya

“Padahal peran mereka sangat membantu terhadap usaha pelaku kecil yang tidak dapat akses permodalan dari lembaga kredit perbankan dan non bank,” ujar Pardamean.

Disisi lain, ia juga mengungkapkan, upaya untuk memasarkan hasil pertanian dalam arti luas seperti kawasan selatan Kotim, tidak ditunjang dengan infrastruktur yang baik, sehingga ongkos angkut hasil pertanian jadi tinggi.

Disebutkan Pardamean, pengangkutan kelapa dalam dari perkebunan kelapa masyarakat, mulanya diangkut pakai sampan, kemudian dipindahkan ke mobil pikap dan dipindah lagi ke mobil truk, “Inikan membuat ongkos angkut jadi mahal, karena infrastruktur yang belum baik dan merugikan masyarakat,” cetusnya.

Sementara, H. Suprianto SE MM anggota DPRD Kotim yang juga anggota komisi III bisang Kesra menambahkan, harga jual kelapa dalam di Selatan Kotim masih rendah, Rp2 ribu perbiji. Namun di Jawa harga jual satu biji kelapa dalam sampai Rp12 ribu perbiji, belum lagi sabutnya bisa diolah dan dijual.

Menurut H.Suprianto ,
pembinaan terhadap pelaku usaha kecil masih sangat minim maka perlu ditingkatkan. “Hal ini bisa dilihat dari alokasi Dinas Koperasi dan UMKM Kotim yang sangat kecil soal pembinaan dan pemberdayaan terhadap pelaku usaha kecil tersebut,” bebernya.

Suprianto menambahkan sebagai praktisi yang melakukan pinjaman permodalan terhadap pelaku usaha kecil berbentuk koperasi dan berbasis syariah, tingkat kemacetan pinjaman oleh mereka sangat kecil. “Contoh pelaku UMKM tetap surive saat kita dilanda krisis ekonomi tahun 1998 lalu,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah pusat dalam memberikan pinjaman lunak kepada pelaku usaha kecil seperti KUR, UMI dan pinjaman dari sejumlah BUMN dalam membina pelaku UMKM.

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis: Ruslan AG
Editor: Bambang CE

Advertisements

Tinggalkan Balasan