Berita Duka, Satu Dokter HST Gugur Akibat Covid-19

  • Whatsapp
Pelaksanaan shalat jenazah dr Aris Sugiharjo di halaman Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD Ulin Banjarmasin (Fauzie)

Banjarmasin , kalselpos.com– – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Selatan kembali berduka, setelah seorang anggotanya gugur saat berjuang melawan Covid-19 di Bumi Antasari ini.

IDI Kalimantan Selatan kembali kehilangan anggotanya. Dokter ahli penyakit dalam yang bertugas di RSUD Damanhuri Barabai HST Kalimantan Selatan, dr Aris Sugiharjo, Sp.PD menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (30/8/2020) sekitar pukul 18.00 wita.

Advertisements

Bacaan Lainnya

Ahli penyakit dalam yang merupakan dokter senior di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah itu, sempat dirawat intensif di RSUD Ulin Banjarmasin, usai dinyatakan positif terpapar virus Corona (Covid-19).

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, dokter Aris sempat menjalani perawatan di ruang ICU untuk Covid dan harus menggunakan alat bantu pernapasan (ventilator), akibat saturasi oksigen yang menurun. Dirinya pun sempat dirawat secara intensif di rumah sakit rujukan penanganan covid nasional selama lebih kurang lima hari hingga akhirnya takdir berkata lain dan dr. Aris Sugiharjo, menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (30/8/2020) sekitar pukul 18.00 wita.

Usai diselenggarakan dengan protokol Covid-19, jenazah almarhum langsung di shalatkan di halaman Intalasi Pemulasaran Jenazah RSUD Ulin Banjarmasin pada pukul 20.30 wita.

Dihadiri para kerabat dan keluarga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Selatan, shalat jenazah yang di imami dr. Meldy Muzada Elfa, Sp.PD berjalan lancar dan tertib.

DR. dr M.Rudiansyah, M.Kes, Sp.PD, K-GH
Ketua IDI Wilayah Kalimantan Selatan (Fauzie)

Ketua IDI Wilayah Kalimantan Selatan DR. dr M. Rudiansyah, M.Kes, Sp.PD, K-GH mengatakan, rekan sejawatnya memang telah meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Dirinya merasa kehilangan terlebih rekan sejawatnya itu, merupakan dokter terbaik.

“Selama ini, almarhum memang aktif dalam penanganan pasien Covid-19 di RSUD Damanhuri Barabai. Kami sangat kehilangan sosok sahabat sekaligus kakak kelas saya saat kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta,” kata Rudiansyah kepada kalselpos.com, Minggu (30/8/2020) malam.

Menurut dokter ahli penyakit dalam ini, banyaknya tenaga medis yang telah gugur akibat virus Corona ini harus menjadi salah satu perhatian kita bersama.

“Ini harusnya menjadi salah satu perhatian kita bersama, kira-kira dari sisi mana hingga terjadi banyak tenaga medis kita yang berguguran, apakah cara penggunaan APD-nya, atau memang karna kasusnya sangat tinggi sekali,” ucapnya.

Kemudian dari masyarakatnya, ia melanjutkan, apakah juga informasi yang disampaikan masyarakat benar benar apa adanya atau masih sembunyi-sembunyi sehingga kita tidak tau.

Selain itu, pria dengan sapaan dr Rudi itu menambahkan, hiangga saat ini pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah penularan ini terjadi saat bertugas atau dari luar itu.

“Karna kita tidak bisa juga menyimpulkan semua, apakah penularannya saat sedang menjalankan tugas atau diluar itu, nanti kita akan analisis ulang. Pada intinya kita harus tetap menjaga sendiri,” ungkapnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Kalimantan ini juga berpesan untuk para tenaga medis agar dalam penanganan wabah virusbyang menginfeksi jaringan pernafasan manusia ini, harus lebih disiplin lagi dalam menjalankan protokol pencegahan Covid-19.

“Dalam penanganan pasien baik Covid maupun non-Covid, kita harus berfikir terjelek dulu, kita anggap saja pasien itu Covid dulu sehingga protokol yang diterapkan benar benar dipakai seperti mengenakan APD dengan benar dan lain sebagainya,” jelasnya.

Dengan meninggalnya dokter Aris, sudah ada empat dokter yang meninggal dunia akibat terinfeksi Covid-19 di Kalimantan Selatan.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Sakdillah juga membenarkan dokter senior ahli penyakit dalam RSUD Damanhuri Barabai meninggal dunia akibat terpapar Covid-19.

“Memang, almarhum sempat dirawat di RSUD Damanhuri, karena dianggap cukup serius akhirnya dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin selama lima hari akibat terinfeksi Covid-19,” ujar Sakdillah.

Prosesi shalat fardhu kifayah dan persiapan pemakaman pun disiarkan secara virtual oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) Kalsel. Bahkan, banyak koleganya dari para dokter turut menyaksikan prosesi tersebut.

kalselpos.com: Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari ini Banjarmasin Kalimantan Selatan dan Nasional

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Penulis : Ahmad Fauzie
Editor : Zakiri

Advertisements

Tinggalkan Balasan