IDI Kalsel : Jangan Ambil Resiko, CFD Saat di Zona Merah

  • Whatsapp
Kegiatan Car Free Day (CFD) yang dilakukan warga Kota Banjarmasin saat memasuki akhir pekan (Fudael)

Banjarmasin, kalselpos.com – Pelaksanaan kegiatan Car Free Day (CFD) di Kota Banjarmasin menuai tabggapan dari berbagai kalangan, ada yang mendukung, namun ada tidak sedikit pula yang mengatakan untuk tidak membuka dulu kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap hari minggu pagi itu.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan (IDI Kalsel), dr Rudiansyah (Zakiri)

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kalimantan Selatan (IDI Kalsel), dr Muhammad Rudiansyah kepada awak media beberapa hari yang lalu di Gedung Ulin Tower, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan, pelaksanaan CFD yang tidak memenuhi standar penerapan protokol kesehatan dalam mencegah paparan virus Corona atau Covid-19 dapat memperbesar peluang untuk terjadinya penularan antar sesama manusia.

“Banjarmasin kondisinya masih sangat rawan dalam penularan virus ini, apalagi saat ini masih berstatus zona merah,” ungkapnya pada awak media, Jumat (26/06/2020) siang.

Sehingga ia meminta kepada Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin untuk sementara agar tidak melaksanakan kegiatan CFD terlebih dahulu.

“Kalau bisa kami minta jangan dulu ada CFD. Malah tidak bagus kalau dilaksanakan CFD. Kita tidak tahu terjadi penularan atau tidak saat pelaksanaan kegiatan yang melibatkan jumlah massa yang banyak ini,” tukasnya.

Ia menjelaskan, misalkan ada salah satu peserta CFD yang masuk OTG (Orang Tanpa Gejala) positif terinfeksi virus Corona maka kemungkinan terjadinya penularan di sekitarnya masih bisa terjadi.

“Kebanyakan masyarakat belum memahami kondisi seperti ini sehingga menganggapnya seperti hal yang biasa saja,” jelasnya.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan masyarakat, angka kasus terkonfirmasi positif memang masih rendah. Namun jumlah kasus kematian yang diakibatkan oleh virus yang menginfeksi saluran pernafasan manusia tersebut sudah terbilang cukup tinggi.

“Memang salah satu untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap suatu penyakit dengan melakukan olahraga, tapi kalau olahraganya tanpa menggunakan masker dan dilakukan ditengah keramaian maka akan memiliki resiko yang tinggi untuk tertular penyakit, termasuk virus ini,” paparnya.

Menurutnya, berolahraga tanpa menggunakan masker, persentase terjadinya penularan bisa mencapai 100%. Jika ada salah satu yang pakai masker, maka akan ada dua kemungkinan persentase penularan.

“Misalnya yang sehat pakai masker, tapi yang sakit tidak memakainya maka 70 persen bisa terjadi penularan. Tapi kalau sebaliknya kemungkinan tertularnya menurun, bahkan mencapai 5 persen saja,” jelasnya.

Pria dengan sapaan dr Rudi itu melanjutkan, yang lebih bagus itu keduanya memakai masker. Sehingga resiko penularannya menjadi kecil. “Hanya 1 hingga 1,5 persen saja kemungkinan terjadinya penularan,” ujarnya.

“Dengan adanya virus ini, saat inibberolahraga pun akan terbatas, apalagi ditambah dengan menggunakan masker. Jika tempat dia berolahraga itu di tempat yang luas dan tidak banyak orangnya, yaa silahkan saja jika ingin tidak mengenakan masker, asal tetap menjaga jarak,” terangnya.

Namun jika berolahraga di tempat yang potensi terjadinya kerumunan massa itu tinggi, maka ia menyarankan harus mengenakan masker. “Seperti di CFD itu kan banyak orang, jadi olahraganya hanya yang ringan-ringan saja, jangan melakukan olahraga yang berat,” pungkasnya.

kalselpos.com : Berita Terkini, Kabar Terbaru Hari Ini Banjarmasin Kalsel Kalimantan Nasional dan Dunia

Penulis : Zakiri

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *