Jutaan Penduduk Kalsel akan Terinfeksi Corona jika Beraktivitas Secara Normal

  • Whatsapp
Dr. Muhammad Ahsar Karim K., M.Sc.

BANJARMASIN, Kalselpos.com – Penerapan ‘New Normal’ yang akan dijalankan oleh berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan, ternyata membuat pakar Matematika yang berasal Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengeluarkan prediksinya.

Pakar Matematika tersebut merupakan pasangan suami isteri yang merupakan dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ULM Kalimntan Selatan, Dr. Muhammad Ahsar Karim K., M.Sc. dan Yuni Yulida, S.Si., M.Sc., yang memprediksi jika puncak pandemi Covid-19 akan terjadi pada pekan kedua Agustus hingga awal Oktober mendatang.

Bacaan Lainnya

“Analisis ini dibuat menggunakan hitungan matematika dengan mengambil data dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kalsel,” ucap Dr. Muhammad Ahsar Karim K., M.Sc, Kamis (28/5/2020) siang.

Ia menjelaskan, pihaknya menggunakan data yang diambil sejak pertama kali ditemukan kasus terkonfirmasi positif tertular Corona di Antasari itu, yakni Minggu 22 Maret yang lalu.

Dalam jurnal ilmiah yang ditulis oleh dua pakar Matematika tersebut juga menganalisa jumlah kasus positif Covid-19 di Kalsel pada periode pekan kedua Agustus hingga awal Oktober tersebut.

“Dengan asumsi 1 orang yang positif bisa menularkan kepada 3 orang lainnya. Kemungkinan terburuknya, ada jutaan penduduk yang terpapar virus yang belum ditemukan vaksinnya tersebut di Kalsel,” ungkaonya.

Sehingga mereka mengambil 6 skenario atau kemungkinan yang akan terjadi di wilayah pulau Kalimantan bagian selatan itu.

Menurutnya, skenario tersebut bisa diartikan sebagai kebijakan pemerintah untuk menekan warga di Kalsel agar lebih banyak beraktivitas di rumah.

Mereka memaparkan, pada skenario pertama, jika dari seluruh penduduk Kalsel yang mencapai 4,2 juta jiwa, hanya ada 1 persen warga beraktivitas, maka kemungkinan jumlah yang tertular Covid-19 sebanyak 16.052 jiwa dengan jumlah kematian 206 jiwa. Dengan masa puncak Covid-19 diprediksi akan terjadi pada pekan kedua Agustus.

Kemudian skenario kedua, jika dari seluruh penduduk di Kalsel, ada 4 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif mencapai 64.158 orang dengan kematian 824 jiwa. Dengab puncak Covid-19 diprediksi akan terjadi pada pekan keempat Agustus.

Lalu skenario ketiga, apabila dari seluruh penduduk di Kalsel, ada 10 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif mencapai 160.510 orang dengan kematian 2.062 jiwa. Apabila kemungkinan yang terjadi di Kalsel adalah skenario ketiga, maka puncak Covid-19 diprediksi akan terjadi pada awal September.

 

Baca Berita Hari Ini, Berita Terbaru Terkini | kalselpos.com | Media Terpercaya dan Terverifikasi Dewan Pers

 

Sedangkan pada skenario keempat, jika dari seluruh penduduk Kalsel, ada 30 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif mencapai 481.550 orang dengan kematian 6.187 jiwa. Dan puncak Covid-19 diprediksi akan terjadi pada pekan ketiga September.

Selanjutnya, skenario kelima, jika dari seluruh penduduk Kalsel, ada 60 persen warga yang beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus positif mencapai 961.510 orang dengan kematian 12.353 jiwa. Yang akan diprediksi terjadi puncak pandeminya pada pekan pekan kelima September.

Terkahir, skenario keenam, yaitu kemungkinan terburuknya, jika dari seluruh penduduk Kalsel, ada 80 persen warga beraktivitas normal, maka kemungkinan kasus Covid-19 mencapai 1.283.600 orang dan kematian sebanyak 16.491 jiwa. Puncak Covid-19 diprediksi akan terjadi pada pekan pertama Oktober.

Dalam paper ilmian tersebut, merwka menjelaskan bahwa mereka menggunaka beberapa model atau konsep hitangan matematika untuk mendapatkan hasil dari skenario seperti yang dijelaskan di atas.

“Permodelan matematika telah banyak diaplikasikan pada berbagai kasus dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya bidang epidemiologi. Matematika memiliki peran yang sangat penting dalam mempelajari dinamika suatu wabah penyakit, mulai dari kajian pencarian sumber, penyebaran, prediksi pola, hingga strategi penanganannya. Bidang kajian ini biasa disebut dengan matematika epidemiologi,” tulis mereka di dalam paper ilmiah berjudul ‘Permodelan Matematika Penyebaran Covid-19 Provinsi Kalimantan Selatan’ dan diterbitkan oleh ejurnal.binawakarya.or.id tersebut.

Mereka menyebutkan, pengkajian dilakukan dengan melakukan estimasi parameter pada permodelan SIR yang mengakomodir kasus kematian pada data dengan didukung beberapa metode.

Seperti dalam menganalisa puncak terjadinya kasus Covid-19 di Kalsel, mereka menghitung dengan menggunakan konsep atau model epidemiologi SIR.

Untuk epidemiologi SIR tersebut, ada beberapa subpopulasi yang ditentukan, antaranya populasi orang rentan infeksi (Susceptible), populasi terinfeksi (Infectious) dan populasi telah sembuh dari infeksi (Recovered).

“Kemudian, solusi Model SIR didekati secara numerik dengan menggunakan Metode Runge Kutta
dan prediksi kasus Covid-19 akan ditentukan dengan menggunakan Metode Kuadrat Terkecil Nonlinear,” jelas Ahsar.

Ia menjelaskan, metode itu didukung dengan konsep Bilangan Reproduksi Dasar, yang mana hasilnya 1 orang yang terpapar bisa menularkan kepada 3 orang lainnya. Namun untuk tingkat erornya sendiri, Ahsar dan Yuni menggunakan metode Mean Absolute Percenatage Eror (MAPE).

“Dalam tulisan itu menggunakan Mean Absolute Persentage Error (MAPE), yang hasilnya 24.70%. Menunjukkan bahwa prediksi yang dilakukan cukup baik atau dapat diterima (reasonable forecast),” terang Ahsar.

Kendati demikian, ia berharap kepada pihak-pihak yang berwenang agar bisa memperbanyak rapid test massal secara menyeluruh dan terus mendorong penelitian dalam penanganan epidemi Covid-19.

Menurutnya jika pemerintah mempertimbangkan pelaksanaan relaksasi PSBB di Kalsel, maka disarankan bahwa relaksasi baru dapat dilakukan ketika data kasus Covid-19 menunjukkan penurunan jumlah.

“Dalam pemodelan matematika ini, prediksi penurunan kasus mulai terjadi sekitar pekan ketiga Agustus hingga pekan kedua Oktober 2020, tergantung skenario yang berjalan selama PSBB berlangsung,” tutur Ahsar.

Jika relaksasi PSBB dilakukan, maka perlu diwaspadai peningkatan kembali kasus infeksi & kematian (yang dikenal dengan istilah second wave).

“Relaksasi perlu didukung oleh berbagai penelitian serta upaya penemuan vaksin & obat untuk mencegah second wave,” tutupnya.

Penulis : Hafidz
Editor : Zakiri
Penanggungjawab SA Lingga

Download aplikasi kalselpos.com versi android  kami di Play Store : Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar