Pertama ke Sekumpul dan Melihat Guru Sekumpul

Catatan Kisah Guru Sekumpul. Oleh Adi Permana
Kalau tidak khilaf, saya ke majelis Sekumpul di Mushalla Ar Raudhah tahun 2000. Beberapa tahun sebelumnya kala kuliah di ULM Banjarmasin, saya sudah kerap mendengar nama ulama kharismatik asal Martapura yg kerap disebut Guru Ijai, atau Guru Sekumpul.  

Saya adalah orang awam. Sahabat saya, Fauzan Nahdi dan Mujahidin sudah sering mengajak saya ke Sekumpul. Kebetulan, kami satu kost di Kayu Tangi, Bannjarmasin. Setelah beberapa kali, akhirnya saya bersedia juga ikut, karena ingin mengetahui sendiri yang katanya Guru Sekumpul memiliki suara indah jika melantunkan syair maulid. 

Di bulan berapa saya sudah lupa, tapi hari itu Minggu, kami (saya dan Fauzan) berangkat naik taksi oranye. Selepas shalat Ashar di Mushalla Ar Raudhah, kami mendengarkan tausiyah Guru Sekumpul. Saat itu kami duduk masih di luar mushalla. Alhamdulillah kebagian kopi dalam cangkir mini yang dibagikan para khaddam Sekumpul. 

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, selepas shalat Maghrib, kami mulai merapat ke dalam mushalla. Guru Sekumpul tampak berwibawa, tenang namun gagah lagi ganteng, tak jauh di depan sudah mengambil posisi memulai maulid Habsy. Nah, inilah yg menggetarkan batin. Ada syair begini, “Ya ahlil baiti nabi, yakhlashofa, wal munajat.” Wah, saya mulai tersentuh, akan keindahan suara maupun ungkapan rindu beliau dan umat terhadap Nabi Muhammad SAW. Saya sudah tak bisa mengendalikan diri. Saya menangis senggukan dan tak bisa saya redakan. Bahkan semakin larut, senggukan itu, tersedu-sedu seperti anak kecil. Sahabat saya Fauzan coba menepuk-nepuk pundak saya supaya reda tapi tak bisa. Tangisan saya bahkan sampai berlanjut sampai shalawat Badar, di mana semua jamaah berdiri.  Baru ketika shalat Isya hendak didirikan, tangis itu reda. Masya Allah Guru Sekumpul. (Dicatat 24 Agustus 2012)

kalselpos/adi permana

Pos terkait