Peran Mahasiswa Sangat Penting bagi Demokrasi Kalsel

BANJARMASIN, Kalselpos. com– Diskusi antara pakar hukum tata Negara Prof. Denny Indrayana bersama sejumlah mahasiswa berlangsung pada Kamis (23/01) sore.

Baca juga=Indeks Demokrasi Indonesia di Kalsel mengalami trend Peningkatan

Bacaan Lainnya

Lokasi acara yang semula direncanakan berlangsung di Kampus Uniska akhirnya terpaksa berpindah ke rumah Dr Muhammad Uhaib As’ad yang merupakan akademisi UNISKA Banjarmasin, di kawasan Sultan Adam Banjarmasin.

Tema dalam diskusi kali itu ‘Peran Mahasiswa dalam Demokrasi di Kalsel,’ Denny mencoba mengajak mahasiswa UNISKA dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), berperan dalam proses demokrasi.

 

Menurut pakar hukum tata negara ini, antara mahasiswa dengan demokrasi merupakan bagian yang menarik dibicarakan.
Sebab saat demokrasi mengalami sakit, maka yang bisa menyembuhkan dan menjadi alat perjuangan adalah mahasiswa.

“Mulai angkatan 66 dan Angkatan 98 bahkan 2019 kita berharap ada gerakan mahasiswa yang menyelamatkan KPK. Sempat ada harapan itu, walaupun KPK juga mati. Jadi mahasiswa ini, dalam sejarah Indonesia dan dunia adalah bagian dari penyelamat demokrasi saat dia lumpuh atau dilumpuhkan,” katanya.

Denny mengatakan, sangat penting untuk melihat bagaimana melihat peranan mahasiswa Kalsel dengan demokrasi di Banua yang menurutnya masih bermasalah.

Selain itu, mahasiswa di manapun memiliki karakter yang berbeda dengan elemen masyarakat lainnya, di mana mahasiswa memiliki genuisitas. Seperti kemurnian dalam berpikir, kemurnian dalam bertindak, mereka mengangkat isu dan lain-lain.

“Di sisi lain mereka punya memiliki kapasitas intelektual yang tidak bisa dikecilkan. Kalau stakeholder yang lain, sedikit banyak problematik dari sisi originalitas pemikiran itu, karena mungkin sudah punya keterkaitan dengan ormas atau parpol,” papar mantan Wamenkumham era Presiden SBY ini.

Salah satu keuntungan dari mahasiswa, menurut Prof. Denny, adalah originalitas atau bebas dari kepentingan apapun.

Karena, mahasiswa menjaga independensi dalam berpikir dan bertindak. Karena itulah yang menyebabkan mahasiswa sulit untuk didikte, mahasiswa sulit untuk dicegah jika bergerak dan sering kritis terhadap penguasa yang tiran.

“Tentu ini menyebabkan teman-teman mahasiswa punya kekuatan besar dalam menyelamatkan demokrasi di tanah air,” katanya.

Berbicara dalam konteks Kalsel, Denny menyatakan bahwa demokrasi akan menjadi problematik bilamana berhadapan dengan bad governance.

“Artinya, berhadapan dengan tindakan represif, korupsi dan kekerasan. “Dan sedikit banyak kita punya analisa-analisa itu di Kalsel,” tandasnya.

Sementara itu, akademisi UNISKA Banjarmasin Dr. Muhammad Uhaib As’ad menyebut, mahasiswa saat ini sangat nyaman dalam berekspresi.

Tentunya, berbeda dengan zaman dirinya di era 1980an yang kerap kali mendapat tekanan dari rezim Orde Baru.

Baca juga=Indeks Demokrasi Indonesia di Kalsel mengalami trend Peningkatan

“Bagaimanapun juga, tren politik mahasiswa dalam konstelasi sekarang itu tak dapat dipisahkan. Bagaimana mahasiswa di era 1928, angkatan 66, angkatan 74, itu juga gerakan politik mahasiswa yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah politik di negeri ini,” kata Dr. Uhaib.

Penulis :wandi/rel
Penanggung jawab:SA Lingga

 

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android  kami di Play Store

Aplikasi Kalselpos.com

Kalselpos.com

Pos terkait