Bumi Ije Jela lestarikan kesenian Wayang Kulit

 

Bupati Batola H Rahmadian turut menyaksikan pagelaran Wayang Kulit malam itu berbaur dengan masyarakat di lapangan 5 Desember Marabahan.

Bacaan Lainnya

=========

MARABAHAN, kalselpos.com – Wakil Bupati Barito Kuala (Batola) H Rahmadian Noor didampingi Kabag Humpro Setda Batola Hery Sasmita beserta panitia penyelenggara Erkansyah dan Bajau Malela menyaksikan pagelaran wayang kulit banjar di lapangan 5 Desember Marabahan.

 

Baca juga=Berkah Jalan Baru TMMD Batang Bagi Kesenian Wayang Kulit

Pagelaran wayang kulit yang dilaksanakan pada malam hari itu dari group Wayang Purwa Basahab dari Desa Basahab, Kecamatan Marabahan dengan dalang kondang Kota Marabahan, yaitu Amang Midi yang pernah diundang ke Jakarta membawakan lakon cerita “Pandu Lapas” dengan diiringi kerawitan dari Babai, Kalimantan Tengah.

Menariknya, sebelum dimulai pertunjukan wayang kulit lokal itu penontonya didominasi para generasi muda baik laki-laki maupun perempuan bahkan anak -anak yang hadir lebih awal memenuhi kursi yang tersusun memenuhi lapangan 5 Desember.

Salah satu panitia, Ofik mengungkapkan, terselenggaranya pagelaran wayang kulit ini selain memeriahkan milad ke 60 Kabupaten yang berjuluk Bumi Ije Jela, juga bertujuan untuk melestarikan kearifan lokal di bidang seni dan budaya.

“Mari bersama-sama kita lestarikan budaya yang ada, ambil yang baik sebagai tuntunan,” pintanya disela pertunjukan dimulai, baru-baru ini.

Menurut Opik, selain bersifat hiburan, kegiatan ini bisa menjadi media bagi masyarakat untuk meresapi nilai-nilai seni dan budaya yang tidak mengenal batas usia yang bisa masuk dalam setiap lingkup kehidupan.

 

Disampaikanya, masyarakat Banjar di Kalsel mengenal pertunjukan wayang kulit sejak abad 15 yang dibawakan pasukan Majapahit yang dipimpin Andyaningrat membawa seorang dalang Raden Sakar Sungsang lengkap dengan pengrawitnya.

Selain itu, dia menceritakan, saat mulai berdirinya kerajaan Islam sekitar tahun 1526 M pertunjukan wayang kulit mulai diadaptasi dengan muatan-muatan lokal dan cita rasa serta estetika masyarakat Banjar dengan dipelopori Datuk Toya.

Oleh karena itu, lanjutnya, sekarang wayang kulit Banjar telah menjadi seni pertunjukan yang berdiri sendiri dan memiliki spesifikasi yang membedakan dengan jenis wayang kulit lain baik dari segi bentuk, musik gamelan pengiring, warna, maupun tata cara memainkannya.

Baca juga=Berkah Jalan Baru TMMD Batang Bagi Kesenian Wayang Kulit

“Meskipun tokoh-tokoh wayang cenderung mengikuti pakem pewayangan dan dikembangkan dari tokoh serta perlambang masyarakat Banjar seperti gunungan atau kayon, Batara Narada, Arjunawijaya, Jambu Leta Petruk, Sarawita atau Bilung, Subali, R Hanoman, Prabu Rama, Kedakit Klawu atau Raksasa dan lainnya,”pungkasnya.

Penulis : Muliadi
Editor : Bambang CE
Penanggung Jawab : SA Lingga

 

 

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android  kami di Play Store

Aplikasi Kalselpos.com

Pos terkait