Melalui Anyaman Rotan Juhrah Mampu Hasilkan Puluhan Juta

oleh -342 views

AMUNTAI, Kalsepos.com – Dengan mahir dan lincahnya jari-jari Juhrah, seorang pengrajin anyaman dari Rotan/ lupo, bergerak memainkan belahan rotan untuk membuat sebuah keranjang buah pesanan toko.

Juhrah merupakan wanita yang kini berusia 38 tahun dan tinggal di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Provinsi Kalimantan Selatan atau tepatnya di desa Palimbangan Sari yang berpenduduk 789 jiwa di Kecamatan Haur Gading.

Baca juga=Pemkab HSU terima Bantuan Dua Mobil Ambulan

Juhrah telah sejak lama menekuni pembuatan kerajinan dari rotan. Bahkan terangnya, pekerjaan ini telah ia tekuni turun-menurun sejak neneknya.

Jika sang nenek membuat anyaman rotan berbentuk tudung/tutup saji. Juhrah yang sudah hampir 20 tahun menekuni usaha kerajinan rotan atau lupo, lebih cendrung membuat keranjang buah, tempat jilbab, tempat makan dan baki.

Juhrah (kerudung kuning) bersama sang nenek membuat kerajinan tempat buah-buahan dari anyaman rotan di rumahnya.(Adiyat)

Ia mengakui, kerajinan tersebut lebih cendrung diminati saat ini, terutama keranjang buah, selain mudah juga murah dan awet. Bahkan terang ibu dari empat anak ini, dalam satu bulan ia dapat pesanan hingga mencapai 100 kodi atau 2.000 buah untuk keranjang buah-buahan.

“Bahkan terkadang, ada beberapa konsumen yang meminta dibuatkan kursi dan meja dari rotan serta tempat gelas. Kalau seperti itu, tetap saya sanggupi dan mereka juga menyukai dengan hasil buatan saya,” kata Jumrah saat ditemui dikediamannya.

Jumrah menceritakan, kemampuan ia mengembangkan hasil olahan rotan menjadi berbagai macam kerajinan itu, tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten HSU melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UKM dan pihak PT Adaro Indonesia. Melalui pihak tersebut dalam pemberdayaan masyarakat, Juhrah berkesempatan mengikuti berbagai macam pelatihan pengembangan pembuatan kerajinan rotan, baik didalam daerah hingga keluar Provinsi.

“Dari hasil mengikuti pelatihan itu, seperti ke Banjarbaru, Banjarmasin hingga Yogyakarta saya berkembang, dengan mampu membuat berbagai olahan kerajinan tadi. Terutama kerajinan yang memang saat ini diminati oleh para pembeli dari toko-toko ataupun pasaran, seperti wadah atau keranjang buah,” imbuhnya.

Selain mengikuti pelatihan tadi, kerajinan rotan milik Juhrah juga diikut sertakan ke berbagai pameran kerajinan dan event-event lainnya oleh pihak pemerintah daerah dan Adaro. Baik tingkat Provinsi hingga tingkat Nasional.

Dari situ Juhrah mengakui, permintaan akan kerajinan yang awal mulanya kurang dikenal semakin bertambah peminat dan pembelinya. Bahkan saat ini, pembelinya bukan hanya dalam daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) tetapi mencapai Kaltim dan Kalteng.

Namun ingatnya lagi, semua yang dicapai saat ini tidak didapat dengan mudah. Awalnya, Juhrah hanya memasarkan barangnya di pasar kerajinan Kota Amuntai setiap hari Kamis. Pasang surut berdagangpun ia rasakan. Hasil dari penjualan kerajinan rotan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap minggu.

“Kadang laku terjual dan terkadang juga sepi pembeli. Bahkan sempat ada permintaan barang dengan jumlah besar. Namun, tidak saya terima karena terkendala modal awal untuk membeli bahan sembako. Memang sempat bingung harus bagaimana lagi, pikir saya yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) ini, sehingga tetap menekuni usaha ini,” ceritanya.

Terkait akan modal, Juhrah enggan meminjam modal ke pihak pinjaman terutama yang berbunga. Lantaran ia khawatir tidak sanggup membayarkan iuran pinjaman.

Namun pada tahun 2007 lalu, Juhrah menerima bantuan program Corporate Social Responsibilty (CSR) dari PT Adaro Indonesia berupa dana hibah.

“Tentunya saya ya, sangat senang karena mendapatkan bantuan tersebut. Dari CSR Adaro itu, saya gunakan untuk menambah pembelian peralatan pekerjaan dan bahan baku rotan tadi. Berselang waktu, di tahun 2019 ini tadi, kembali lagi saya mendapatkan bantuan CSR dari Adaro. Dari tahun ketahun sejak awal menerima CSR tersebut hasil produksi kerajinan semakin meningkat, karena dapat menerima sejumlah pesanan toko dengan jumlah yang lumayan banyak. Dulu sekitar 20-30 kodi (1 kodi = 20 buah) namun sekarang bisa mencapai 100 hingga 150 kodi,” katanya.

Banyaknya pesanan, Juhrah juga menambah pegawai guna membantu dirinya membuat kerajinan dari rotan tadi. Sehingga saat ini, ada 5 orang dari tetangga sekitar yang turut membantu Juhrah dan dirinya tidak segan membagi ilmu yang selama ini ia peroleh. Juhrah berprinsip, dengan membantu orang lain usaha yang dijalakan akan lancar dan berkah.

Kini dalam 1 bulan, Juhrah mampu mengahasilkan sekitar puluhan juta rupah dari usahanya dibidang kerajinan rotan tersebut. Bahkan Juhrah tidak lagi menjual kerajinan buatannya ke pasar, kini dirinya menerima pesanan secara langsung oleh toko dan pembeli lainnya.

Bantuan CSR untuk ibu Juhrah bukan hanya asal pilih. Namun pihak CSR Adaro sendiri telah memetakan kondisi para pengrajin di Desa Palimabangan Sari, “Ibu Juhrah layak dibantu melalu dana CSR. Membuat kerajinan dari rotan memang menjadi usaha tulang punggung keluarganya atau usaha utama. Sehingga kita turut dukung upaya perkembangan pemkab HSU dalam hal perindustrian dengan berikan bantuan tadi, ” terang Lalu dari CSR PT Adaro.

Saat ini, berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UKM Kabupaten HSU terdapat kurang lebih 15 ribu Industri Mikro Kecil Menengah (IMKM). Hal tersebut di ungkapkan, Yani Kabid Industri di Disperdindagkop dan UKM HSU.

Baca juga=Pemkab HSU terima Bantuan Dua Mobil Ambulan

“Dalam mengembangkan semua IMKM pemerintah bersinergi dengan bantuan CSR Adaro. Sehingga sangat membantu IMKM untuk pengembangan usahanya baik permodalan maupun sarana serta SDM IMKM,” pungkasnya.

Penulis: adiyat
Editor: wandi
Penanggung jawab: SA Lingga

 

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android  kami di Play Store

Aplikasi Kalselpos.com