Dari persidangan Kasus Pembunuhan di PN Marabahan

oleh -739 views
KASUS PENGANIAYAAN - Andri Ariyanto SH MH, penasihat hukum terdakwa kasus penganiayaan yang terjadi pada 1 Mei 2019, dan foto suasana persidangan yang digelar PN Marabahan, Selasa (13/8) lalu.(Muliadi)

Kematian seorang Terdakwa jadi ‘Misteri’

Pengadilan Negeri (PN) Marabahan, Selasa (13/8) lalu, kembali menggelar sidang lanjutan kasus pembunuhan yang terjadi pada 1 Mei 2019, di Jembatan Barito atau di Jembatan Pulau Bakut, yang dilakukan oleh Bahar (20), Budi (28), Tarmiji (25) dan Hendri alias Codet terhadap korban Solihin (25), warga Anjir, Kabupaten Barito Kuala (Batola).

—————————

MARABAHAN, K.Pos – Dalam persidangan tersebut, terdakwa yang terlihat hanya ada tiga orang, yakni Bahar, Budi dan Tarmiji. Sedangkan terdakwa atas nama Hendri alias Codet, dinyatakan meninggal dunia, usai ditangkap oleh jajaran Polres Batola dan Polsek Berangas.

Sebelum persidangan digelar, pihak keluarga Codet melalui penasihat hukumnya, Andri Ariyanto SH MH  sempat mengungkapkan, berdasarkan sidang pada tanggal 7 Mei 2019 lalu, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari dua anggota Polres setempat, menerangkan bahwa empat tersangka pada saat ditangkap di Desa Sungai Puting, Kecamatan Candi Laras Utara, Kabupaten Tapin, terlihat sehat.

Baca juga=TK Pembina Marabahan Gelar KegiatanPerpisahan

Kemudian kedua saksi ikut melakukan penangkapan terhadap tersangka menjelaskan, pihaknya setelah melakukan penangkapan terhadap ke empat tersangka bersama anggota lainnya, menyerahkan tersangka ke Polsek Berangas, juga dalam keadaan sehat.

Andri Ariyanto, penasihat hukum sekaligus kuasa hukum pihak keluarga mengungkapkan, terkait meninggalnya salah satu terdakwa bernama Hendri alias Codet, menduga ada kematian tidak wajar atas kliennya tersebut.

“Kami ingin mengungkap fakta sebenarnya di persidangan terkait kematian salah satu terdakwa bernama Hendri, yang masih ’misteri’ dan diduga tidak wajar,” ungkap Andri Ariyanto, kepada Kalsel Pos, sebelum persidangan digelar di PN Marabahan, Selasa lalu.

Disampaikannya, pihak keluarga masih teka – teki terkait penyebab kematian Hendri. Karena pihak keluarga, kala itu mengaku tidak diperkenankan memandikan jenasah Hendri. Tentu dalam hal ini, harus ada yang bertanggungjawab, hingga pihak keluarga ingin melakukan upaya hukum, dengan mengungkapkannya dalam persidangan.

“Tugas Saya selaku kuasa hukum terdakwa dan sekaligus mewakili keluarga, adalah ingin mengungkap fakta tentang kematian Hendri alias Codet dalam persidangan ini,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, kasus penganiayaan yang menyebabkan korban Solihin (25) tewas usai dirawat di rumah sakit, berawal perkelahian di Jembatan Barito, pada 1 Mei 2019 sekitar pukul 03.00 Wita. Usai kasus penganiaya oleh tiga pelaku dan satu pelaku lainnya turut membantu membawa sepada motor korban, yang kemudian melarikan diri ke Sungai Puting, Kabupaten Tapin, yang kemudian sekitar pukul 16.00 Wita, berhasil diamankan petugas gabungan Polres Batola.

Berdasarkan persidangan tanggal 7 Mei 2019 di PN Marabahan, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, dua anggota Polres yang hadir, menerangkan bahwa ke empat tersangka pelaku masing Bahar, Budi, Tarmiji serta Hendri alias Codet, pada saat ditangkap sehat.

Lantas kemudian, saksi menerangkan bersama tujuh anggota Polres Batola lainnya, langsung menyerahkan para tersangka ke Polsek Berangas, juga dalam keadaan sehat.

Ke esokan harinya, saksi mengetahui salah satu tersangka, yakni Hendri alias Codet dilaporkan meninggal, tapi kedua saksi Polri ini mengaku, tidak mengetahui persis kenapa tersangka itu meninggal dunia.

Baca juga=TK Pembina Marabahan Gelar KegiatanPerpisahan

Kasus ini sendiri disidangkan oleh tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Batola, Raditya Wisnu Aji SH LL.M dan Muhamad Ridwan SH. Sementara, majelis hakim diketuai Zainul Hakim SH MH.

Penulis: Muliadi
Penanggung jawab: SA Lingga

 

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android  kami di Play Store

Aplikasi Kalselpos.com