Perlu People Re-Oriented hadapi Persaingan Minyak Nabati Global

oleh -155 views
Dr Fransiscus X Supiarso

BANJARMASIN, Kalselpos.com – Tekanan Eropa terhadap industri kelapa sawit Indonesia sangat berdampak pada petani rakyat secara psikologis. Petani di lapangan mempersepsikan tekanan Eropa terhadap kelapa sawit di Indonesia sebagai bentuk diskriminasi kepada masyarakat pedesaan yang berusaha untuk survive mempertahankan mata pencahariannya.

Baca juga=Golden Banjarmasin Juarai Basket “Three On Three” HUT Bhayangkara ke 73

“Perlu pendekatan yang lebih people re-oriented dalam mengelola industri kelapa sawit kita,” kata pemerhati sosial ekonomi Dr. Fransiscus X. Supiarso, disela – sela kegiatan mempertahankan disertasinya di Universitas Indonesia, Depok, (8/7).

Menurutnya, langkah yang diterapkan Eropa terhadap industri kelapa sawit Indonesia secara akademis makin menyadarkan kita pentingnya definisi kesejahteraan sosial tidak dilihat dari dikotomi kepentingan lingkungan dan ekonomi, melainkan juga ke aspek humanisme-nya. Keseimbangan ketiga aspek harus diperhatikan.

“Apalagi, persaingan minyak nabati di pasar global, selalu berdampak kepada petani kita,” tambahnya

Oleh karenanya, sambung doktor bidang Kesejahteraan Sosial ini, untuk analisis morfogenetik pemberdayaan dan kesejahteraan pekebun plasma di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Dimana untuk hasil penelitiannya bahwa pola kemitraan petani merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk desa setempat artinya keberhasilan kemitraan jangan dilihat dari meningkatnya pendapatan ekonomi tetapi harus dapat dilihat dari tiga karakteristik. Pertama, kemitraan harus diukur dari sosial problems dapat dikelola masyarakat. Kedua, sejauh mana kemitraan mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi sosial needs dan ketiga sejauh mana kemitraan membuka kesempataan untuk peningkataan lebih lanjut.

” Yang penting bagaimana pekebun plasma ini bisa sejahtera, ditengah persaingan minyak global nabati,” harapnya.

Lanjut Fransiscus, dari penelitian yang ia lakukan, bahawa organisasi petani seperti koperasi memainkan peran penting dalam menciptakan kesejahteraan petani.

“Tanpa ada koperasi maka tidak ada interaksi pekebun yang menjadi syarat untuk melahirkan kepentingan bersama,” bebernya

Dari kebijakan kemitraan mulai dari undang-undang hingga peraturan pemerintah disusun oleh pemerintah pusat berdasarkan asumsi umum l, sementara pelaksanaanya di lapangan akan menemui keadaan yang khusus dan berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain.

Baca juga=Golden Banjarmasin Juarai Basket “Three On Three” HUT Bhayangkara ke 73

“Oleh sebab itu jalan keluarnya juga harus khusus dan disusun bersama antara perusahaan dan koperasi sebagai wadah interaksi agar tercapai tiga karakteristik definisi kesejahteraan sosial,” tukasnya.

Penulis : Sidik Alfonso
Editor : Aspihan Zain
Penanggungjawab : SA Lingga

 

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android  kami di Play Store

Aplikasi Kalselpos.com