Kesederhanaan Sang Rasul

Randu

Yang jarang disinggung dari kehidupan pribadi Rasulullah –karena mengingatnya mungkin membuat kita malu–adalah komitmen beliau untuk tetap hidup miskin. Rasulullah jelas tidak ingin kaya. Segala hal dari aspek kehidupan material Sang Nabi–benar-benar segala hal–disetting untuk tetap selaras dengan langgam kehidupan kaum misqueen.

Beliau tinggal di rumah beralas tanah, seukuran kira-kira 4×8 meter. Tak ada perabotan di rumah beliau. Pada kenyataannya, hanya ada sedikit barang yang dimiliki Rasulullah semasa hidup. “Jika Anda mengambil seluruh barang-barang yang beliau miliki,” kata Syekh Hamza Yusuf suatu ketika, “Anda bahkan bisa memuat semuanya kedalam satu kotak kecil.”

Rasululah tidak punya banyak benda, tetapi beliau menyayangi apa-apa yang beliau punya. Beliau menjahit sepatu sendiri dengan telaten, beliau bahkan menamai semua barang. Ada nama untuk sisir, ada nama untuk turban. Beliau melakukannya sebagai rasa penghargaan dan terima kasih.

Beliau membatasi diri dari memiliki yang lain. Ketika istri beliau meletakkan sekadar bantal di tempat tidur beliau, Sang Nabi dengan cepat meminta mengembalikan bantal itu. Yang tidak dipahami beberapa sahabat kala itu, Nabi memang sengaja meletakkan standar hidupnya tetap rendah, agar mereka bisa merasa sedikit lebih tinggi.

Dia membuat orang-orang miskin merasa ditemani. Mereka bangga karena Sang Nabi adalah “wakil” dari kalangan mereka. Beliau tidak suka kongkow-kongkow dan hang-out dengan orang-orang kaya. Kepada orang kaya yang mengikutinya, Nabi memberi motivasi agar mereka bisa memberi kepada orang-orang miskin–dengan tetap menjaga kehormatan yang diberi.

Dengan cara itulah, Sang Nabi tidak menyulut pertentangan kelas sosial. Beliau tidak membuat orang kaya jijik kepada orang miskin, dan tidak membuat orang miskin membenci orang kaya. Beliau tidak mengeksploitasi kemiskinan dan tidak silau dengan kekayaan. Alih-alih, beliau memberikan semua orang perspektif yang lebih jauh dari hanya sekadar miskin dan kaya– berakhlak dan bertakwa.

 

Penulis : Randu Alamsyah

Pos terkait