Ulama dan Kekuasaan

oleh -402 views
Randu Alamsyah

Setiap kali saya memosting tentang ulama atau organisasi ulama yang mendukung pemerintah, selalu tersisa pertanyaan: Lalu bagaimana dengan ulama di seberang garis? Mengapa hanya ulama yang mendukung pemerintah yang dipermasalahkan, mengapa ulama yang beroposisi dengan pemerintah tidak? Bukankah sama-sama mereka terlibat dalam politik praktis?

Saya pernah menulisnya argumennya: ya, karena ulama-ulama ini adalah oposisi moral –bukan politik– bagi penguasa. Ini adalah peran yang sejak awal sudah diendors oleh Islam. Islam memiliki perspektif yang unik karena secara default telah berposisi “sangka buruk” dengan penguasa. Di luar konteks apapun, Islam sudah mewanti-wanti agar ulama tidak datang ke tempat penguasa. Tidak memuji mereka. Tidak bergaul dengan mereka. Seburuk -buruk ulama adalah mereka yang mengetuk pintu penguasa, dll. Tentu saja,

Ada sesuatu yang patut diamati dari itu. Kenapa Islam tidak bersikap ramah kepada penguasa? Kenapa mereka menjauhi penguasa seperti domba menjauhi singa? Kenapa ulama-ulama dulu tidak mendekat kepada sultan-sultan untuk meminta jabatan atau proyek atau dana organisasi? Kenapa jika kita pelajari, merekatidak punya satu posisi atau bahkan pandang politik tertentu seumur hidup mereka? Jika pun ada, itu adalah posisi moral –yang karena politik begitu mencakup semuanya–maka persinggungan tak bisa terhindarkan lagi.

Syahdan, suatu hari Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur berkata kepada menterinya, “Aku sedang membutuhkan seorang hakim yang bisa menegakkan keadilan di negara kita ini, dengan kualifikasi dia tidak takut kepada siapapun dalam menegakkan kebenaran, paling memahami Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Menurutmu siapa yang layak menduduki posisi ini?”

Sang menteri menjawab hanya ada satu orang ulama yang cocok: Abu Hanifah An-Nu’man atau Imam Hanafi.

“Apa mungkin dia menolak jika kita yang memintanya?” tanya Khalifah lagi.

Sang menteri tidak yakin. “Sejauh yang kami tahu, dia tidak pernah tunduk kepada permintaan siapapun, tampaknya dia tidak suka menduduki posisi sebagai hakim, maka utuslah seseorang utusan mudah-mudahan hatinya terbuka, dan menerima tawaran ini.”

Singkat kata, Abu Hanifah menolak. Tapi Khalifah tidak menyerah begitu saja, ia bersumpah Abu Hanifah akan menerima jabatan sebagai hakim yang ditawarkan, akan tetapi Abu Hanifah tetap menolaknya, seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku tak pantas untuk menduduki jabatan hakim.”

Khalifah malah menjawab, “Engkau berbohong!”

Abu Hanifah menjawab, “Sekiranya Anda telah menghukumi saya sebagai pembohong, maka sesungguhnya para pembohong tak layak menjadi hakim, dan sebaiknya Anda jangan mengangkat rakyat Anda yang tidak memenuhi kualifikasi untuk menduduki jabatan yang strategis ini. Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, dan jangan Anda delegasikan amanah kecuali kepada mereka yang takut kepada Allah, jika saya tidak mendapat jaminan keridhaan, bagaimana saya akan mendapat jaminan terhindar dari murka?”

Khalifah lalu memerintahkan seorang algojo mencambuk Abu Hanifah dan menjebloskannya ke penjara.

Selang beberapa hari, khalifah mendapat teguran dari seorang kerabatnya, agar memakai cara yang lebih lunak untuk membujuk Abu Hanifah. Khalifah setuju, dia segera memerintahkan untuk membayar 30.000 dirham (sekitar Rp.2,1 miliar) kepada Abu Hanifah sebagai ganti atas yang telah dideritanya, membebaskan, dan mengembalikan sang ulama ke rumahnya.

Ternyata setelah harta tersebut diberikan, Abu hanifah tetap menolaknya. Maka khalifah memerintahkan untuk menjebloskan kembali ke penjara. Hanya saja para menteri mengusulkan bahwa Abu Hanifah segera dibebaskan dan cukup diberi dengan penjara rumah, serta melarangnya untuk duduk bersama masyarakat atau keluar dari rumah. Selang beberapa hari setelah mendapatkan tahanan rumah, Abu Hanofah mulai sakit-sakitan.Semakin lama semakin parah. Akhirnya ia wafat pada usia 68 tahun.

Apakah jabatan yang diberikan sultan itu buruk? Apakah “hakim yang bisa menegakkan keadilan di negara kita ini, dengan kualifikasi dia tidak takut kepada siapapun dalam menegakkan kebenaran, paling memahami Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah” itu terdengar buruk? Apakah salah secara politik? Apakah Abu Hanifah tidak punya cita-cita untuk mewujudkan keadilan dalam negara –bahkan jika itu berdasar agama?

Pilihan yang diambilnya selalu patut untuk kita renungi.

Penulis: Randu Alamsyah
Penanggungjawab : SA Lingga

 

Pembaca setia kalselpos.com download aplikasi versi android kami di Play Store 
Aplikasi Kalselpos.com

Slider

Facebook Comments